Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?
Submitted by anis_wahid on Thu, 10/31/2019 - 20:39 /

NAMA           : SITI KHOIRUNNISA

NIM                : 836267526

TUGAS 2 PERSFEKTIF PENDIDIKAN SD PDGK 4104

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Jadi problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan Indonesia, yaitu:

1. Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

2. Masalah mutu pendidikan

Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

3. Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

4. Masalah Relevansi Pendidikan

Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia, yaitu:

    1. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

  • Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  • SD kecil pada daerah terpencil
  • Sistem guru kunjung
  • SMP terbuka
  • Kejar paket A dan b
  • Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

      2. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  1. Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.
  2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  3. Penyempurnaaan kurikulum
  4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  6. Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  7. Kegiatan pengendalian mutu.

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

1. Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

2. Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. 

3. Laju Pertumbuhan Penduduk.

4. Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.

                    

Submitted by Anita S Firdaus on Thu, 10/31/2019 - 20:59 /

1.       Pengertian problematika pendidikan

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

 

2.       Masalah pokok pendidikan yang ada di Indonesia

 

Terdapat 4 masalah pokok pendidikan yang ada di Indonesia, diantaranya

- Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana pendidikan sistem dapat menyediakan kesempatan yang seluas - luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak bisa ditampung didalam sistem atau lembaga pendidikan.

 

- Masalah mutu pendidikan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran rersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja

 

- Masalah Efisiensi dalam  penggunaan Prasarana dan Sarana adalah Penggunaan prasarana dan sarana pendidikan yang tidak efisien bisa terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering juga karena perubahan kurikulum.

 

- Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana system pendidikan dapat menghasilkan iuran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah – masalah yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3.       Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah

 

- Mengatasi masalah pemerataan pendidikan

·         Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar.

·         Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore

·         Cara inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oreh masyarakat, orang tua, dan guru) atau Inpacts system (Instructionar Management by parent, community and, teacher). sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

ü  SD kecil pada daerah terpencil.

ü  Sistem Guru Kunjung.

ü  SMP Terbuka (ISOSA _ In School Out off School Approach),

ü  Kejar Paket A dan B.

ü  Belajar Jarak Jauh, seperti Universitas Terbuka.

 

- Mengatasi masalah mutu pendidikan

·         Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.

·         Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut, misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan – kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain – lain.

·         Penyempurnaan kurikurum, misalnya dengan memberi materi yang lebih esensial dan mengandung ,muatan lokal, metode yang menantang dan mengairahkan berajar, dan melaksanakan evaluasi yang beracuan, PAP.

·         Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar.

·         Penyempumaan sarana berajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium.

·         Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.

·         Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan – kegiatan :

ü  Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan.

ü  Supervisi dan Monitoring pendidikan dan penilik dan pengawas.

ü  Sistem ujian nasional / Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru / UMPTN.

ü  Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga.

 

4.       Faktor yang menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan

·         Perkembangan IPTEK dan Seni

ü  Perkembangan IPTEK

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek itu, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menumbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan barang-barang baru, sistem pelayanan baru, sampai kepada bekembangnya gaya hidup baru.

 

ü  Perkembangan Seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan domain efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

 

·         Laju Pertumbuhan Penduduk

ü  Pertambahan penduduk

Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselanggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

 

ü  Penyebaran penduduk.

Penyebaran penduduk di seluruh pelosok tanah air tidak merata.Sehingga menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan.

 

·         Aspirasi masyarakat

Belakangan ini aspirasi masyarakat semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ‘reformasi’. Aspirasi tersebut menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

·         Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya disebabkan beberapa hal misalnya letak geografis yang terpencil dan sulit dijangkau, penolakan masyarakat terhadap unsur budaya baru karena dikhawatirkan akan mengikis kebudayaan lama, dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Submitted by dizah_anwar on Thu, 10/31/2019 - 21:15 /

1)    Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan. Persoalan-persoalan pendidikan tersebut menurut Burlian Somad secara garis besar meliputi hal sebagai berikut : Adanya ketidak jelasan tujuan pendidikan, ketidak serasian kurikulum, ketiadaan tenaga pendidik yang tepat dan cakap, adanya pengukuran yang salah ukur serta terjadi kekaburan terhadap landasan tingkat-tingkat pendidikan.

2)    Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

a.    Ketidak Jelasan Tujuan Pendidikan

Dalam undang-undang nomor 4 tahun l950, telah di sebutkan secara jelas tentang tujuan pendidikan dan pengajaran yang pada intinya, ialah untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air berdasarkan pancasila dan kebudayaan kebangsaan Indonesia dan seterusnya.

Namun dalam kenyataan yang terjadi terhadap tujuan pendidikan yang begitu ideal tersebut belum mampu menghasilakn  manusia-manusia sebagaimana yang dimaksud dalam tumpukan kata-kata dalam rumusan tujuan pendidikan  yang ada, bahkan terjadi sebaliknya , yakni terjadi kemerosotan moral, kehidupan yang kurang demokratis, terjadi kekacauan akibat konflik di masyarakat dan lain lain, hal ini merupakan suatu indikasi bahwa tujuan pendidikan selama ini belum dikatakan berhasil, mungkin disebabkan adanya ketidak jelasan atau kekaburan dalam memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya.

b.    Ketidak Serasian Kurikulum

Kebanyakan kurikulum yang dipergunakan di sekolah-sekolah masih berisi tentang mata pelajaran-mata pelajaran yang beraneka ragam , sejumlah jam-jam pelajaran dan nama-nama buku pegangan untuk setiap mata pelajaran.

Sehingga pengajaran yang berlangsung kebanyakan menanamkan teori-teori pengetahuan melulu, akibatnya para lulusan yang di hasilkan kurang siap pakai bahkan miskin ketrampilan  dan tidak mempunyai kemampuan untuk berproduktifitas di tengah-tengah masyarakatnya, karena muatan kurikulum yang di terima di sekolah-sekolah memang tidak di persiapkan untuk menjadikan lulusan dari peserta didik untuk dapat mandiri dimasyarakatnya.

c.    Ketiadaan Tenaga Pendidik Yang Tepat dan Cakap.

Masih banyak di jumpainya suatu slogan yang berbunyi “tak ada rotan akarpun jadi” , menunjukkan suatu gambaran betapa rendahnya kualitas tenaga kependidikan yang ada, karena harus di pegang oleh tenaga-tenaga pendidikan yang bukan dari ahlinya. Pada hal menugaskan dan mendudukkan seseorang sebagai pendidik yang tidak di bina atau dibekalinya ilmu kependidikan dan yang bukan dalam bidangnya, sangatlah menimbulkan kerugian yang sangat besar, diantaranya terjadinya pemborosan biaya, terjadinya pemerosotan mutu hasil pendidikan, lebih jauh lagi akan mempersiapkan warga masyarakat di masa mendatang dengan pribadi-pribadi yang  memiliki kualitas rendah sehingga tak mampu bersaing dalam kehidupan yang serba problematis.

d.    Adanya Pengukuran Yang Salah Ukur.

  Dalam masalah pengukuran terhadap hasil belajar yang sering di sebut dengan istilah ujian atau evaluasi, ternyata dalam prakteknya terjadi ketidak serasian antara angka-angka yang di berikan kepada anak didik sering tidak obyektif , di mana pencantuman angka-angka nilai yang begitu tinggi sama sekali tidak sepadan dengan mutu riil pemegang angka-angka nilai itu. Ketika mereka di terjunkan ke masyarakat, tidak mampu berbuat apa-apa yang setaraf dengan tingkat pendidikannya. Jelasnya tanpa adanya pengukuran yang obyektif dapat di pastikan tidak akan pernah terwujud tujuan pendidikan yang sebenarnya.

e.    Adanya Kekaburan Landasan Tingkat-Tingkat Pendidikan.

 Selama bertahun-tahun nampaknya tidak ada yang meninjau kembali tentang penjenjangan tingkat pendidikan , mulai dari tingkat dasar hingga ke tingkat perguruan tinggi.Apakah hasil penjenjangan selama ini di dasarkan atas tingkat perkembangan pisik dan psikis anak didik ataukah sekedar terjemahan saja dari tingkat-tingkat pendidikan yang dipakai umum di seluruh dunia, kalau itu masalahnya , kondisi anak didik kita jelas jauh berbeda dengan kondisi negara – negara lain didunia , sehingga mustahil apabila harus diadakan persamaan. Ataukah di dasarkan atas hasil penelitian empiris, apakah benar bahwa untuk menjadi seorang yang bercorak diri bernilai tinggi itu cukup memerlukan pembinaan selama masa waktu 17 / 24 tahun. Inilah permasalahan-permasalahan di sekitar pendidikan kita yang selama ini belum diketemukan jawabannya.

3)    Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a.    Dalam menghadapi masalah ketidak jelasan tujuan pendidikan selama ini, perlu segera di rumuskan secara jelas variabel-variabel yang harus dicapai untuk masing-masing jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dalam arti penerapan hasil secara realistis yang dapat di rasakan dampaknya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak dalam wacana pencapaian tujuan secara idialistis.

b.    Untuk mengatasi ketidak serasian kurikulum , perlu di hilangkan kesan adanya pengindentikan sekolah hanyalah menanamkan teori-teori ilmu melulu, perlu menghilangkan kesan bahwa pendidikan itu identik dengan pengajaran, perlu meminimalisir kekeliruan langkah dalam pembuatan kurikulum yang kurang berorientasi terhadap kondisi riil pemenuhan kebutuhan masyarakat.

c.    Demikian pula dalam mengatasi ketiadaan tenaga pendidik yang berkualitas dan yang profesional, perlu merekrut sebanyak-banyaknya tenaga – tenaga dari lulusan lembaga pendidikan dengan keharusan memiliki kecakapan menguasahi ilmu-ilmu yang di perlukan bagi pembuatan standard kualitas minimal, tenaga yang menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan menejement pendidikanyang dapat membawa perubahan ke arah yang lebih maju.

d.    Syarat lainnya yang harus ada pada diri pendidik minimal, memiliki kedewasaan berfikir, kewibawaan, kekuatan kepribadian, memiliki kedudukan sosial-ekonomi yang cukup, kekompakan sesama pendidik dalam satu team. Dan lain sebagainya.

e.    Pengukuran dalam bidang pendidikan sangat menetukan  berkualitas atau tidaknya individu peserta didik, hal itu tergantung bagaimana alat ukur yang di pergunakan. Dalam kenyataannya masih banyak alat ukur yang di buat secara sembarangan tanpa melalui proses standardisasi, sehingga alat ukur tersebut tidak bisa diandalkan , karena tidak valid dan tidak reliabel.Oleh sebab itu perlu membuat alat ukur  yang valid dan reliabel , disertai dengan pemberian nilai-nilai angka seobyektif mungkin tanpa terpengaruh oleh subyektifitas dan rekayasa, hanya dengan cara pengukuran seperti inilah yang dapat menjamin mutu hasil pendidikan yang diharapkan.

Pada akhirnya , untuk mencari solusi terhadap penjenjangan pendidikan , haruslah di dasarkan pada apa saja yang harus di bentukkan pada anak didik , perlu melakukan perhitungan secara seksana dengan melakukan experimen yang matang untuk menemukan fakta-fakta kebenaran baru dalam rangka meninjau kembali penjenjangan tingkat pendidikan yang selama ini di pedoman.

4)    Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya permasalahan pendidikan :

1)    Pengaruh IPTEK

a.    IP (Ilmu Pengetahuan)

Berkembangnya IP (Science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.    TEK (Teknologi)

Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru.Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sistem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi.

 

c.    S (Seni)

Aktivitas kesenian mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Secara khusus kesenian dapat mengembangkan domain / aspek afektif dari peserta didik.Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini, sudah barang tentu akan menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana serta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

2)    Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka ratio guru siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan munculnya masalah lain seperti masalah mutu.

Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang).

 

3)    Aspirasi Masyarakat

Kecendrungan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan status sosial mereka.Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasiswa baru, ratio guru-ssiwa, waktu belajar, permasalahan akan terus berkembang karena saling kait seperti yang telah dikemukakan pada Bab terdahulu.

 

4)    Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Masyarakat kita yang umumnya berada didaerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan/ketinggalannya bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khususnya bagaimana sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

Submitted by anis_wahid on Thu, 10/31/2019 - 21:37 /

NAMA           : SITI KHOIRUNNISA

NIM                : 836267526

TUGAS 2 PERSFEKTIF PENDIDIKAN SD PDGK 4104

1.             Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Jadi problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2.             Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

a.         Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

b.        Masalah mutu pendidikan

Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

c.         Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

d.        Masalah Relevansi Pendidikan

   Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3.             Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

   Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

1)        Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

o    Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

o    Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

oSD kecil pada daerah terpencil

oSistem guru kunjung

oSMP terbuka

o    Kejar paket A dan b

o    Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

2)             Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a.       Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b.      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c.       Penyempurnaaan kurikulum

d.      Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e.       Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f.       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g.      Kegiatan pengendalian mutu.

 

 

4.             Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

a.         Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

b.        Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. 

c.         Laju Pertumbuhan Penduduk.

d.     Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.

Submitted by biyaku on Thu, 10/31/2019 - 22:15 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

a. Kualitas pendidikan, misalnya mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan, alat bantu proses belajar mengajar belum memadai, dan tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan

b. Relevansi pendidikann merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat. Misalnya, lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai, tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

c. Elitisme adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi. Misalnya, kepincangan pemberian subsidin dan mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

d. Manajemen pendidikan. Misalnya, masalah pengelolaan sekolah dan lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

e. Pemerataan pendidikan. Misalnya, biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

4.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.
Submitted by kertonatan on Thu, 10/31/2019 - 23:53 /

** Problematikapendidikan adalah segala permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendidikan

 

** Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

1. Kurangnya SDM mengajar

2. Kurangnya fasilitas pendidikan

3. Kurangnya kesejahteraan guru honorer

4. Kurangnya semangat dari para peserta didik dalam menimba ilmu

5. Pengelolaan dari lembaga pendidikan yang masih kurang

 

*** Solusi yang tepat untuk mengatasi

1. Pemberian Bea Siswa bagi siswa yang berprestasi

2. Penambahan anggaran untuk kesejahteraan para guru

3. Penambahan anggaran untuk pengadaan berbagai fasilitas yang diperlukan dalam pendidikan

 

***Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

1. Kurangnya perhatian dari pihak yang terkait

2. Kurangnya perhatian dari orang tua terhadap perkembangan anak

3. Perkembangan Iptek

4. Laju Pertumbuhan penduduk

5. Faktor Ekonomi

6. Keadaan Geografis

 

Submitted by Rosyi on Fri, 11/01/2019 - 06:29 /

In reply to by ihsanudin277@g…

Salah satu problematika pendidikan adalah kurikulum yang selalu berubah tidak konsisten dan tidak merata setiap sekolah, pada kurikulum ktsp membebaskan sekolah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan budaya lokal dan visi misi sekolah. 

Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang maksimal.

Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya . Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Perubahan kurikulum yang terjadi di indonesia dewasa ini salah satu diantaranya adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu tidak tetap. Selain itu, perubahan tersebut juga dinilainya dipengaruhi oleh kebutuhan manusia yang selalu berubah juga pengaruh dari luar, dimana secara menyeluruh kurikulum itu tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sehingga dengan adanya perubahan kurikulum itu, pada gilirannya berdampak pada kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum pendidikan harus berubah tapi diiringi juga dengan perubahan dari seluruh masyarakat pendidikan di Indonesia yang harus mengikuti perubahan tersebut, karena kurikulum itu bersifat dinamis bukan stasis, kalau kurikulum bersifat statis maka itulah yang merupakan kurikulum yang tidak baik.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba membahas permasalahan yang dihadapi dalam mencari alternatif jawaban ataupun solusi yang bisa dipecahkan bersama sehingga dapat terwujud pemahaman mengenai perubahan kurikulum.

Perubahan Kurikulum

Menurut soetopo dan soemanto (1991: 38), pengertian perubahan kurikulum agak sukar untuk dirumuskan dalam suatu devinisi. Suatu kurikulum disebut mengalami perubahan bila terdapat adanya perbedaan dalam satu atau lebih komponen kurikulum antara dua periode tertentu, yang disebabkan oleh adanya usaha yang disengaja.

Sedangkan menurut nasution (2009:252), perubahan kurikulum mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan itu . Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah manusia, yaitu guru, pembina pendidikan, dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan. Itu sebab perubahan kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial, suatu social change. Perubahan kurikulum juga disebut pembaharuan atau inovasi kurikulum.

Mengenai makna perubahan kurikulum, bila kita bicara tentang perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dapat juga dilihat sebagai produk yaitu apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dan sebagai proses untuk mencapainya. Keduanya saling berkaitan. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Selanjutnya kurikulum dapat ditafsirkan sebagai apa yang dalam kenyataan terjadi dengan murid didalam kelas. Kurikulum dalam arti ini tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya dirrencanakan, karena dalam interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian guru.

Kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih terbatas dari pada kurikulum yang riil. Kurikulum yang riil bukan sekedar buku pedoman, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas , ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karya wisata , dan banyak kegiatan lainnya, pendek kata mengenai seluruh kehidupan anak sepanjang bersekolah. Mengubah kurikulum dalam arti yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian lebih pelik , sebab menyangkut banyak variabel. Perubahan kurikulum disini berarti mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru sendiri, murid , kepala sekolah, penilik sekolah juga orang tua dan masyarakat umumnya yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah. Dalam hal ini dikatakan, bahwa perubahan kurikulum adalah perubahan sosial, curriculum change is social change.

perubahan kurikulum memang diperlukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan nasional masyarakat masa depan.

Submitted by Liyah17 on Fri, 11/01/2019 - 06:49 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

JAWABAN :

1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah-masalah pokok pendidikan yang di hadapi di indonesia : 

a. Masalah Pemerataan Pendidikan, 

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

 

b. Masalah Mutu Pendidikan

 

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

 

c. Masalah Efisiensi Pendidikan

 

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

 

Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.

 

d. Masalah Relevansi Pendidikan

 

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

 

 

3. Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

   Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

 

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka. 

 

  Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

 

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu. 

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

  1.  Perkembangan Iptek Dan Seni

1. Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

1. Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. 

2.      Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1. Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

1. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru. 

3.      Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. 

4.      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a)      Masyarakat daerah terpencil.

b)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan. 

Submitted by Liyah17 on Fri, 11/01/2019 - 07:01 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

JAWABAN :

1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah-masalah pokok pendidikan yang di hadapi di indonesia : 

a. Masalah Pemerataan Pendidikan, 

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

 

b. Masalah Mutu Pendidikan

 

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

 

c. Masalah Efisiensi Pendidikan

 

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

 

Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.

 

d. Masalah Relevansi Pendidikan

 

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

 

 

3. Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

   Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

 

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka. 

 

  Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

 

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu. 

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

  1.  Perkembangan Iptek Dan Seni

1. Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

1. Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. 

2.      Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1. Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

1. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru. 

3.      Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. 

4.      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a)      Masyarakat daerah terpencil.

b)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan. 

Submitted by 4hm4dt4lk15 on Fri, 11/01/2019 - 08:26 /
  1. Problematika adalah masalah yang dihadapi. Sehingga Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.
  2. JAWABAN NO 2 DAN 3

Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia dan cara mengatasinya

adalah:

  1. Kualitas pendidikan

Misalnya:   

  1. Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  2. Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  3. Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

 

Untuk mengatasinya:    

  1. Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  2. Meningkatkan efisiensi pendidikan.

 

  1. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:  

  1. Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  2. Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

 

Untuk mengatasinya:    

  1. Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  2. Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

 

 

REPORT THIS AD

 

  1. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:  

  1. Kepincangan pemberian subsidi.
  2. Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

 

Untuk mengatasinya:  

  1. Subsidi silang.
  2. Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 

  1. Manajemen pendidikan

Misalnya:   

  1. Masalah pengelolaan sekolah.
  2. Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

 

Untuk mengatasinya:   Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

 

  1. Pemerataan pendidikan

Misalnya:   

Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

Untuk mengatasinya:    

  1. Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  2. Menekankan pentingnya sekolah.

 

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan yaitu:

  1. Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  2. Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  3. Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  4. Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  5. Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  6. Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.
Submitted by Rizal Fatur Rozi on Fri, 11/01/2019 - 09:11 /

In reply to by @uminur

1. Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus. 

2. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan

3. Solusi Kualitas pendidikan

Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

Meningkatkan efisiensi pendidikan.

Solusi Relevansi pendidikan​​​​​​​

Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Solusi Elitisme

Subsidi silang.

Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

Solusi Manajemen pendidikan

Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

Solusi Pemerataan pendidikan​​​​​​​

Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

Menekankan pentingnya sekolah.

4.

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar.

 

Submitted by 837609378 on Fri, 11/01/2019 - 09:45 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. problematika pendidikan adalah : masalah ang di hadapi dalam suasana dan proses pembelajaran

     dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

 

2. masalah pokok pendidikan di indonesia:

a. kualitas pendidikan : mutu guru yang rendah dan alat bantu proses belajar belum memadai

b. relevansi pendidikan  : lembaga pendidikan tidak dapat mencetak  lulusan yang siap pakai.

c. elitisme : kepincangan pemberian subsidi, mahalnya pendidikan

d. manajemen pendidikan : : masalah pengelolaan sekolah

e. pemerataan pendidikan  : biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah

 

3. solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di indonesia

a. meningkatkan anggaran untk pendidikan 

b. meningkatkan efisiensi pendidikan 

c. membuat kurikulum yang sesuai dengan tuntutan jaman

d. melakukan subsidi silang

e. sistem pendidikan nasional perlu di tata kembali

f. menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun

 

4. faktor yang mempengaruhi perkembangan masalah pendidikan :

a. perkembangan nilai budaya dan seni

b. laju pertumbuhan penduduk

c. aspirasi masyarakat

d. keterbelakangan budaya dan sarana

e. kemajuan ICT

Submitted by sungailala on Fri, 11/01/2019 - 10:29 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. 

Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

3. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.

(1). Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Solusi :
- Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Seperti tertulis dalam pasal 31 UUD 1945 Ayat 4 : “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta .....“
Anggaran pendidikan harusnya lebih ditambah lagi dari anggaran 20% APBN, karena jumlah anggaran 20% dari APBN masih kurang untuk mendanai proses pendidikan di indonesia, masih banyak daerah-daerah pelosok indonesia yang bahkan belum menikmati pendidikan
- Mengawasi Penggunaan Dana Anggaran Pendidikan
Apabila anggaran pendidikan sudah di tetapkan, sudah seharusnya penggunaan dan pendistribusiannya di awasi dengan ketat, agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut, Seperti contoh: pengawasan dana BOS, masih banyak terjadi penyelewengan dana BOS di beberapa sekolah tertentu.


(2). Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Solusi :
-Peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas guru di Indonesia, seperti menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk di daerah terpencil. 
-Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional. 
-Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.
-Selain itu pelatihan penggunaan IT (Informasi teknologi) bagi guru di seluruh Indonesia, karena masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum bisa menggunakan komputer dan internet. Padahal dengan pengetahuan guru menggunakan komputer dan internet, guru diharapkan akan semakin terbantu dengan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran yang menarik dengan audio visualnya.

(3). Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Solusi:
- Dalam hal tunjangan sudah selayaknya guru mendapatkan tunjangan yang manusiawi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya mengingat peranan dari seorang guru yang begitu besar dalam upaya mencerdaskan peserta didik.

(4). Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Solusi:
- Harusnya metode pembelajaran yang hanya mengajarkan hafalan kepada siswa di ubah menjadi metode bersifat “Student center” atau berpusat ke peserta didik, karena pada saat sekarang ini peran guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.
- Disini juga harus ada kerjasama yang bagus antara guru dengan orang tua murid, karena dengan adanya komunikasi yang terjalin antara guru dan orang tua murid akan mempermudah pertukaran informasi untuk menunjang prestasi belajar murid.

(5). Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Solusi:
-Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
-Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.
-Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

(6). Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Solusi:
-Memberi keterampilan khusus untuk peserta didik yang akan mereka butuhkan nantinya di dunia kerja, khusus nya untuk siswa menengah kejuruan.
-Membuka lapangan kerja seluas-luasnya oleh pemerintah, agar tidak banyak lulusan yang menganggur setelah tamat, terutama untuk tamatan kejuruan, karena target lulusan SMK setelah tamat ialah bekerja sesuai program pemerintah.

(7). Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

Solusi:
-Anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pemerintah/ yayasan.
- Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal, agar bisa menumbuhkan motivasi merka untuk lebih giat belajar.

4. Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

            Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011

 

Submitted by sungailala on Fri, 11/01/2019 - 10:53 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

3. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.

(1). Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Solusi :
- Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Seperti tertulis dalam pasal 31 UUD 1945 Ayat 4 : “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta .....“
Anggaran pendidikan harusnya lebih ditambah lagi dari anggaran 20% APBN, karena jumlah anggaran 20% dari APBN masih kurang untuk mendanai proses pendidikan di indonesia, masih banyak daerah-daerah pelosok indonesia yang bahkan belum menikmati pendidikan
- Mengawasi Penggunaan Dana Anggaran Pendidikan
Apabila anggaran pendidikan sudah di tetapkan, sudah seharusnya penggunaan dan pendistribusiannya di awasi dengan ketat, agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut, Seperti contoh: pengawasan dana BOS, masih banyak terjadi penyelewengan dana BOS di beberapa sekolah tertentu.


(2). Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Solusi :
-Peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas guru di Indonesia, seperti menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk di daerah terpencil. 
-Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional. 
-Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.
-Selain itu pelatihan penggunaan IT (Informasi teknologi) bagi guru di seluruh Indonesia, karena masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum bisa menggunakan komputer dan internet. Padahal dengan pengetahuan guru menggunakan komputer dan internet, guru diharapkan akan semakin terbantu dengan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran yang menarik dengan audio visualnya.

(3). Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Solusi:
- Dalam hal tunjangan sudah selayaknya guru mendapatkan tunjangan yang manusiawi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya mengingat peranan dari seorang guru yang begitu besar dalam upaya mencerdaskan peserta didik.

(4). Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Solusi:
- Harusnya metode pembelajaran yang hanya mengajarkan hafalan kepada siswa di ubah menjadi metode bersifat “Student center” atau berpusat ke peserta didik, karena pada saat sekarang ini peran guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.
- Disini juga harus ada kerjasama yang bagus antara guru dengan orang tua murid, karena dengan adanya komunikasi yang terjalin antara guru dan orang tua murid akan mempermudah pertukaran informasi untuk menunjang prestasi belajar murid.

(5). Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Solusi:
-Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
-Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.
-Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

(6). Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Solusi:
-Memberi keterampilan khusus untuk peserta didik yang akan mereka butuhkan nantinya di dunia kerja, khusus nya untuk siswa menengah kejuruan.
-Membuka lapangan kerja seluas-luasnya oleh pemerintah, agar tidak banyak lulusan yang menganggur setelah tamat, terutama untuk tamatan kejuruan, karena target lulusan SMK setelah tamat ialah bekerja sesuai program pemerintah.

(7). Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

Solusi:
-Anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pemerintah/ yayasan.
- Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal, agar bisa menumbuhkan motivasi merka untuk lebih giat belajar.

4. 

Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

 

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

            Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011

 

Submitted by ekoaladi12 on Fri, 11/01/2019 - 11:03 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

3. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.

(1). Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Solusi :
- Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Seperti tertulis dalam pasal 31 UUD 1945 Ayat 4 : “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta .....“
Anggaran pendidikan harusnya lebih ditambah lagi dari anggaran 20% APBN, karena jumlah anggaran 20% dari APBN masih kurang untuk mendanai proses pendidikan di indonesia, masih banyak daerah-daerah pelosok indonesia yang bahkan belum menikmati pendidikan
- Mengawasi Penggunaan Dana Anggaran Pendidikan
Apabila anggaran pendidikan sudah di tetapkan, sudah seharusnya penggunaan dan pendistribusiannya di awasi dengan ketat, agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut, Seperti contoh: pengawasan dana BOS, masih banyak terjadi penyelewengan dana BOS di beberapa sekolah tertentu.


(2). Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Solusi :
-Peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas guru di Indonesia, seperti menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk di daerah terpencil. 
-Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional. 
-Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.
-Selain itu pelatihan penggunaan IT (Informasi teknologi) bagi guru di seluruh Indonesia, karena masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum bisa menggunakan komputer dan internet. Padahal dengan pengetahuan guru menggunakan komputer dan internet, guru diharapkan akan semakin terbantu dengan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran yang menarik dengan audio visualnya.

(3). Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Solusi:
- Dalam hal tunjangan sudah selayaknya guru mendapatkan tunjangan yang manusiawi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya mengingat peranan dari seorang guru yang begitu besar dalam upaya mencerdaskan peserta didik.

(4). Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Solusi:
- Harusnya metode pembelajaran yang hanya mengajarkan hafalan kepada siswa di ubah menjadi metode bersifat “Student center” atau berpusat ke peserta didik, karena pada saat sekarang ini peran guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.
- Disini juga harus ada kerjasama yang bagus antara guru dengan orang tua murid, karena dengan adanya komunikasi yang terjalin antara guru dan orang tua murid akan mempermudah pertukaran informasi untuk menunjang prestasi belajar murid.

(5). Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Solusi:
-Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
-Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.
-Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

(6). Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Solusi:
-Memberi keterampilan khusus untuk peserta didik yang akan mereka butuhkan nantinya di dunia kerja, khusus nya untuk siswa menengah kejuruan.
-Membuka lapangan kerja seluas-luasnya oleh pemerintah, agar tidak banyak lulusan yang menganggur setelah tamat, terutama untuk tamatan kejuruan, karena target lulusan SMK setelah tamat ialah bekerja sesuai program pemerintah.

(7). Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

Solusi:
-Anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pemerintah/ yayasan.
- Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal, agar bisa menumbuhkan motivasi merka untuk lebih giat belajar.

4. 

Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

 

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

            Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011

 

Submitted by martini on Fri, 11/01/2019 - 11:13 /

In reply to by ihsanudin277@g…

Nama :Martini

Nim : 835687337

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

3. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.

(1). Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Solusi :
- Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Seperti tertulis dalam pasal 31 UUD 1945 Ayat 4 : “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta .....“
Anggaran pendidikan harusnya lebih ditambah lagi dari anggaran 20% APBN, karena jumlah anggaran 20% dari APBN masih kurang untuk mendanai proses pendidikan di indonesia, masih banyak daerah-daerah pelosok indonesia yang bahkan belum menikmati pendidikan
- Mengawasi Penggunaan Dana Anggaran Pendidikan
Apabila anggaran pendidikan sudah di tetapkan, sudah seharusnya penggunaan dan pendistribusiannya di awasi dengan ketat, agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut, Seperti contoh: pengawasan dana BOS, masih banyak terjadi penyelewengan dana BOS di beberapa sekolah tertentu.


(2). Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Solusi :
-Peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas guru di Indonesia, seperti menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk di daerah terpencil. 
-Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional. 
-Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.
-Selain itu pelatihan penggunaan IT (Informasi teknologi) bagi guru di seluruh Indonesia, karena masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum bisa menggunakan komputer dan internet. Padahal dengan pengetahuan guru menggunakan komputer dan internet, guru diharapkan akan semakin terbantu dengan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran yang menarik dengan audio visualnya.

(3). Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Solusi:
- Dalam hal tunjangan sudah selayaknya guru mendapatkan tunjangan yang manusiawi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya mengingat peranan dari seorang guru yang begitu besar dalam upaya mencerdaskan peserta didik.

(4). Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Solusi:
- Harusnya metode pembelajaran yang hanya mengajarkan hafalan kepada siswa di ubah menjadi metode bersifat “Student center” atau berpusat ke peserta didik, karena pada saat sekarang ini peran guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.
- Disini juga harus ada kerjasama yang bagus antara guru dengan orang tua murid, karena dengan adanya komunikasi yang terjalin antara guru dan orang tua murid akan mempermudah pertukaran informasi untuk menunjang prestasi belajar murid.

(5). Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Solusi:
-Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
-Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.
-Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

(6). Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Solusi:
-Memberi keterampilan khusus untuk peserta didik yang akan mereka butuhkan nantinya di dunia kerja, khusus nya untuk siswa menengah kejuruan.
-Membuka lapangan kerja seluas-luasnya oleh pemerintah, agar tidak banyak lulusan yang menganggur setelah tamat, terutama untuk tamatan kejuruan, karena target lulusan SMK setelah tamat ialah bekerja sesuai program pemerintah.

(7). Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

Solusi:
-Anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pemerintah/ yayasan.
- Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal, agar bisa menumbuhkan motivasi merka untuk lebih giat belajar.

4. 

Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

 

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

            Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011

 

Submitted by TITIN on Fri, 11/01/2019 - 11:19 /
  1. problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan,
  2. masalah pokok pendidikan di indonesia , a.Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan. b. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek. c. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan. d. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan. e. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja.
  3. solusi yang tepat untuk mengatasinya , a. memeratakan pendidikan belajar dengan cara mensosialisalikan pentingnya belajar dan menyediakan kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh pendidikan , b. proses pembelajaran yang optimal dengan hasil belajar yang bermutu untuk pengusaan IPTEK .
  4. Faktor- faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan : a.perkembangan nilai budaya dan seni , b. laju pertumbuhan penduduk c. pertambahan pendudukan , d. penyebaran penduduk , e. aspirasi masyarakat
Submitted by sungailala on Fri, 11/01/2019 - 11:21 /

In reply to by sungailala

Nama : Elda Gustina

Nim : 835686793

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

3. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.

(1). Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Solusi :
- Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Seperti tertulis dalam pasal 31 UUD 1945 Ayat 4 : “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta .....“
Anggaran pendidikan harusnya lebih ditambah lagi dari anggaran 20% APBN, karena jumlah anggaran 20% dari APBN masih kurang untuk mendanai proses pendidikan di indonesia, masih banyak daerah-daerah pelosok indonesia yang bahkan belum menikmati pendidikan
- Mengawasi Penggunaan Dana Anggaran Pendidikan
Apabila anggaran pendidikan sudah di tetapkan, sudah seharusnya penggunaan dan pendistribusiannya di awasi dengan ketat, agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut, Seperti contoh: pengawasan dana BOS, masih banyak terjadi penyelewengan dana BOS di beberapa sekolah tertentu.


(2). Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. 

Solusi :
-Peran serta pemerintah juga sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas guru di Indonesia, seperti menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk di daerah terpencil. 
-Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional. 
-Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.
-Selain itu pelatihan penggunaan IT (Informasi teknologi) bagi guru di seluruh Indonesia, karena masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum bisa menggunakan komputer dan internet. Padahal dengan pengetahuan guru menggunakan komputer dan internet, guru diharapkan akan semakin terbantu dengan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran yang menarik dengan audio visualnya.

(3). Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Solusi:
- Dalam hal tunjangan sudah selayaknya guru mendapatkan tunjangan yang manusiawi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya mengingat peranan dari seorang guru yang begitu besar dalam upaya mencerdaskan peserta didik.

(4). Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Solusi:
- Harusnya metode pembelajaran yang hanya mengajarkan hafalan kepada siswa di ubah menjadi metode bersifat “Student center” atau berpusat ke peserta didik, karena pada saat sekarang ini peran guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.
- Disini juga harus ada kerjasama yang bagus antara guru dengan orang tua murid, karena dengan adanya komunikasi yang terjalin antara guru dan orang tua murid akan mempermudah pertukaran informasi untuk menunjang prestasi belajar murid.

(5). Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Solusi:
-Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
-Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.
-Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

(6). Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Solusi:
-Memberi keterampilan khusus untuk peserta didik yang akan mereka butuhkan nantinya di dunia kerja, khusus nya untuk siswa menengah kejuruan.
-Membuka lapangan kerja seluas-luasnya oleh pemerintah, agar tidak banyak lulusan yang menganggur setelah tamat, terutama untuk tamatan kejuruan, karena target lulusan SMK setelah tamat ialah bekerja sesuai program pemerintah.

(7). Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

Solusi:
-Anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pemerintah/ yayasan.
- Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal, agar bisa menumbuhkan motivasi merka untuk lebih giat belajar.

4. Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

 

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

            Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011

 

Submitted by fajar on Fri, 11/01/2019 - 11:26 /

1.    Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

 

2.    Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

1)    Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

2)    Masalah mutu pendidikan

Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

3)    Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

4)    Masalah Relevansi Pendidikan

Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3.    Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

1)    Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Dengan Cara konvesional antara lain:

a.     Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b.    Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

2)    Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a.     Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk Slta dan PT.

b.    Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut

c.     Penyempurnaaan kurikulum

d.    Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e.    Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f.     Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g.    Kegiatan pengendalian mutu.

 

 

4.    Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan.

Masalah-maslah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

1)    Perkembangan iptek dan seni.

2)    Laju pertumbuhan penduduk.

3)    Aspirasi masyarakat.

4)    Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.

 

 

Submitted by linda89 on Fri, 11/01/2019 - 12:16 /

1. Problematika Pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia adalah kualitas pendidikan, relevansi pendidikan, elitisme, manajemen pendidikan, dan pemerataan pendidikan.

3. Solusi yang tepat untuk mengatasi: meningkatkan anggaran untuk pendidikan, mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, pemberian beasiswa kepada siswa yang tidak mampu, sistem pendidikan nasional perlu ditata kembali, dan menekankan pentingnya sekolah.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan: perkembangan iptek dan seni; laju pertumbuhan penduduk; aspirasi masyarakat; keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan; permasalahan pendidikan aktual dan penanggulangannya; dan solusi dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

Submitted by NuzulLisS on Fri, 11/01/2019 - 12:45 /

Problematika adalah masalah yang dihadapi. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI/jagokata.com). Jadi, problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

  • Masalah pemerataan pendidikan berkaitan dengan persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh Warga Negara dalam memperoleh pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang menunjang pembangunan.
  • Masalah mutu pendidikan yang berkaitan dengan pemerataan mutu dan pemrosesan pendidikan yang ditunjang oleh komponen pendidikan (peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar)
  • Masalah efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumberdaya manusia. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.
  • Masalah relevansi pendidikan yang mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

Solusi untuk mengatasi problematika pendidikan, antara lain diperlukan adanya sistem pendidikan yang dapat memberikan pemerataan pendidikan dan pelayanan pendidikan yang merata pada daerah-daerah terpencil di Indonesia maupun daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana pendidikan agar mendapatkan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional tanpa mengesampingkan efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia secara tepat untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Kesadaran komponen pendidikan untuk turut berperan serta dan bekerja sama dalam proses pendidikan (formal maupun informal) juga diperlukan demi berkembangnya mutu pendidikan. Kesadaran tersebut hendaknya kesadaran untuk membangun bangsa dan negara yang lebih baik lagi.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

  • Perkembangan iptek dan seni.
  • Laju pertumbuhan penduduk.
  • Aspirasi masyarakat.
  • Latar belakang budaya dan keterbelakang sarana kehidupan.
Submitted by Sri_Lestari on Fri, 11/01/2019 - 12:57 /

Jawaban :

  1. Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.
  2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia, antara lain :
    1. Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
    2. Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
    3. Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
    4. Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
    5. Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
    6. Kepincangan pemberian subsidi.
    7. Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
    8. Masalah pengelolaan sekolah.
    9. Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
    10. Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.
  3. Solusi yang tepat untuk mengatasinya, antara lain :
  1. Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  2. Meningkatkan efisiensi pendidikan
  3. Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  4. Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
  5. Subsidi silang.
  6. Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  7. Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.
  8. Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  9. Menekankan pentingnya sekolah.
  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, sebagai berikut :
  1. Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
  2. Laju Pertumbuhan Penduduk
  3. Aspirasi Masyarakat
  4. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
  5. Kemajuan ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
Submitted by NINING FATIMAH on Fri, 11/01/2019 - 13:34 /

1.    Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.        

2.    Masalah pendidikan di Indonesia

Rendahnya Sarana Fisik / Fasilitas Pendukung

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.      

Rendahnya Kualitas Guru
Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabny          

 Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, masih saja banyak guru terpaksa melakukan kerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/ LKS, pedagang pulsa ponsel dan sebagainya.

Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan seperti (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah, dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
 

. Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan
Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama, terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil, prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat, untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik.

Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur, Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang pas terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.      

Mahalnya Biaya Pendidikan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun.
Biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal, Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya dan karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Mutu/kualitas lulusan semakin menurun. 

3.    -    meningkatkan anggaran pendidikan

-       Mengawasi penggunaan dana anggaran pendidikan

-       Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru yang belum memenuhi standar sebagai guru professional.

-       Memberikan intensif atau tunjangan bagi guru baik guru PNS maupun guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta, sehingga guru dapat hidup dengan layak dan merasa dihargai pekerjaannya.

-       Diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan dari pemerintah yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

-       Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, kalau bisa wajib belajar 12 tahun.

-       Menekankan pentingnya sekolah bagi warga masyarakat yang masih beranggapan sekolah merupakan hal yang tidak begitu penting.

4.    Faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan adalah:

-       Perkembangan IPTEK dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek.

-       Laju pertumbuhan penduduk

-       Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan

-       Keterbelakangan budaya

-       Permasalahan pendidikan actual

 

Submitted by Dwi Mahargyani… on Fri, 11/01/2019 - 14:36 /

Assalamualaikum, wr.wb

Saya Dwi Mahargyani, izinkan saya berdiskusi dengan menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban:

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Seperti yang kita ketahui problematika berasal dari kata “problem” yang artinya masalah/persoalan/isu. Jadi problematika pendidikan adalah segala permasalahan yang dialami pada dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di negara Indonesia masih mengalami banyak permasalahan dalam dunia pendidikan. Apalagi di zaman yang semakin maju dan modern ini. Permasalahan tersebut tentu harus segera diselesaikan agar keadaan pendidikan Indonesia semakin baik.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan dan bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat. Terdapat beberapa masalah pokok lainnya yaitu:

  • Masalah Pemerataan Pendidikan, adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.
  • Masalah mutu pendidikan, permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.
  • Masalah Efisiensi Pendidikan, pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.
  • Masalah Relevansi Pendidikan, masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Dengan cara konvesional antara lain:

  • Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Dengan cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  • SD kecil pada daerah terpencil
  • Sistem guru kunjung
  • SMP terbuka
  • Kejar paket A dan b
  • Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  • Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk SLTA dan Perguruan Tinggi.
  • Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  • Penyempurnaaan kurikulum
  • Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  • Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  • Peningkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  • Kegiatan pengendalian mutu.

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

  • Perkembangan Nilai Budaya Dan Seni
  • Laju Pertumbuhan Penduduk
  • Aspirasi Masyarakat
  • Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
  • Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan(perkembangan IPTEK)
  • Faktor ekonomi
  • Wawasan tentang pendidikan
  • Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.

Terima kasih

Wassalamualaikum, Wr.Wb.

Submitted by Dwi Mahargyani… on Fri, 11/01/2019 - 14:40 /

Assalamualaikum, wr.wb

Saya Dwi Mahargyani, izinkan saya berdiskusi dengan menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban:

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Seperti yang kita ketahui problematika berasal dari kata “problem” yang artinya masalah/persoalan/isu. Jadi problematika pendidikan adalah segala permasalahan yang dialami pada dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di negara Indonesia masih mengalami banyak permasalahan dalam dunia pendidikan. Apalagi di zaman yang semakin maju dan modern ini. Permasalahan tersebut tentu harus segera diselesaikan agar keadaan pendidikan Indonesia semakin baik.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan dan bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat. Terdapat beberapa masalah pokok lainnya yaitu:

a. Masalah Pemerataan Pendidikan, adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

b. Masalah mutu pendidikan, permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

c. Masalah Efisiensi Pendidikan, pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

d. Masalah Relevansi Pendidikan, masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Dengan cara konvesional antara lain:

1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Dengan cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

1. SD kecil pada daerah terpencil

2. Sistem guru kunjung

3. SMP terbuka

4. Kejar paket A dan b

5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

1. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk SLTA dan Perguruan Tinggi.

2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

3. Penyempurnaaan kurikulum

4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

6. Peningkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

7. Kegiatan pengendalian mutu.

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

1. Perkembangan Nilai Budaya Dan Seni

2. Laju Pertumbuhan Penduduk

3. Aspirasi Masyarakat

4. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

5. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan(perkembangan IPTEK)

6. Faktor ekonomi

7. Wawasan tentang pendidikan

8. Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.

Terima kasih

Wassalamualaikum, Wr.Wb.

Submitted by Dwi Mahargyani… on Fri, 11/01/2019 - 14:45 /

Assalamualaikum, wr.wb

Saya Dwi Mahargyani, izinkan saya berdiskusi dengan menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban:

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Seperti yang kita ketahui problematika berasal dari kata “problem” yang artinya masalah/persoalan/isu. Jadi problematika pendidikan adalah segala permasalahan yang dialami pada dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di negara Indonesia masih mengalami banyak permasalahan dalam dunia pendidikan. Apalagi di zaman yang semakin maju dan modern ini. Permasalahan tersebut tentu harus segera diselesaikan agar keadaan pendidikan Indonesia semakin baik.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan dan bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat. Terdapat beberapa masalah pokok lainnya yaitu:

a. Masalah Pemerataan Pendidikan, adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

b. Masalah mutu pendidikan, permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

c. Masalah Efisiensi Pendidikan, pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

d. Masalah Relevansi Pendidikan, masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Dengan cara konvesional antara lain:

1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Dengan cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

1. SD kecil pada daerah terpencil

2. Sistem guru kunjung

3. SMP terbuka

4. Kejar paket A dan b

5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

1. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk SLTA dan Perguruan Tinggi.

2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

3. Penyempurnaaan kurikulum

4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

6. Peningkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

7. Kegiatan pengendalian mutu.

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

1. Perkembangan Nilai Budaya Dan Seni

2. Laju Pertumbuhan Penduduk

3. Aspirasi Masyarakat

4. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

5. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan(perkembangan IPTEK)

6. Faktor ekonomi

7. Wawasan tentang pendidikan

8. Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.

Terima kasih

Wassalamualaikum, Wr.Wb.

Submitted by kaila1234 on Fri, 11/01/2019 - 14:47 /

TUGAS KE 2

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

 

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

A.Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di Indonesia

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

REPORT THIS AD

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan pendidikan yang sudah di jelaskan sebelumnya maka upaya penanggulangannya adalah:

  • Pendidikan harus senantiasa di perbaharui sesuai dengan perkembangan yang terjadi di luar bidang pendidikan itu sendiri. Misalnya kurikulum harus fleksibel.jika perlu di perbaharui. Kurikulum jangan mengakibatkan para pelakunya( siswa atau anak didik ) selalu tertinggal di banding dengan kemajuan IPTEK di luar dunia pendidikan tersebut.
  • Pendidikan( bersama bidang terkait ) berusaha menahan laju pertumbuhan penduduk atau pendidikan harus mencari sistem baru yang dapat melayani semua orang yang memerlukan pendidikan.
  • Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan di dukung dan di dorong terus agar lebih meningkat lagi.
  • Sistem pendidikan meningkatkan peran atau fungsinya sebagai pengembangan kebudayaan di seluruh plosok tanah air.
  • Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore). Ini merupakan cara konvensional dari masalah pemerataan pendidikan.
  • Cara inovatif: sistem pamong ( pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru ) atau inpacts system ( instructional management by parent, community and teacher). Sistem tersebut di rintis di solo dan di seminasikanke beberapa provinsi, SD kecil pada daerah terpencil, sistem guru kunjung, kejar paket A,B,C ,belajar jarak jauh seperti universitas terbuka.
  • Pendidikan afektif perlu di tingkatkan secara terprogram tidak cukup berlangsung hanya secara insidental.
  • Pelaksanaan ekstrakurikulier di kerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya di perhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.
  • Pemilihan siswa atas kelompok yang akan terjun kemasyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mampu belajar di perguruan tinggi.
  • Pendidikan tenaga kependidikan perlu di beri perhatian khusus.
  • Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar,perlu di adakan penelitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan utamanya faktor penghambatnya

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.
Submitted by kaila1234 on Fri, 11/01/2019 - 14:53 /

In reply to by kaila1234

 

NAMA : SITI SUKRILA

NIM     : 836274206

TUGAS KE 2

PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD (PDGK4104)

 

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

 

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

A.Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di Indonesia

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

REPORT THIS AD

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan pendidikan yang sudah di jelaskan sebelumnya maka upaya penanggulangannya adalah:

  • Pendidikan harus senantiasa di perbaharui sesuai dengan perkembangan yang terjadi di luar bidang pendidikan itu sendiri. Misalnya kurikulum harus fleksibel.jika perlu di perbaharui. Kurikulum jangan mengakibatkan para pelakunya( siswa atau anak didik ) selalu tertinggal di banding dengan kemajuan IPTEK di luar dunia pendidikan tersebut.
  • Pendidikan( bersama bidang terkait ) berusaha menahan laju pertumbuhan penduduk atau pendidikan harus mencari sistem baru yang dapat melayani semua orang yang memerlukan pendidikan.
  • Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan di dukung dan di dorong terus agar lebih meningkat lagi.
  • Sistem pendidikan meningkatkan peran atau fungsinya sebagai pengembangan kebudayaan di seluruh plosok tanah air.
  • Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore). Ini merupakan cara konvensional dari masalah pemerataan pendidikan.
  • Cara inovatif: sistem pamong ( pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru ) atau inpacts system ( instructional management by parent, community and teacher). Sistem tersebut di rintis di solo dan di seminasikanke beberapa provinsi, SD kecil pada daerah terpencil, sistem guru kunjung, kejar paket A,B,C ,belajar jarak jauh seperti universitas terbuka.
  • Pendidikan afektif perlu di tingkatkan secara terprogram tidak cukup berlangsung hanya secara insidental.
  • Pelaksanaan ekstrakurikulier di kerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya di perhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.
  • Pemilihan siswa atas kelompok yang akan terjun kemasyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mampu belajar di perguruan tinggi.
  • Pendidikan tenaga kependidikan perlu di beri perhatian khusus.
  • Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar,perlu di adakan penelitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan utamanya faktor penghambatnya

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.
Submitted by Emilia on Fri, 11/01/2019 - 14:59 /
1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan? Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik yaitu ketidaktentuan. Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuan, bakat, kecakapan dan minatnya. Sehingga dapat disimpulkan disini bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh seorang individu. Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia. 2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia? Empat masalah pokok pendidikan adalah: 1. Masalah Pemerataan Pendidikan Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi: “Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi”. Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar. Landasan yuridis pemerataan pendidikan tersebut penting sekali, artinya sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketertinggalan kita sebagai akibat penjajahan. Masalah pemerataan pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia. Baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan. Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan. Khusus pendidikan formal atau pendidikan persekolahan yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan saksama. Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka. Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita. Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan". Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung. 2. Masalah Mutu Pendidikan Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya. Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluaranya. Jika tujuan pendidikan nasioanl dijadikan kriteria, maka pertanyaanya adalah: apakah keluaran dari sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertakwa, mandiri, anggota masyarakat yang sosial yang bertanggung jawab. Dengan kata lain keluaran ini mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran seperti tersebut adalah nurturant effect. Meskipun disadari bahwa hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan itu sendiri. Yang menjadi persoalan ialah bahwa cara pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Dan pada umumnya hanya dengan mengasosiasikan dengan hasil belajar yang sering dikenal dengan EBTA atau hasil sipenmaru. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu, didalam Tap MPR RI tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembanguan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya pendidikan di seluruh tanah air pada umumnya menunjukkan daerah pedesaan lebih rendah dari daerah perkotaan. 3. Masalah Efisiensi Pendidikan Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Efisiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Hal ini tampak dari banyaknya anak yang drop-out, banyak anak yang belum dapat pelayanan pendidikan, banyak anak yang tinggal kelas, dan kurang dapat pelayanan yang semestinya bagi anak-anak yang lemah maupun yang luar biasa cerdas dan genius. Oleh karena itu, harus berusaha untuk menemukan cara agar pelaksanaan pendidikan menjadi efisien. Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah: 1) Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan 2) Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan 3) Bagaimana pendidikan diselenggarakan 4) Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjanagn antara stok tenaga yang tesedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakgir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20 % dari kebutuhan tenaga lapangan. Sedangkan persediaan tenaga siap di angkat lebih bear daripada kbutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini terjadi kemubadziran yang terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian. Dan tenaga kependidikan khususnya guru tidak disiapkan untk berwirausaha. Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering mengalami kepincanagn, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga di tempatkan didaerah sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi diluar kewenangannya, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga kerja yang tesedia didaerah terpencil. Masalah pengembanagan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan pengembanagn tenaga pelaksana di lapangan sangat lambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru sangat memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat di rencanakan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan.dan pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif. 4. Masalah Relevansi Pendidikan Masalah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang. Pendidikan merupakan faktor penunjang bagi pembangunan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, perlu keterpaduan di dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional tersebut. Sebagai contoh pendidikan di sekolah harus di rencanakan berdasarkan kebutuhan nyata dalam gerak pembangunan nasional, serta memperhatikan ciri-ciri ketenagaan yang di perlukan sesuai dengan keadaan lingkungan di wilayah-wilayah lingkungan tertentu. Telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi. Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain sebagai berikut: 1) Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya. 2) Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang. 3) Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia. 3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya? Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia 1. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif. Cara konvesional antara lain: 1) Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar. 2) Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore). Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya. Cara Inovatif antara lain: Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi. 1) SD kecil pada daerah terpencil 2) Sistem guru kunjung 3) SMP terbuka 4) Kejar paket A dan b 5) Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka 2. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan. Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut: 1. Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT. 2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut. 3. Penyempurnaaan kurikulum 4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar 5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran 6. Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran 7. Kegiatan pengendalian mutu 3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan? Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu: 1. Perkembangan Iptek Dan Seni 1) Perkembangan Iptek Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membaw masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua, pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya). 2) Perkembangan Seni Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. 2. Laju Pertumbuhan Penduduk. Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu: 1) Pertambahan Penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal. 2) Penyebaran Penduduk Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru. 3) Aspirasi Masyarakat Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial. Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. 4) Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: 1. Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil) 2. Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat. 3. Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut. Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh: 1. Masyarakat daerah terpencil. 2. Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis. 3. Masyarakat yang kurang terdidik. Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.
Submitted by fito.alhasan on Fri, 11/01/2019 - 18:21 /

Nama : Dian Fitrohsyah 

NIM : 837507694

Mata Kuliah : Perspektif Pendidikan SD

Kode Mata Kuliah : PDGK4104

TUGAS TUTORIAL II

Apa yang dimaksud problematika pendidikan? 

Jawab : Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus. 

Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan

Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Solusi Kualitas pendidikan

Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

Meningkatkan efisiensi pendidikan.

Solusi Relevansi pendidikan

Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Solusi Elitisme

Subsidi silang.

Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

Solusi Manajemen pendidikan

Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

Solusi Pemerataan pendidikan​​​​​​​

Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

Menekankan pentingnya sekolah.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.

Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.

Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. 

Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. 

Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. 

Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. 

Submitted by mila on Fri, 11/01/2019 - 19:19 /

Nama : Mila Dayanti

NIM : 836675249

Mata kuliah : Perspektif Pendidikan SD

 

1.     Pengertian problematika pendidikan

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Jadi problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2.     Masalah pokok pendidikan di Indonesia

a.      Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

b.     Masalah mutu pendidikan

Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

c.      Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

d.     Masalah Relevansi Pendidikan

Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.     Solusi yang tepat untuk mengatasinya

a.      Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

-           Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

-           Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

 

 

 

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

-         SD kecil pada daerah terpencil

-         Sistem guru kunjung

-         SMP terbuka

-         Kejar paket A dan b

-         Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b.     Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

1)       Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

2)       Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

3)       Penyempurnaaan kurikulum

4)       Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

5)       Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

6)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

7)       Kegiatan pengendalian mutu.

 

 

 

4.     Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

a.      Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

b.     Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. 

c.      Laju Pertumbuhan Penduduk.

d.     Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.

Submitted by irmmld on Fri, 11/01/2019 - 19:52 /

1.  pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia

2. - Rendahnya pemerataan kesempatan belajar 

    - Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.

    - Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.

     - Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat

3. Cara konvesional antara lain:

 -    Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

 -     Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

      Cara Inovatif antara lain:

 -    SD kecil pada daerah terpencil

 -      Sistem guru kunjung

 -      SMP terbuka

 -     Kejar paket A dan b

 -      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka

4. -  Perkembangan Iptek Dan Seni

  -   Pertambahan Penduduk.

-   Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

 

Submitted by tinososiolog on Fri, 11/01/2019 - 21:17 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Menurut saya problematika pendidikan adalah segala sesuatu yang tidak diharamkan dalam dunia pendidikan.

2. Contoh problematika pendidikan adalah kesenjangan antara dunia kerja dengan dunia pendidikan

3. Solusinya, pemangku kepentingan hendaknya duduk bersama untuk menyelesaikan kesenjangan antara dunia kerja dengan dunia pendidikan 

4. Faktor  yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan adalah kultur

Submitted by @Aji_Pangestu on Fri, 11/01/2019 - 21:52 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik.Namun, Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat.
  4. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja.
  5. Minimnya Kesejahteraan Guru Terutama Pada guru Honorer
  6. Kurikulum pendidikan yang berubah-ubah

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

  1. Pemerataan sekolah gratis di pedesaan terpecil
  2. Meningkatkan professional guru dalam mengajar
  3. Penyaluran tenaga kerja pada tiap sekolah
  4. Menerapkan dan mengembangkan pendidikan keagamaan, moral dan akhlak di sekolah
  5. Meningkatkan kesejahteraan guru honorer
  6. Penyempurnaan kurikulum

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

  1. Faktor sumber daya manusia
  2. Faktor ekonomi
  3. Faktor sosial
  4. Faktor IPTEK

 

Submitted by doni_22 on Fri, 11/01/2019 - 22:09 /
  1. yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan.
  2. masalah pokok dunia pendidikan adalah     a. kualitas pendidikan : 1. kualitas guru yang masih rendah, alat bantu mengajar belum memadai, b. manajemen pendidikan. c pemerataan pendidikan d relevansi dunia pendidikan
  3. a kualitas pendidikan  meningkatkan anggaran pendidikan, menjarng setiap guru yang akan mengajar dengan menggunakan standar kriteria. b. manajemen pendidikan : menata kembali sistem pendidikan. c. pemerataan  pendidikan : menggratiskan biaya sekolah selama 9 tahun, dan memberi uang saku kepada mereka yang memang layak menerimanya d. relevansi pendidikan : mengganti kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan jati diri bangsa
  4. faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan : a. perkembangan zaman. b perkembangan iptek c semakin rusaknya moral anak usia dini d pertumbuhan penduduk yang tidak dapat di kontrol e pemerataan pendidikan f minimnya tenaga ahli 
Submitted by 836281082 on Fri, 11/01/2019 - 22:15 /
  1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa inggris “ problem “ artinya, soal, masalah atau teka teki. Juga berarti problematika, yaitu ketidak tentuan. Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendifinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang meberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individi di bantu pengembangkan daya-daya kemampuanya, bakatnya, kecakapanya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif ( daya pengetahuan ), afektif ( aspek sikap ) maupun psikomotorik ( aspek keterampilan ) yang dimiliki oleh seorang individu. Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

                                                                                          

  1. Masalah pokok pendidikan di Indonesia :

 

  1. Kualitas pendidikan
  1. mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  2. Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  3. tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  4. meningkatnya efesiensi pendidikan.

 

  1. Relevansi pendidikan
  1. Tidak adanya kesesuaian antara output ( lulusan ) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  2. Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

 

  1. Elitisme
  1. Kepincangan pemberian subsidi.
  2. Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  3. Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 

  1. Manajemen pendidikan
  1. Masalah pengelolaan.
  2. Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

 

 

  1. Pemerataan pendidikan
  1. Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.
  2. Menekankan pentingnya sekolah.

 

  1.  Solusi pemecahan

 

  1. Cara konvesional :
  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore ).

 

  1. Cara inovatif :
  1. SD kecil pada daerah terpencil.
  2. Sistem guru kunjung.
  3. SMP terbuka.
  4. Kejar paket A dan B.
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan :

 

  1. Laju pertumbuhan penduduk
  1. Pertambahan penduduk, dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan dan beserta komponen penunjang teselangaranya pendidikan harus di tambah.
  2. Penyebaran penduduk, ada daerah yang padat penduduk terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi di penggunugan dan di pulau-pulau.

 

  1. Perkembangan Iptek
  1. Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).
  2. Pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasikan mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memnuhi kebutuhan hidup masyarakat.

 

  1. Perkembangan seni
  1. Kesenian merupakan aktivitas berkerasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghaasilkan sesuatu yang indah.
  2. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkerasi ( mencipta ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.

 

  1. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
  1. Bagi masyarakat pendukung budya, kebudayaan pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.
  2. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari laur maupun dari dari dalam lingkungan masyarakat sendiri.

 

 

Submitted by ayundades on Fri, 11/01/2019 - 22:37 /

In reply to by ihsanudin277@g…

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh seorang individu.

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

2. Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di Indonesia

Pada dasarnya ada dua masalah pokok pendidikan di Indonesia:

a. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

b. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

Seperti telah dikemukakan diatas, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

a. Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

b. Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

c. Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.

Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:

  1. Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
  2. Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan
  3. Bagaimana pendidikan diselenggarakan
  4. Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

d. Masalah Relevansi Pendidikan

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.

3. Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  1. SD kecil pada daerah terpencil
  2. Sistem guru kunjung
  3. SMP terbuka
  4. Kejar paket A dan B
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  1. Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.
  2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  3. Penyempurnaaan kurikulum
  4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  6. Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  7. Kegiatan pengendalian mutu

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

a. Perkembangan Iptek Dan Seni

1. Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat

2. Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat

b. Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1. Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

2. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan.

3. Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan.

c. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

  1. Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)
  2. Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.
  3. Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

  1. Masyarakat daerah terpencil.
  2. Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.
  3. Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

Submitted by febri123 on Fri, 11/01/2019 - 23:00 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus. 

 

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:    

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan

.

3. Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia :

– Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

– Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

– Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

– Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

 

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan yaitu:

A.    Perkembangan Iptek dan Seni.

1.      Perkembang Iptek.

Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara system dan terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

2.      Perkembangan Seni.

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilakn sesuatu yang indah.

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1.      Pertambahan penduduk.

2. Penyebaran penduduk.

C.    Aspirasi Masyarakat.

Aspirasi terhadap pendidikan tidaklah perlu untuk diredam, justru sebaliknya harus tetap dibangkitkan dan di tingkatkan, utamanya pada masyarakat yang belum maju dan masyarakat di daerah terpencil, sebab aspirasi menjadi motor penggerak roda kemajauan.

D.    Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan.

 

Keterbelakangan budaya terjadi karena:

·  Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (missal terpencil).

·  Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsure budaya baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendi masyarakat.

· Ketidak mampuan masyarakat secara ekonomis untuk menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Sehubungan dengan factor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya

umumnya dialami oleh:

·         Masyarakat daerah terpencil.

·         Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

·         Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang kebudayaannya tidak ikut berperan serta dalam pembangunan, sebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi intinya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana system pendidikan dapat melibatkan mereka.

 

Submitted by 837491808 arumsari on Sat, 11/02/2019 - 02:37 /

In reply to by ihsanudin277@g…

Pertanyaan

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang, baik secara umum maupun khusus.Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia

  1. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

 

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

 

Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembanguana sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya diluar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen dan melibatkan banyak pihak.

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

  1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

 

Seperti telah dikemukakan diatas, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

  1.       Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Khusus pendidikan formal atau pendidikan persekolahan yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan saksama.

Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan  kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai   keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.

Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita.  Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung.

  1. 2.      Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluaranya. Jika tujuan pendidikan nasioanl dijadikan kriteria, maka pertanyaanya adalah: apakah keluaran dari sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertakwa, mandiri, anggota masyarakat yang sosial yang bertanggung jawab. Dengan kata lain keluaran ini mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran seperti tersebut adalah nurturant effect. Meskipun disadari bahwa hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan itu sendiri. Yang menjadi persoalan ialah bahwa cara pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Dan pada umumnya hanya dengan mengasosiasikan dengan hasil belajar yang sering dikenal dengan EBTA atau hasil sipenmaru.

Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu, didalam Tap MPR RI tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembanguan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya pendidikan di seluruh tanah air pada umumnya menunjukkan daerah pedesaan lebih rendah dari daerah perkotaan.

  1. 3.      Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.

Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Hal ini tampak dari banyaknya anak yang drop-out, banyak anak yang belum dapat pelayanan pendidikan, banyak anak yang tinggal kelas, dan kurang dapat pelayanan yang semestinya bagi anak-anak yang lemah maupun yang luar biasa cerdas dan genius.

Oleh karena itu, harus berusaha untuk menemukan cara agar pelaksanaan pendidikan menjadi efisien.

Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:

a)      Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b)      Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan

c)      Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d)     Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjanagn antara stok tenaga yang tesedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakgir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20 % dari kebutuhan tenaga lapangan. Sedangkan persediaan tenaga siap di angkat lebih bear daripada kbutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini terjadi kemubadziran yang terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian. Dan tenaga kependidikan khususnya guru tidak disiapkan untk berwirausaha.

Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering mengalami kepincanagn, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga di tempatkan didaerah sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi diluar kewenangannya, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga kerja yang tesedia didaerah terpencil.

Masalah pengembanagan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan pengembanagn tenaga pelaksana di lapangan sangat lambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru sangat memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat di rencanakan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan.dan pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif.

  1. 4.      Masalah Relevansi Pendidikan

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

Pendidikan merupakan faktor penunjang bagi pembangunan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, perlu keterpaduan di dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional tersebut. Sebagai contoh pendidikan di sekolah harus di rencanakan berdasarkan kebutuhan nyata dalam gerak pembangunan nasional, serta memperhatikan ciri-ciri ketenagaan yang di perlukan sesuai dengan keadaan lingkungan di wilayah-wilayah lingkungan tertentu.

Telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan  tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:

a)      Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

b)      Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.

c)      Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.

Dari keempat macam masalah pendidikan tersebut masing-masing dikatakan teratasi jika pendidikan:

a)      Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya semua warga Negara yang butuh pendidikan dapat ditampung daalm suatu satuan pendidikan.

b)      Dapat mencapai hasil yang bermutu artinya: perencanaan, pemprosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.

c)      Dapat terlaksana secara efisien artinya: pemrosesan pendidikan sesuai dengan rancangan dan tujuan yang ditulis dalam rancangan.

d)     Produknya yang bermutu tersebut relevan, artinya: hasil pendiidkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan. 

Pada dasarnya pembangunan dibidang pendidikan tentu menginginkan tercapainya pemerataan pendidikan dan pendidikan yang bermutu sekaligus. Ada dua faktor yang dapat dikemukakan sebagai penyebab mengapa pendidikan yang bermutu belum dapat diusahakan pada saat demikian, yaitu:

Pertama: gerakan perluasan pendidikan untuk melayani pemerataan kesempatan pendidikan bagi rakyat banyak memerlukan penghimpunan dan pengerahan dana dan daya.

Kedua: kondisi satuan-satuan pendidikan pada saat demikian mempersulit upaya peningkatan mutu karena jumlah murid dalam kelas terlalu banyak, pengerahan tenaga pendidik yang kurang kompeten, kurikulum yang belum mantap, sarana yang tidak memadai.

Meskipun demikian pemerataan pendidiakn tidak dapat diabaikan karena upaya tersebut, terutama pada saat suatu bangsa sedang memulai membangun mempunyai tujuan ganda, yaitu disamping tujuan politis juga tujuan pembanguan yaitu memberikan bekal dasar kepada warga Negara agar dapat menerima informasi dan memiliki pengetahuan dasar untuk mengembangkan diri sehingga dapat perpatisipasi dalam pembanguanan.

Dalam uraian tersebut tampak bahwa masalah pemerataan berkaitan erat dengan masalah mutu pendidikan.

Bertolak dari gambaran tersebut terlihat juga kaitannya dengan masalah efisiensi. Karena kondisi pelaksanaan pendidikan tidak sempurna, maka dengan sendirinya pelaksanaan pendidikan dan khususnya proses pembelajaran berlangsung tidak efisien. Hasil pendidikan belum dapat diharapkan relevan dengan kebutuhan masyarakat pembangunan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

  1. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  1. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

2.      Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu.

 

  1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

  •  Perkembangan Iptek Dan Seni
    • Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membaw masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

  • Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

  1. Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

  1. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

3.      Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

4.      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a)      Masyarakat daerah terpencil.

b)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

Submitted by riskaoktaviana… on Sat, 11/02/2019 - 04:10 /

Jawaban

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia. Dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya

2. Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di IndonesiaPada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu:

         1)  Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

         2)  Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam

              kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

1)  Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia.

2)      Masalah mutu pendidikan

Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar. Dan Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.

Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Dan sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensipendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan.

Masalah Relevansi Pendidikan

Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3. Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem,

sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di Universitas Terbuka.

·         Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu

4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional.

Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

1)        Perkembangan Iptek dan Seni

·       Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula.

·       Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

2)        Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1.      Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

2.      Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

3)      Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota, di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak, diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

4)      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a.       Masyarakat daerah terpencil.

b.      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c.       Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

Submitted by @wahyupriyanti_ on Sat, 11/02/2019 - 05:01 /

1. Problematika Pendidikan

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2.Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di Indonesia

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial sebagai supra sistem tersebut memiliki keterkaitan erat yang sangat luar biasa. Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen dan melibatkan banyak pihak.

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

  1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

Seperti telah dikemukakan diatas, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

1.      Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan  kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai   keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.

Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita.  Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung.

2.      Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

3. Sedangkan untuk contoh solusi yang bisa diberikan adalah seperti pada kasus Pemerataan Pola Pendidikan, Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

f)       Dan sebagainya

Referensi :

1.http://smandoe-sawahlunto.sch.id/index.php/10-artikel/17-masalah-pendidikan-di-indonesia

2.http://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

 

Submitted by nurlailiseptiana on Sat, 11/02/2019 - 05:10 /

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan

 

Masalah Mutu Pendidikan

Mencakup masalah pemerataan mutu, didalam Tap MPR RI tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembanguan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya pendidikan di seluruh tanah air pada umumnya menunjukkan daerah pedesaan lebih rendah dari daerah perkotaan.

 

Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

 

Masalah Relevansi Pendidikan

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

 

3. Solusinya

  • Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  1. SD kecil pada daerah terpencil
  2. Sistem guru kunjung
  3. SMP terbuka
  4. Kejar paket A dan b
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  1. Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.
  2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  3. Penyempurnaaan kurikulum
  4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  6. Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  7. Kegiatan pengendalian mutu.

 

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
  • Perkembangan Iptek Dan Seni
  • Laju Pertumbuhan Penduduk.
  • Aspirasi Masyarakat
  • Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.
Submitted by nurlailiseptiana on Sat, 11/02/2019 - 05:18 /

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan

 

Masalah Mutu Pendidikan

Mencakup masalah pemerataan mutu, didalam Tap MPR RI tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembanguan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya pendidikan di seluruh tanah air pada umumnya menunjukkan daerah pedesaan lebih rendah dari daerah perkotaan.

 

Masalah Efisiensi Pendidikan

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

 

Masalah Relevansi Pendidikan

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

 

3. Solusinya

  • Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

       Cara konvesional antara lain:

  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  1. SD kecil pada daerah terpencil
  2. Sistem guru kunjung
  3. SMP terbuka
  4. Kejar paket A dan b
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  1. Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.
  2. Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  3. Penyempurnaaan kurikulum
  4. Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  6. Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  7. Kegiatan pengendalian mutu.

 

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

  • Perkembangan Iptek Dan Seni
  • Laju Pertumbuhan Penduduk.
  • Aspirasi Masyarakat
  • Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.
Submitted by Anis Choirunnisa' on Sat, 11/02/2019 - 08:49 /

Tugas 2 – Perspektif Pendidikan SD.02

Nama   : ANIS CHOIRUNNISA’

NIM    : 837386778

 

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Sebelum membahas lebih jauh tentang problematika pendidikan, mari kita simak dulu pengertian problematika. Problematika berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” yang berarti masalah, soal, atau teka-teki. Juga dapat diartikan “problematik’ atau ketidak tentuan.

Sedangkan pendidikan sendiri memiliki begitu banyak definisi, akan tetapi secara umum dapat disimpulkan bahwa  pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Dalam artian yang lebih khusus, pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dimana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuan, bakat, kecakapan dan minat. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah segala bentuk permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, sehingga perlu adanya pemecahan demi tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Adapun masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia antara lain,

a. Masalah Pemerataan Pendidikan

Berdasarkan Undang-Undang No 4 tahun 1950 pada bab XI pasal 17 berbunyi : Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Akan tetapi realita disekitar kita masih banyak anak-anak yang putus sekolah akibat keterbatasan biaya, kurangnya fasilitas pendidikan dan faktor lain.

Masalah pemerataan pendidikan imerupakan permasalahan yang serius sehingga ditangani dengan benar dan tepat sasaran, sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada Sekolah Dasar secara otomatis mereka mempunyai bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian minimal mereka tidak terlalu jauh ketinggalan dan tidak akan menjadi penghambat pembangunan. Dalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III juga dijelaskan tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, dalam pasal 5 disebutkan ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 dijelaskan “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.”

b. Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan pada dilihat dari kualitas output (keluaran) siswa. Harapannya keluaran dari sistem pendidikan ini siswa diharapkan dapat menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri, sekaligus sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Akan tetapi sampai saat ini belum ada tolok ukur yang tepat untuk menilai mutu pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah kita ketahui bahwa di Indonesia sendiri tolok ukur mutu pendidikan hanya terfokus pada ujian nasional saja. Hasil belajar yang bermutu tentu harus dicapai melalui proses belajar yang bermutu juga. Jika proses belajar mengajar tidak maksimal, maka hasil belajarpun tidak akan bermutu. Begitupun sebaliknya apabila proses belajar mengajar sudah dilakukan semaksimal mungkin, maka mutu pendidikan juga akan meningkat. Jadi inti dari permasalahan mutu pendidikan terletak pada masalah proses pembelajaran yang juga harus ditunjang oleh peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana dan prasarana, peran orang tua dan lingkungan sekitar. Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan, sehingga mutu pendidikan baik dipedesaan ataupun kota harus sama rata.

c. Masalah Efisiensi Pendidikan

Efisiensi pendidikan menyangkut masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusianya. Efesiensi berarti menggunakan tenaga dan biaya seminimal mungkin, namun diharapkan akan mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Jadi sistem pendidikan yang efesien dapat diperoleh dengan tenaga dan dana yang terbatas, namun dapat menghasilkan hasil atau lulusan yang berkualitas. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan serta kebudayaan. Adapun permasalahan efisiensi pendidikan yang penting untuk ditangani sejak dini adalah tentang tugas dan fungsi tenaga kependidikan, sarana dan prasarana yang digunakan, proses penyelenggaraan pendidikan dan efisiensi fungsi tenaga kerja.

d. Masalah Relevansi Pendidikan

Maslah relevensi timbul karena ketidakak sesuaian antara sistem pendidikan dengan pembangunan nasional. Padahal pendidikan merupakan faktor penunjang bagi pembangunan dan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, perlu adanya keterpaduan dalam perencanaan serta pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional itu sendiri. Contohnya adalah pendidikan di sekolah semestinya direncanakan berdasarkan kebutuhan yang nyata dalam gerak pembangunan nasional, serta memperhatikan ciri-ciri ketenagaan yang di perlukan sesuai dengan keadaan lingkungan di wilayah-wilayah tertentu. Seperti yang kita ketahui bahwa tugas pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dalam bidang pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Seperti yang kita lihat bahwa pemerintah telah berusaha memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu. Berbagai macam pemecahan masalah sudah dicoba oleh pemerintah dengan tujuan dapat meningkatkan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Langkah demi langkah telah bahkan sedang ditempuh demi kemajuan pendidikan, mulai dari cara-cara yang konvensional hingga pada cara-cara yang terbilang modern atau inovatif.

Adapun pemecahan masalah secara konvesional yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain,

  • Membangun gedung sekolah seperti SD inpres
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).
  • Gencar bersosialisasi dan mengadakan program-program tertentu demi meningkatkan minat belajar masyarakat agar semangat dan tidak putus sekolah.

Adapun pemecahan masalah secara inovatif yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain,

  • Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
  • Pembangunan SD kecil didaerah terpencil
  • Menerapkan sistem guru kunjung
  • Mendirikan SMP terbuka
  • Mengadakan program kejar paket A dan B
  • Menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis IPTEK, seperti di Universitas Terbuka.

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor yang dapat mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan diantaranya adalah masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan itu sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah diluar sistem pendidikan. Masalah makro meliputi masalah perkembangan internasional, demografi, politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Adapun masalah-masalah makro yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan antara lain,

a. Perkembangan Iptek Dan Seni

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan, IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) serta seni. Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif.

b. Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan dipengaruhi oleh pertambahan penduduk dan penyebaran penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan sarana dan prasarana dan pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dengan demikian berarti bahwa beban pembangunan nasionalpun akan bertambah. Tak hanya itu, penyebaran penduduk di Indonesia juga tidak merata. Sebaran penduduk belum seimbang, dan masih tumpang tindih. Diwilayah perkotaan, mayoritas penduduknya sangat padat sedangkan didaerah-daerahterpencil jumlah penduduknya sangatlah sedikit. Persebaran penduduk yang tidak merata seperti ini, tentu dapat menimbulkan seperti kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan.

c. Aspirasi Masyarakat

Seiring dengan berjalannya waktu dan dampak dari globalisasi, aspirasi masyarakat mulai meningkat dalam berbagai macam hal khususnya terhadap dunia pedidikan. Kesehatan, dan pekerjaan. Hal ini tentu dapat mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan, sebab mereka beranggapan bahwa pendidikan dapat memberi jaminan dalam rangka peningkatan masa depan. Hal ini dapat diidentifikasi dari banyaknya jumlah tenaga kependidikan yang melamar di sekolah-sekolah dasar, dlsb. Pendidikan non formal semakin meningkat, hingga jumlah siswa perkelas yang melebihi kapasitas.

d. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, karena budaya bersifat dinamis yang dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Kebudayaan baru tersebut ada yang bersifat material seperti majunya peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan adapula  yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain.

Adapun faktor yang mempengaruhi keterbelakangan budaya antara lain,

  • Letak geografis, misalnya masyarakat yang hidup didaerah terpencil
  • Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budaya baru sesuai dengan          norma-norma yang ada
  • Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomi dalam penerimaan unsur kebudayaan baru.
  • Kurangnya pengetahuan dan pendidikan.

Dengan demikian kelompok masyarakat yang mengalami keterbelakangn budaya tidak berperan aktif dalam pembangunan. Sehingga tugas pemerintah ialah menyadarkan mereka dari ketertinggalannya, beserta bagaimana upaya menyediakan sarana kehidupan dan  sistem pendidikan yang dapat melibatkan mereka. 

 

Submitted by SAIDYUSNEDI on Sat, 11/02/2019 - 10:11 /
  1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu. Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia

 

2.Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

  1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan. Mengenai masalah pemerataan
  2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat. Ini masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.
  1. Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.  

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.  Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

2. Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.  

Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

3. Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  1. SD kecil pada daerah terpencil
  2. Sistem guru kunjung
  3. SMP terbuka
  4. Kejar paket A dan b
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.
  6. 4. Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
  7.  
  8. 1. Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005). Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia. Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

2. Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu : Pertambahan penduduk, dan Penyebaran penduduk.Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu. Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

3. Aspirasi Masyarakat

Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka. Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

4. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

5. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Masalah Pendidikan

  • Ilmu Pengetahuan / Science

Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

  • Teknologi

Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

 

Submitted by saifulishaq on Sat, 11/02/2019 - 10:38 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab : Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus atau persoalan-persoalan atau permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab :

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

2.Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

 

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

3. Elitisme Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi. – Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

4. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab : – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

– Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

– Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

5.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab : Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).

Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.

Submitted by 836269694 on Sat, 11/02/2019 - 11:07 /

In reply to by @uminur

1. Problematika pendidikan

Problematika berasal dari kata bahasa inggris, yaitu"problem" yang artinya masalah, soal, atau teka - teki.

Pendidikan secara umum didefinisikan sebagai suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan bangsa itu berkembang. definisi pendidikan secara khusus ialah suatu proses pertumbuhan dimana seorang individu dibantu mengembangkan daya - daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya - daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek keterampilan) yang dimiliki oleh seorang individu.

dapat disimpulkan bahwa Problematika Pendidikan adalah persoalan - persoalan atau permasalahan - permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, khususnya negara Indonesia.

 

2. masalah pokok pendidikan di indonesia, yaitu:

1. bagaimana semua warga negara  dapat menikmati kesempatan pendidikan;

2. bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat

yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

3. solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pokok pendidikan

1. Masalah Pemerataan

 

 

Submitted by 836269694 on Sat, 11/02/2019 - 11:07 /

In reply to by @uminur

1. Problematika pendidikan

Problematika berasal dari kata bahasa inggris, yaitu"problem" yang artinya masalah, soal, atau teka - teki.

Pendidikan secara umum didefinisikan sebagai suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan bangsa itu berkembang. definisi pendidikan secara khusus ialah suatu proses pertumbuhan dimana seorang individu dibantu mengembangkan daya - daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya - daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek keterampilan) yang dimiliki oleh seorang individu.

dapat disimpulkan bahwa Problematika Pendidikan adalah persoalan - persoalan atau permasalahan - permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, khususnya negara Indonesia.

 

2. masalah pokok pendidikan di indonesia, yaitu:

1. bagaimana semua warga negara  dapat menikmati kesempatan pendidikan;

2. bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat

yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

3. solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pokok pendidikan

1. Masalah Pemerataan

 

 

Submitted by sari tis on Sat, 11/02/2019 - 12:41 /

In reply to by ihsanudin277@g…

  1.   Problematika Pendidikan

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2.      Masalah-Masalah Pokok Pendidikan di Indonesia

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembanguana sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya diluar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen dan melibatkan banyak pihak.

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

  1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.[3]

Seperti telah dikemukakan diatas, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

  1. 1.      Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Khusus pendidikan formal atau pendidikan persekolahan yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan saksama.

Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan  kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai   keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.

Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita.  Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung

3.      Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

1.      Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

  1. 2.      Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

 

Submitted by sholikin_very on Sat, 11/02/2019 - 13:00 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

a. Masalah Pemerataan Pendidikan

b. Masalah Mutu Pendidikan

c. Masalah Efisiensi Pendidikan

d. Masalah Relevansi Pendidikan

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

• Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

• Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

• SD kecil pada daerah terpencil

• Sistem guru kunjung

• SMP terbuka

• Kejar paket A dan b

• Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan. Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

• Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk SLTA dan PT.

• Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

• Penyempurnaaan kurikulum

• Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

• Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

• Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

• Kegiatan pengendalian mutu.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

a. Perkembangan Iptek Dan Seni

b. Laju Pertumbuhan Penduduk.

c. Aspirasi Masyarakat

d. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.