Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?
Submitted by Moch Kamim on Sat, 11/02/2019 - 20:04 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab : Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus atau persoalan-persoalan atau permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab :

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

2.Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

3. Elitisme Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi. – Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

4. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab : – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

– Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 

– Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

– Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

5.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab : Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).

Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.

Submitted by @debiriski on Sat, 11/02/2019 - 20:06 /

In reply to by @uminur

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan? Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus. 
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Solusi Kualitas pendidikan

Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

Meningkatkan efisiensi pendidikan.

Solusi Relevansi pendidikan

Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Solusi Elitisme

Subsidi silang.

Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

Solusi Manajemen pendidikan

Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

Solusi Pemerataan pendidikan​​​​​​​

Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

Menekankan pentingnya sekolah.

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar.
Submitted by prazt_77 on Sat, 11/02/2019 - 21:09 /

1.) Problematika Pendidikan : Pengertian Problematika Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan; yang menimbulkan permasalahan. (Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Bulan Bintang, 2002), hal. 276), Sedangkan ahli lain mengatakan menyatakan bahwa "definisi problema/problematika adalah suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaikan atau dapat diperlukan atau dengan kata lain dapat mengurangi kesenjangan itu." (Syukir, Dasar-dasarStrategi Dakwah Islami, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1983), hal. 65). Jadi menurut saya Problematika Pendidikan adalah suatu masalah atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi dalam Pendidikan, di sebabkan oleh banyak faktor sehingga diperlukan suatu jalan atau solusi pemecahan masalah.

2.) Masalah pokok pendidikan di Indonesia :

Menurut pendapat saya pribadi, beraneka macam masalah pendidikan di Indonesia. Salah satu masalah pokoknya adalah regulasi/aturan dari pemerintah. Contoh yang paling nyata adalah struktur kurikulum yang berlaku saat ini masih morat-marit dan banyak problematika di sana-sini, rencana dan maksud pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Kemdikbud hanya seakan-akan mengejar target perubahan saja dari rezim satu ke rezim seterusnya, hanya membuat produk saja tanpa melihat konsumen atau pelaku yang menjalankan kurikulum tersebut yang ada di lapangan dalam hal ini guru dan murid. termasuk di lembaga dan kelas tempat saya mengajar, dalam melaksanakan kurikulum K.13 persepsi masing-masing guru, siswa, bahkan wali murid sangat berbeda-beda, ada wali murid yang protes karena putra-putrinya kebanyakan tugas, di sisi lain guru juga dikejar tayang untuk berganti dari satu tema ke tema selanjutnya, belum lagi ada murid yang mengalami tingkat kejenuhan dalam belajar. Selain hal tersebut di atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib guru honorer, kurangnya sarpras penunjang pendidikan yang memadai, guru di beri sertifikat pendidik yang profesional malah di salah artikan untuk mengerjar tunjangan oleh sebagian oknum, pemerataan pendidikan yang masih belum maksimal, dana PIP (Program Indonesia Pintar) yang salah sasaran juga menjadi problematika pendidikan.

 

3.) Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan:

Menurut pendapat saya pribadi, seharusnya pemerintah lebih jeli, bijak, dan teliti dalam melihat kondisi yang ada di lapangan sebelum mengambil suatu kebijakan, jangan sampai kebijakan di ambil karena faktor kepentingan partai, golongan, kelompok, atau koorporasi tertentu. Dalam mengambil kebijakan khususnya tentang pendidikan para wakil rakyat dan pemangku kepentingan di dalam Pemerintahan harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, rakyat, serta generasi penerus bangsa sesuai dengan sumpah jabatan mereka, beliau-beliau yang terhormat itu setidaknya harus ingat anak dan cucu mereka yang ada di rumah, bagaimana nasib anak cucu mereka jika dalam mengambil kebijakan asal-asalan karena deal-deal politik dan kepentingan pihak tertentu. Di sisi lain rakyat juga harus pro aktif terhadap kebijakan yang di ambil pemerintah, jika memang positif harus di dukung dan didorong untuk intensif dilaksanakan namun jika kurang atau belum sesuai konteks harus di kritik demi kemajuan serta kejayaan pendidikan Indonesia.

Selian hal tersebut pendidikan karakter harus lebih di intensifkan mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan, perhatian orang tua siswa serta pengawasan dai banyak pihak tentang pendidikan sangat di butuhkan.

 

4.) Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan :

  • Kebijakan pendidikan yang kurang tepat sasaran
  • Guru yang kurang profesional
  • Kepedulian dan kesadaran orang tua siswa yang rendah
  • Dampak negatif dari perkembangan IPTEK yang kurang terfilter
  • Kesenjangan sosial
  • Sarpras pendidikan kurang memadai termasuk gedung karena masih banyak ditemukan gedung sekolah yang roboh.
  • Kurangnya pemerataan pendidikan terutama di daerah pinggiran, pedalaman, terpencil
  • Program KB yang belum maksimal
  • Sistem zonasi yang di sebagian daerah kurang efektif dan membuat gaduh
  • Masih ada guru yang Gaptek dan kurang melek teknologi
  • Program Indonesia Pintar (PIP) kurang tepat sasaran

 

sekian dan terimakasih.

Submitted by 825218136 on Sat, 11/02/2019 - 21:24 /

 1.      Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2.      Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

a)      Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.

 

b)      endahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.

 

c)      Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.

 

d)      Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.

 

e)      Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

 

Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembanguana sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya diluar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen dan melibatkan banyak pihak.

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

1)      Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

 

2)      Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

 

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

 

Seperti telah dikemukakan diatas, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

 

a.       Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita Undang-Undang No 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada bab XI pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

 

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Khusus pendidikan formal atau pendidikan persekolahan yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan saksama.

Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan  kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai   keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.

Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita.  Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung.

 

 

b.      Masalah Mutu Pendidikan

 

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluaranya. Jika tujuan pendidikan nasioanl dijadikan kriteria, maka pertanyaanya adalah: apakah keluaran dari sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertakwa, mandiri, anggota masyarakat yang sosial yang bertanggung jawab. Dengan kata lain keluaran ini mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran seperti tersebut adalah nurturant effect. Meskipun disadari bahwa hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan itu sendiri. Yang menjadi persoalan ialah bahwa cara pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Dan pada umumnya hanya dengan mengasosiasikan dengan hasil belajar yang sering dikenal dengan EBTA atau hasil sipenmaru.

Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu, didalam Tap MPR RI tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembanguan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya pendidikan di seluruh tanah air pada umumnya menunjukkan daerah pedesaan lebih rendah dari daerah perkotaan.

 

 

c.       Masalah Efisiensi Pendidikan

 

Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.

Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.

Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Hal ini tampak dari banyaknya anak yang drop-out, banyak anak yang belum dapat pelayanan pendidikan, banyak anak yang tinggal kelas, dan kurang dapat pelayanan yang semestinya bagi anak-anak yang lemah maupun yang luar biasa cerdas dan genius.

Oleh karena itu, harus berusaha untuk menemukan cara agar pelaksanaan pendidikan menjadi efisien.

Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:

a)      Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b)      Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan

c)      Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d)     Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembanagan tenaga kependidikan. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjanagn antara stok tenaga yang tesedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakgir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20 % dari kebutuhan tenaga lapangan. Sedangkan persediaan tenaga siap di angkat lebih bear daripada kbutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini terjadi kemubadziran yang terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian. Dan tenaga kependidikan khususnya guru tidak disiapkan untk berwirausaha.

Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering mengalami kepincanagn, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga di tempatkan didaerah sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi diluar kewenangannya, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga kerja yang tesedia didaerah terpencil.

Masalah pengembanagan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan pengembanagn tenaga pelaksana di lapangan sangat lambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru sangat memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat di rencanakan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan.dan pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif.

 

 

d.      Masalah Relevansi Pendidikan

 

Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

Pendidikan merupakan faktor penunjang bagi pembangunan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, perlu keterpaduan di dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional tersebut. Sebagai contoh pendidikan di sekolah harus di rencanakan berdasarkan kebutuhan nyata dalam gerak pembangunan nasional, serta memperhatikan ciri-ciri ketenagaan yang di perlukan sesuai dengan keadaan lingkungan di wilayah-wilayah lingkungan tertentu.

 

Telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup  sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan  tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:

a)      Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

b)      Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.

c)      Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman

         oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.

 

Dari keempat macam masalah pendidikan tersebut masing-masing dikatakan teratasi jika pendidikan:

a)      Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya semua warga Negara yang butuh    

         pendidikan dapat ditampung daalm suatu satuan pendidikan.

b)      Dapat mencapai hasil yang bermutu artinya: perencanaan, pemprosesan pendidikan dapat

         mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.

c)      Dapat terlaksana secara efisien artinya: pemrosesan pendidikan sesuai dengan rancangan dan

         tujuan yang ditulis dalam rancangan.

d)     Produknya yang bermutu tersebut relevan, artinya: hasil pendiidkan sesuai dengan kebutuhan

        masyarakat dan pembangunan. 

 

Pada dasarnya pembangunan dibidang pendidikan tentu menginginkan tercapainya pemerataan pendidikan dan pendidikan yang bermutu sekaligus. Ada dua faktor yang dapat dikemukakan sebagai penyebab mengapa pendidikan yang bermutu belum dapat diusahakan pada saat demikian, yaitu:

Pertama: gerakan perluasan pendidikan untuk melayani pemerataan kesempatan pendidikan bagi rakyat banyak memerlukan penghimpunan dan pengerahan dana dan daya.

Kedua: kondisi satuan-satuan pendidikan pada saat demikian mempersulit upaya peningkatan mutu karena jumlah murid dalam kelas terlalu banyak, pengerahan tenaga pendidik yang kurang kompeten, kurikulum yang belum mantap, sarana yang tidak memadai.

Meskipun demikian pemerataan pendidiakn tidak dapat diabaikan karena upaya tersebut, terutama pada saat suatu bangsa sedang memulai membangun mempunyai tujuan ganda, yaitu disamping tujuan politis juga tujuan pembanguan yaitu memberikan bekal dasar kepada warga Negara agar dapat menerima informasi dan memiliki pengetahuan dasar untuk mengembangkan diri sehingga dapat perpatisipasi dalam pembanguanan.

Dalam uraian tersebut tampak bahwa masalah pemerataan berkaitan erat dengan masalah mutu pendidikan.

Bertolak dari gambaran tersebut terlihat juga kaitannya dengan masalah efisiensi. Karena kondisi pelaksanaan pendidikan tidak sempurna, maka dengan sendirinya pelaksanaan pendidikan dan khususnya proses pembelajaran berlangsung tidak efisien. Hasil pendidikan belum dapat diharapkan relevan dengan kebutuhan masyarakat pembangunan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

 

 

 

 

 

3.      Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

 

a.       Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

 

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

 

Cara konvesional antara lain:

1)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

2)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

 

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

1)      SD kecil pada daerah terpencil\

 

2)       Sistem guru kunjung

 

3)      SMP terbuka

 

4)      Kejar paket A dan b

 

5)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

b.      Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

 

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

 

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

 

1)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

 

2)       Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

 

3)      Penyempurnaaan kurikulum

 

4)      Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

 

5)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

 

6)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

 

7)      Kegiatan pengendalian mutu.

 

 

 

4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

 

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

 

a)      Perkembangan Iptek Dan Seni

 

1)      Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membaw masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

 

a.       Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

 

 

b)      Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

 

1)      Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

 

2)      Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

 

 

c)      Aspirasi Masyarakat

 

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

 

 

d)      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

 

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

 

1)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

 

2)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

 

3)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

1)      Masyarakat daerah terpencil.

 

2)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

 

3)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

Referensi :

https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

Submitted by anggiseftiana09 on Sun, 11/03/2019 - 01:36 /

1.      Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2.      Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3.      Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

Jawaban saya

1.      Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.  

 

2.      Masalah pokok pendidikan di Indonesia yaitu :

a.       Kualitas pendidikan, contohnya mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan, alat bantu proses belajar mengajar belum memadai, tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

b.      Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat. Contohnya lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai, tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

c.       Elitisme.

Elitisme adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi. Contohnya kepincangan pemberian subsidi, mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

d.      Manajemen pendidikan, contohnya masalah pengelolaan sekolah, lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

e.       Pemerataan pendidikan, contohnya biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3.      Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pokok pendidikan di Indonesia yaitu

a.       Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

·         Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

·         Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

 

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

 

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

·         SD kecil pada daerah terpencil

·         Sistem guru kunjung

·         SMP terbuka

·         Kejar paket A dan b

·         Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

b.      Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

 

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

·         Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah

·         Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

·         Penyempurnaaan kurikulum

·         Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

·         Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

·         Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

·         Kegiatan pengendalian mutu.

 

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

a.       Perkembangan Iptek Dan Seni

b.      Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

·         Pertambahan Penduduk.

·         Penyebaran Penduduk

c.       Aspirasi Masyarakat

d.      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya terjadi karena:

·         Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

·         Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

·         Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Submitted by 837609679 on Sun, 11/03/2019 - 06:04 /

In reply to by ihsanudin277@g…

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Persoalan – persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya yang terjadi  di indonesia

  1. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  1. Kualitas siswa masih rendah,
  2. pengajar kurang profesional,
  1. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  1. Kualitas siswa masih rendah, :
  1. menggalakan gerakan literasi. Berdasarkan  latar belakang siswa khususnya pada bahasa daerah yang sangat beragam, membuat siswa sulit mengartikan atau memahami bahasa Indonesia, sedangkan dipendidikan formal menuntut siswa menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia, maka dengan menggalakkan literasi saya yakin siswa akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
  2. Seorang guru harus memahami bahasa siswa sehari – hari ( bahasa daerah ), dengan tujuan agar guru mampu untuk mengartikan bahasa Indonesia kedalam bahasa sehari – hari siswa
  1. pengajar kurang profesional,
  1. Kesejahteraan guru honorer masih kurang, jadi seorang guru honorer untuk memaksimalkan professional kurang, di sebabkan karena masih bingung dengan masalah ekonominya. Solusinya yaitu mensejahterakan guru honorer minimal digaji sesuai UMR
  2. Operator sekolah yang masih menggunakan tenaga pendidik yang menyebakan siswa sering ditinggal untuk melaksanakan tugas. Solusinya pemerintah harus menyiapkan tenaga operator khusus.
  3. Kekurangan tenaga pendidik yang menyebakan guru pendidik yang ada harus melakukan ngajar kelas rangkap, solusinya adalah pemerintah harus mengangkat tenaga pendidik baru setiap waktu
  1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?
  1. Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

  1. Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

  1. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut

  1. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
  2.        Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

  1.       Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by 837609679 on Sun, 11/03/2019 - 06:13 /

1.      Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Persoalan – persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya yang terjadi  di indonesia

2.      Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

a)      Kualitas siswa masih rendah,

b)      pengajar kurang profesional,

3.      Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a)      Kualitas siswa masih rendah, :

1)      menggalakan gerakan literasi. Berdasarkan  latar belakang siswa khususnya pada bahasa daerah yang sangat beragam, membuat siswa sulit mengartikan atau memahami bahasa Indonesia, sedangkan dipendidikan formal menuntut siswa menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia, maka dengan menggalakkan literasi saya yakin siswa akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

2)      Seorang guru harus memahami bahasa siswa sehari – hari ( bahasa daerah ), dengan tujuan agar guru mampu untuk mengartikan bahasa Indonesia kedalam bahasa sehari – hari siswa

b)      pengajar kurang profesional,

1)      Kesejahteraan guru honorer masih kurang, jadi seorang guru honorer untuk memaksimalkan professional kurang, di sebabkan karena masih bingung dengan masalah ekonominya. Solusinya yaitu mensejahterakan guru honorer minimal digaji sesuai UMR

2)      Operator sekolah yang masih menggunakan tenaga pendidik yang menyebakan siswa sering ditinggal untuk melaksanakan tugas. Solusinya pemerintah harus menyiapkan tenaga operator khusus.

3)      Kekurangan tenaga pendidik yang menyebakan guru pendidik yang ada harus melakukan ngajar kelas rangkap, solusinya adalah pemerintah harus mengangkat tenaga pendidik baru setiap waktu

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

a)      Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

b)      Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

c)      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut

d)     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.      Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by windanuraidaa on Sun, 11/03/2019 - 07:50 /

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa inggris “ problem “ artinya, soal, masalah atau teka teki. Juga berarti problematika, yaitu ketidak tentuan. Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendifinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang meberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individi di bantu pengembangkan daya-daya kemampuanya, bakatnya, kecakapanya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif ( daya pengetahuan ), afektif ( aspek sikap ) maupun psikomotorik ( aspek keterampilan ) yang dimiliki oleh seorang individu. Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia :

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita, yaitu:

Image removed.      Bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

Image removed.      Bagaimana  pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

Image removed.      Kualitas pendidikan

a.       mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

b.      alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

c.       tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

d.      meningkatnya efesiensi pendidikan.

Image removed.      Relevansi pendidikan

a.       Tidak adanya kesesuaian antara output ( lulusan ) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Image removed.      Elitisme

a.       Kepincangan pemberian subsidi.

b.      Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

c.       Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

Image removed.      Manajemen pendidikan

a.       Masalah pengelolaan.

b.      Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Image removed.      Pemerataan pendidikan

a.       Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

b.      Menekankan pentingnya sekolah.

 

3. Solusi  masalah:

Image removed.      konvesional :

a.       Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b.      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore ).

Image removed.      Cara inovatif :

a.       SD kecil pada daerah terpencil.

b.      Sistem guru kunjung.

c.       SMP terbuka.

d.      Kejar paket A dan B.

e.       Belajar jarak jauh, seperti di Universitas terbuka.

 

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

Image removed.      Perkembangan Iptek

a.       Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).

b.      Pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasikan mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

 

Image removed.      Perkembangan seni

a.       Kesenian merupakan aktivitas berkerasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghaasilkan sesuatu yang indah.

b.      Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkerasi ( mencipta ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.

 

Image removed.      Laju pertumbuhan penduduk

a.       Pertambahan penduduk, dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan dan beserta komponen penunjang teselangaranya pendidikan harus di tambah.

b.      Penyebaran penduduk, ada daerah yang padat penduduk terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi di penggunungan dan di pulau-pulau.

 

Image removed.      Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan

a.       Bagi masyarakat pendukung budya, kebudayaan pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

b.      Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari laur maupun dari dari dalam lingkungan masyarakat sendiri.

https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

Submitted by Indaahaw on Sun, 11/03/2019 - 09:05 /

Apa yang dimaksud problematika pendidikan ?

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan.

 

Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan, yaitu:

  • Masalah Pemerataan Pendidikan
  • Masalah Mutu Pendidikan
  • Masalah Efisiensi Pendidikan
  • Masalah Relevansi Pendidikan

 

Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

  • Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  • Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Dengan Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

  • Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.
  • Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  • Penyempurnaaan kurikulum
  • Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
  • Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
  • Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  • Kegiatan pengendalian mutu.

 

Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor- faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

  • Faktor sumber daya manusia
  • Faktor ekonomi
  • Faktor sosial
Submitted by windanuraidaa on Sun, 11/03/2019 - 09:22 /

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa inggris “ problem “ artinya, soal, masalah atau teka teki. Juga berarti problematika, yaitu ketidak tentuan. Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendifinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang meberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individi di bantu pengembangkan daya-daya kemampuanya, bakatnya, kecakapanya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif ( daya pengetahuan ), afektif ( aspek sikap ) maupun psikomotorik ( aspek keterampilan ) yang dimiliki oleh seorang individu. Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia :

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita, yaitu:

  1. Bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  2. Bagaimana  pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

  1. Kualitas pendidikan
  1. mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  2. Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  3. tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  4. meningkatnya efesiensi pendidikan.

 

  1. Relevansi pendidikan
  1. Tidak adanya kesesuaian antara output ( lulusan ) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

 

  1. Elitisme
  1. Kepincangan pemberian subsidi.
  2. Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  3. Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 

  1. Manajemen pendidikan
  1. Masalah pengelolaan.
  2. Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

 

  1. Pemerataan pendidikan
  1. Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.
  2. Menekankan pentingnya sekolah.

 

3. Solusi pemecahan

 

  1. Cara konvesional :
  1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
  2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore ).

 

  1. Cara inovatif :
  1. SD kecil pada daerah terpencil.
  2. Sistem guru kunjung.
  3. SMP terbuka.
  4. Kejar paket A dan B.
  5. Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

 

 

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan :

 

  1. Perkembangan Iptek
  1. Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).
  2. Pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasikan mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memnuhi kebutuhan hidup masyarakat.

 

  1. Perkembangan seni
  1. Kesenian merupakan aktivitas berkerasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghaasilkan sesuatu yang indah.
  2. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkerasi ( mencipta ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.

 

  1. Laju pertumbuhan penduduk
  1. Pertambahan penduduk, dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan dan beserta komponen penunjang teselangaranya pendidikan harus di tambah.
  2. Penyebaran penduduk, ada daerah yang padat penduduk terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi di penggunugan dan di pulau-pulau.

 

  1. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
  1. Bagi masyarakat pendukung budya, kebudayaan pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.
  2. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari laur maupun dari dari dalam lingkungan masyarakat sendiri.

https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

 

Submitted by @jariah06 on Sun, 11/03/2019 - 09:47 /

In reply to by HANIFAH

NAMA           : JARIAH

NIM                : 825446247

 

Submitted by admin on Fri, 08/16/2019 - 09:59

Forums

Pendidikan Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab

 

Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendefinisikan bahwa, pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

 

  1. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

 

Jawab

Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, kita masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing  di Negri sendiri terutama karena terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang irang lain. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

 

  1. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab

Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

1.      Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

2.      Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu.

 

  1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

Jawab

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan diatas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga harus diperhitungkan dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini meliputi masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional. Masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

1.     Perkembangan Iptek Dan Seni

  1. Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membaw masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

  1. Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

2.      Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

  1. Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

  1. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

3.      Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

4.      Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a)      Masyarakat daerah terpencil.

b)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang budayanya tidak ikut berperan serta dalam pembangunanmsebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaanya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

 

 

 

 

Submitted by 822769504 on Sun, 11/03/2019 - 10:07 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

4. pa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

 

 

Submitted by rzpratama_8 on Sun, 11/03/2019 - 10:08 /

1. Sehingga Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

2. Kualitas pendidikan, Relevansi pendidikan, Elitisme, Manajemen pendidikan, Pemerataan pendidikan

3. Solusinya

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
  • Subsidi silang
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu
  • Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali
  • Menekankan pentingnya sekolah.

4. faktor-faktor

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.
Submitted by Febi on Sun, 11/03/2019 - 10:18 /

 

PERTANYAAN 
1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

JAWAB : 
1. Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2. Jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.


B.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.
Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.


C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 
A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.
a.    Cara Konvesional
1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar
2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)
Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
a.    Cara Inovatif
1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
2)   SD kecil pada daerah terpencil
3)   Sistem guru kunjung
4)   Kejar paket A dan B
5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium
e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas
3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.
4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :
a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.


4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk
 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.       Pertambahan penduduk, dan
b.      Penyebaran penduduk.
      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat
            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
a.    Ilmu Pengetahuan / Science
      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.   Teknologi
      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

 

Submitted by 822769504 on Sun, 11/03/2019 - 10:30 /

In reply to by lisna

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Submitted by 822769504 on Sun, 11/03/2019 - 10:35 /

In reply to by anis_wahid

NAMA                         : ARTHASARI PONO

NIM                             : 822764734

TUGAS TUTON         : 2

MATA KULIAH        : PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI SD

 

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Submitted by jatigede on Sun, 11/03/2019 - 10:36 /

1. Problematika Pendidikan adalah Masalahan-masalah yang timbul dalam dunia pendidikan,seperti masalah kurikulum yang selalu berubah-ubah, Minimnya kondisi keuangan dalam sekolah.

2. Adapun masala pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah :

A. Kualitas pendidikan. Dimana mutu guru yang masih rendah di tiap jenjang pendidikan dan alat bantu proses belajar mengajar yang belum memadai.

B. Relevansi pendidikan.Yakni kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat,misalnya lembaga pendidikan tidak mencetak lulusan yang siap pakai.tidak ada kesesuaian antara output (lulusan ) pendidikan dengan tuntukan perkembangan ekonomi.

C. Elitisme.Yakni kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.Misalnya kepincangan pemberian subsidi,mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang kaya.

D. Manajemen Pendidikan. Masalah pengolahan sekolah,lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketnggalan jaman.

E. Pemerataan Pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Submitted by 822769504 on Sun, 11/03/2019 - 10:38 /

In reply to by @debiriski

NAMA                         : NURFANI

NIM                             : 822769504

TUGAS TUTON         : 2

MATA KULIAH        : PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI SD

 

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Submitted by 822769504 on Sun, 11/03/2019 - 10:39 /

In reply to by @debiriski

NAMA                         : NURFANI

NIM                             : 822769504

TUGAS TUTON         : 2

MATA KULIAH        : PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI SD

 

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Submitted by suraidah336 on Sun, 11/03/2019 - 10:44 /

Jawaban

1.      Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. Pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu. Jadi, problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

 

 

2.      Masalah – masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

a.       Pemerataan pendidikan

Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Program wajib belajar 9 tahun dianggap sudah mencapai sasaran sehingga dilanjutkan dengan program wajib belajar 12 tahun. Itu artinya, anak Indonesia minimal harus mendapatkan pendidikan minimal tamat sekolah menengah atas (SMU/K/Sederajat).

b.      Relevansi pendidikan

Pada awalnya, pembelajaran di lembaga sekolah dinilai tidak relevan dengan tuntutan dalam dunia kerja. Lowongan kerja yang dibutuhkan tidak terpenuhi oleh lulusan sekolah.  Oleh sebab itu, khususnya tingkat SMU/K/Sederajat diadakan program pilihan sesuai minat peserta didik. Usaha itu juga dibuktikan dengan penyempurnaan kurikulum pendidikan di lembaga sekolah.

c.       Kualitas pendidikan

Kualitas pendidikan menjadi hal yang tak dapat ditawar-tawar. Berbagai inovasi dalam teknologi pendidikan semakin disempurnakan. Salah satu yang paling anyar adalah pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Mengarahkan siswa pada proses bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan.

d.      Efisiensi pendidikan

Proses pendidikan yang efisien dinilai akan meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh sebab itu inovasi pendidikan harus berorientasi pada bagaimana pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran efektif dan efisien menjadi tuntutan agar efisiensi pendidikan dapat diwujudkan.

3.      Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan antara lain:

Pemecahan masalah pemerataan pendidikan ditempuh dengan 2 cara, yaitu :

Cara Konvensional

a. Membangun gedung sekolah seperti SD Inpers atau ruangan belajar.

b. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( pagi dan sore ).

Cara Inovatif

a.    Sistem pamong atau inpact system ( pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru ). Sistem tersebut dirintis di Solo dan diseminasikan ke beberapa provinsi.

b.    SD kecil pada daerah terpencil

c.    Sistem guru kunjung

d.   SMP terbuka

e.    Kejar paket A dan B

f.     Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka

 

Pemecahan masalah kualitas pendidikan dapat ditempuh dengan cara :

a.    Seleksi yang ketat terhadap calon yang akan masuk sekolah lanjutan atau tempat kerja.

b.    Pelatihan dan pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui latihan, penataran, seminar dan lain-lain.

c.    Peyempurnaan dan pemantapan kurikulum agar tidak mudah mengalami perubahan

d.   Pembangunan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan belajar

e.    Penggunaan alat peraga, buku paket dan laboratorium secara tepat gun.

f.     Pemantapan peraturan dalam berbagai ujian, baik itu ujian sekolah atau ujian kenegaraan.

g.    Pengawasan dan penelitian proses pendidikan oleh pemilik ke tiap sekolah.

 

Permasalahan Efesiensi pendidikan dapat dipecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan seperti :

a.    Berorientasi pada peserta

Prinsip berorientasi pada peserta didik berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatian pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari peserta didik.

b.      Pemanfaatan sumber belajar

Pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran peserta didik hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan  keterampilan yang dibutuhkannya.

 

Permasalahan relevansi pendidikan dapat dipecahkan melalui cara-cara sebagai berikut :

a.       Perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi agar tercipta manusia yang berkualitas tinggi sehingga meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

b.      Peningkatan kemampuan akademik, profesionalisme dan jaminan keejahteraan tenaga kependidikan sehingga mampu berfungsi secara optimal, terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat menunjukkan apa yang pernah ia dapatkan selama menempuh pendidikan.

c.       Melakukan pembaruan sistem pendidikan, termasuk kurikulum. Seperti menyusun kurikulum yang mengacu pada standar nasional yang berlaku secara nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat.

 

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

a.       Perkembangan Iptek dan Seni

1.      Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisir mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek, misalnya suatu teknologi baru yang digunakan  dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua tersebut tentu membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya.

2.      Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Malalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni membutuhkan pengembangan. Dengan memperhatikan alasan-alasan diatas maka sudah seharusnya jika dunia seni dikembangkan melalui sistem pendidikan secara terstruktur  dan terprogram. Pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan. Disinilah timbulnya masalah pendidikan kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi di sekolah –sekolah saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Sulitnya menyediakan  tenaga pendidiknya. Lagi pula sarana penunjang umumnya tidak tersedia secara memadai karena mahal.

b.      Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1.    Menurut Emil Salim (Conny R. Semiawan, 1991) gambaran pertambahan penduduk adalah sebagai berikut: dari sekarang hingga abad XXI, terus menerus bahan pendudukan akan terjadi pertambahan jumlah penduduk meskipun gerakan berhasil. Sebabnya karena tingkat kematian menurun lebih cepat yaitu sebesar  4.5 % dari turunnya tinggi kelahiran, yaitu sebesar 3,5 %. Hal tersebut juga mengakibatkan berubahnya susunan umur  penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyedian prasarana dan sarana pendidikan serta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Dan juga terjadi pergeseran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekloah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjut ke perguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan nonformal.

2.      Penyebaran Penduduk. Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air  tidak merata. Ada daerah yang dapat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang padat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu didaerah pedalaman khususnya didaerah terpencil yang berlokasi dipegunungan dan pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

c.       Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak-anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Apa akibat yang timbul dari perubahan social tersebut? Gejala yang timbul ialah membanjinya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota, di samping pendidikan formal mulia bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal.

d.      Keterbelakang Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakang budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya, kebudayaanya dipadang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dari kenyataan apakah kebudayaannya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif. Semestinya masyarakat luar bukan harus menilainya hanya melihat bagaimana kesesuaian kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. 

 

Sumber:

 

https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

 

http://belajartanpabuku.blogspot.com/2013/03/pengertian-problematika-pendidikan.html

 

https://www.matrapendidikan.com/2014/07/masalah-pokok-dalam-pendidikan-nasional.html

 

Submitted by suraidah336 on Sun, 11/03/2019 - 10:47 /

Nama              : SURAIDAH

NIM                : 858147805

UPBJJ            : 48/ PALANGKA RAYA

MATA KULIAH: PERSPENTIF PENDIDIKAN

TUGAS TUTORIAL 2

 

Forums Pendidikan Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

1.      Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2.      Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3.      Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawaban

1.      Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan. Pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu. Jadi, problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

 

 

2.      Masalah – masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

a.       Pemerataan pendidikan

Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Program wajib belajar 9 tahun dianggap sudah mencapai sasaran sehingga dilanjutkan dengan program wajib belajar 12 tahun. Itu artinya, anak Indonesia minimal harus mendapatkan pendidikan minimal tamat sekolah menengah atas (SMU/K/Sederajat).

b.      Relevansi pendidikan

Pada awalnya, pembelajaran di lembaga sekolah dinilai tidak relevan dengan tuntutan dalam dunia kerja. Lowongan kerja yang dibutuhkan tidak terpenuhi oleh lulusan sekolah.  Oleh sebab itu, khususnya tingkat SMU/K/Sederajat diadakan program pilihan sesuai minat peserta didik. Usaha itu juga dibuktikan dengan penyempurnaan kurikulum pendidikan di lembaga sekolah.

c.       Kualitas pendidikan

Kualitas pendidikan menjadi hal yang tak dapat ditawar-tawar. Berbagai inovasi dalam teknologi pendidikan semakin disempurnakan. Salah satu yang paling anyar adalah pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Mengarahkan siswa pada proses bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan.

d.      Efisiensi pendidikan

Proses pendidikan yang efisien dinilai akan meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh sebab itu inovasi pendidikan harus berorientasi pada bagaimana pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran efektif dan efisien menjadi tuntutan agar efisiensi pendidikan dapat diwujudkan.

3.      Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan antara lain:

Pemecahan masalah pemerataan pendidikan ditempuh dengan 2 cara, yaitu :

Cara Konvensional

a. Membangun gedung sekolah seperti SD Inpers atau ruangan belajar.

b. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( pagi dan sore ).

Cara Inovatif

a.    Sistem pamong atau inpact system ( pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru ). Sistem tersebut dirintis di Solo dan diseminasikan ke beberapa provinsi.

b.    SD kecil pada daerah terpencil

c.    Sistem guru kunjung

d.   SMP terbuka

e.    Kejar paket A dan B

f.     Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka

 

Pemecahan masalah kualitas pendidikan dapat ditempuh dengan cara :

a.    Seleksi yang ketat terhadap calon yang akan masuk sekolah lanjutan atau tempat kerja.

b.    Pelatihan dan pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui latihan, penataran, seminar dan lain-lain.

c.    Peyempurnaan dan pemantapan kurikulum agar tidak mudah mengalami perubahan

d.   Pembangunan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan belajar

e.    Penggunaan alat peraga, buku paket dan laboratorium secara tepat gun.

f.     Pemantapan peraturan dalam berbagai ujian, baik itu ujian sekolah atau ujian kenegaraan.

g.    Pengawasan dan penelitian proses pendidikan oleh pemilik ke tiap sekolah.

 

Permasalahan Efesiensi pendidikan dapat dipecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan seperti :

a.    Berorientasi pada peserta

Prinsip berorientasi pada peserta didik berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatian pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari peserta didik.

b.      Pemanfaatan sumber belajar

Pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran peserta didik hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan  keterampilan yang dibutuhkannya.

 

Permasalahan relevansi pendidikan dapat dipecahkan melalui cara-cara sebagai berikut :

a.       Perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi agar tercipta manusia yang berkualitas tinggi sehingga meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

b.      Peningkatan kemampuan akademik, profesionalisme dan jaminan keejahteraan tenaga kependidikan sehingga mampu berfungsi secara optimal, terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat menunjukkan apa yang pernah ia dapatkan selama menempuh pendidikan.

c.       Melakukan pembaruan sistem pendidikan, termasuk kurikulum. Seperti menyusun kurikulum yang mengacu pada standar nasional yang berlaku secara nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat.

 

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

a.       Perkembangan Iptek dan Seni

1.      Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisir mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek, misalnya suatu teknologi baru yang digunakan  dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua tersebut tentu membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya.

2.      Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Malalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni membutuhkan pengembangan. Dengan memperhatikan alasan-alasan diatas maka sudah seharusnya jika dunia seni dikembangkan melalui sistem pendidikan secara terstruktur  dan terprogram. Pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan. Disinilah timbulnya masalah pendidikan kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi di sekolah –sekolah saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Sulitnya menyediakan  tenaga pendidiknya. Lagi pula sarana penunjang umumnya tidak tersedia secara memadai karena mahal.

b.      Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1.    Menurut Emil Salim (Conny R. Semiawan, 1991) gambaran pertambahan penduduk adalah sebagai berikut: dari sekarang hingga abad XXI, terus menerus bahan pendudukan akan terjadi pertambahan jumlah penduduk meskipun gerakan berhasil. Sebabnya karena tingkat kematian menurun lebih cepat yaitu sebesar  4.5 % dari turunnya tinggi kelahiran, yaitu sebesar 3,5 %. Hal tersebut juga mengakibatkan berubahnya susunan umur  penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyedian prasarana dan sarana pendidikan serta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Dan juga terjadi pergeseran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekloah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjut ke perguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan nonformal.

2.      Penyebaran Penduduk. Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air  tidak merata. Ada daerah yang dapat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang padat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu didaerah pedalaman khususnya didaerah terpencil yang berlokasi dipegunungan dan pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

c.       Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak-anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Apa akibat yang timbul dari perubahan social tersebut? Gejala yang timbul ialah membanjinya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota, di samping pendidikan formal mulia bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal.

d.      Keterbelakang Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakang budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya, kebudayaanya dipadang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dari kenyataan apakah kebudayaannya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif. Semestinya masyarakat luar bukan harus menilainya hanya melihat bagaimana kesesuaian kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. 

 

Sumber:

 

https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

 

http://belajartanpabuku.blogspot.com/2013/03/pengertian-problematika-pendidikan.html

 

https://www.matrapendidikan.com/2014/07/masalah-pokok-dalam-pendidikan-nasional.html

 

Submitted by 822764734 on Sun, 11/03/2019 - 11:07 /

In reply to by ihsanudin277@g…

NAMA                         : ARTHASARI PONO

NIM                             : 822764734

TUGAS TUTON         : 2

MATA KULIAH        : PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI SD

 

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab:

Problematika pendidikan  adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2.Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab:

Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  • Kualitas pendidikan
  •  
  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
  • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  • Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  •  
  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
  •  

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:   

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
  • Manajemen Pendidikan
  •  
  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
  • Pemerataan Pendidikan
    •  
  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab:

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.
  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab:

  • Perkembangan Iptek

Hubungan antara pendidikan dan iptek itu misalnya suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya.

Contohnya : materi atau bahan ajar yang terdapat  dalam kurikulum harus sudah dirubah/disesuaikan, kebutuhan tenaga kerja akan bertambah seiring berkembangnya teknologi untuk itu pendidikan harus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

  • Perkembangan seni

Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya aktifitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping dominan kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.

Contohnya : perkembangan seni dapat menuntut tersedianya sarana pendidikan sendiri.

  • Laju Pertumbuhan Penduduk

Masalah kependudkkan dan kependidikan diantaranya pertumbuhan penduduk dengan bertambahnya penduduk sarana dan prasarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus bertambah, serta penyebaran penduduk seperti digambarkan menimbulkan kesulitran dalam penyediaan sarana pendidikan.

Contohnya : sarana pendidikan harus disesuaikan dengan jumlah siswa disetiap daerah

  • Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat dalam banyak hal yang meningkat,khususnya dalam aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan dan pendidikan memberikan jaminan untuk memperoleh pekerjaanb yang layak dan menetap itu.

Contohnya : aspirasi yang menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

 

 

 

  • Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan

Keterbelakangan budaya adalah salah satu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyartakat (yang menganggap dirinya sudah maju) bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik.

Contohnya : masyarakat mengikis kebudayaan lama dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

 

Submitted by ebahh on Sun, 11/03/2019 - 11:34 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1.masalah pemerataan pendidikan dipandang penting sebab jika anak - anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki belak dasar berupa kemmpuan membaca, menulis dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia nbaik iyu nantinya berperan sebagai produsen maupun sebagai konsumen. dengan demikian mereka mtidak terbelakang dan menjadi pemnghambat pembangunan.

2.a. masalah mutu pendidikan

     : mutu pendidikan dipermasalhkan jika belum mencapai taraf seperti yang diharapkan

b. masalah efisiensi pendidikan

        masalah efisiensi  pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada

       untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat maka dikatakan memiliki efisiensi yang tinggi.

c. masalah relevansi pendidikan

       : merupakan masalah yang timbul  karena ketidaksesuaiannya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga dan masyarakat, baik dalam janhka pendek maupun dalam jamgka panjang

 

3. solusi pemecahan problematika pendidikan di Indonesia

a. solusi masalah pemerataan pendidikan

     cara konvensional : - membangun gedung sekolah, seperti sd inpres atau ruang belajar

                                     -  menggunakan gedung sekolah untuk doble shift

    cara inovatif           :  - SD kecil pada daerah terpencil

                                      - sistem guru berkunjung

                                     -  SMP terbuka

                                     - kejar paket A dan paket B

                                     - belajar jarak jauh, seperti UT

b.  solusi masalah mutu, efisiensi dan relevansi pendidikan

     -  seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untul SLTA dan PT

    -  pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut

   -  penyempurnaan kurikulum

    -   penyempurnaan sarana belajar

     - penyempurnaan administrasi manajemen

    - kegiatan pengendalian mutu

 

4. faktor faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan :

a. perkembangan iptek dan seni

b. laju pertumbuhan penduduk

c. aspirasi masyarakat

d. keterbelakangan budaya dan saran kehidupan

 

Submitted by Yusficha on Sun, 11/03/2019 - 11:41 /

PERTANYAAN 

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

JAWAB : 

1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

 

A. Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.

 

 

B.    Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.

Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.

 

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :

a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan

c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 

A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.

a.    Cara Konvesional

1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar

2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)

Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

a.    Cara Inovatif

1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

2)   SD kecil pada daerah terpencil

3)   Sistem guru kunjung

4)   Kejar paket A dan B

5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

 

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan

Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:

a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.

b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.

c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium

e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.

f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:

1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan

2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas

3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.

4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :

a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang

Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.

4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.    Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.   Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by aisyah on Sun, 11/03/2019 - 12:18 /
  1. Problematika pendidikan adalah persoalan atau permasalahan- permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan.
  2. Masalah pokok pendidikan di indonesia.
  • Pemerataan pendidikan, kurangnya penyediaan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan.
  • Kuantitas, kurangnya daya tampung sekolah
  • Kualitas pendidikan, rendahnya kualitas guru dan sarana prasarana
  • Efensiensi pendidikan, waktu tidak sesuai dengan perencanaan
  • Efektivitas pendidikan, hasil pembelajaran yang rendah.
  • Relevansi pendidikan, banyaknya lulusan yang menganggur dan kompetensi tidak sesuai dengan kebutuhan pembangunan 
  • Mahalnya biaya pendidikan.

3. Solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan

  • Mendirikan sekolah didaerah terpencil 
  • Memberikan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi guru-guru
  • Menggunakan metode pembelajaran yang tepat 
  • Diperlukan kebijakan pemerataan pendidikan
  • Memberikan keterampilan khusus pada peserta didik
  • Memberikan beasiswa kepada siswa yang rajin dan cerdas

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan 

  • Perkembangan iptek dan seni
  • Laju pertumbuhan penduduk
  • Aspirasi masyarakat
  • Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan.
Submitted by Heni on Sun, 11/03/2019 - 12:51 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1. Problematika Pendidikan adalah Masalahan-masalah yang timbul dalam dunia               pendidikan,seperti masalah kurikulum yang selalu berubah-ubah, Minimnya kondisi     keuangan dalam sekolah, 

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia

    a. Masih minimnya kesejahteraan guru honorer

    b.  Rendahnya tingkat SDM guru 

    c. Minimnya kualitas peserta didik,

    d.  Minimnya pendidikan  agama, moral dan akhlak

    e. Tingginya tingkat  persaingan antar sekolah

    f. Tuntutan yang tinggi bagi guru. seperti  program administrasi sekolah harus dilakukan            secara online, dan semua itu diatur oleh sistem aplikasi.

   g. Kurikulum pendidikan di Indonesia yang berubah-ubah

   h. Rendahnya profesional guru dalam mengajar

3.Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia

   a. Meningkatkan kualitas SDM guru

   b. Mengubah pola fikir untuk bersaing secara sehat dalam meningkatkan pendidikan                 sekolah

   c. Menerapkan dan mengembangkan pendidikan keagamaan, moral dan akhlak di sekolah

   d. Meningkatkan professional guru dalam mengajar

   e. Meningkatkan kesejahteraan guru honorer

4. Faktor- faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

   a. Faktor sumber daya manusia

   b. Faktor ekonomi

   c. Faktor sosial

 

Submitted by IDA on Sun, 11/03/2019 - 12:55 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Jawab : Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus atau persoalan-persoalan atau permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Jawab :

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

2.Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

3. Elitisme Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi. – Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

4. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Jawab : – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

– Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

 

– Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

– Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

5.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawab : Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ).

Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.

Submitted by Henni Wahyuni- on Sun, 11/03/2019 - 13:07 /

nama: heni wahyuni

nim: 825830476

JAWAB : 
1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2. jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.


B.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.
Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.


C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 
A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.
a.    Cara Konvesional
1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar
2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)
Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
a.    Cara Inovatif
1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
2)   SD kecil pada daerah terpencil
3)   Sistem guru kunjung
4)   Kejar paket A dan B
5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium
e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas
3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.
4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :
a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.
4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk
 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.       Pertambahan penduduk, dan
b.      Penyebaran penduduk.
      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat
            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
a.    Ilmu Pengetahuan / Science
      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.   Teknologi
      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

 

 

Submitted by ROHAYANI on Sun, 11/03/2019 - 13:08 /


PERTANYAAN

1.Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2.Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia? 

3.Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

JAWAB : 
problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.


B.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.
Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.


C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 
A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.
a.    Cara Konvesional
1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar
2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)
Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
a.    Cara Inovatif
1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
2)   SD kecil pada daerah terpencil
3)   Sistem guru kunjung
4)   Kejar paket A dan B
5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium
e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas
3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.
4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :
a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.
4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk
 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.       Pertambahan penduduk, dan
b.      Penyebaran penduduk.
      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat
            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
a.    Ilmu Pengetahuan / Science
      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.   Teknologi
      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by budi truswanto on Sun, 11/03/2019 - 13:12 /

Pendidikan Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

Jawaban

  1. Adalah segala permasalahan pada pendidikan yang membutuhkan sebuah pemecahan atau jalan keluar. Contoh kurikulum 13 yang suit diaplikasikan dalam proses KBM
  2. Mahalnya biaya pendidikan, fasilitas yang kurang mendukung, rendahnya pemerataan pendidikan, kurangnya minat untuk bersejolah.
  3. Perlunya peran serta pemerintah dalam proses pemerataan baik dari segi keuangan maupun memberikan sosialisasi pentingnya pendidikan.
  4. Perkembangan nilai budaya dan seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat, keterbelakangan budaya dan sarana

 

Submitted by budi truswanto on Sun, 11/03/2019 - 13:12 /

Pendidikan Dasar

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

Jawaban

  1. Adalah segala permasalahan pada pendidikan yang membutuhkan sebuah pemecahan atau jalan keluar. Contoh kurikulum 13 yang suit diaplikasikan dalam proses KBM
  2. Mahalnya biaya pendidikan, fasilitas yang kurang mendukung, rendahnya pemerataan pendidikan, kurangnya minat untuk bersejolah.
  3. Perlunya peran serta pemerintah dalam proses pemerataan baik dari segi keuangan maupun memberikan sosialisasi pentingnya pendidikan.
  4. Perkembangan nilai budaya dan seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat, keterbelakangan budaya dan sarana

 

Submitted by Rohmatika Oke on Sun, 11/03/2019 - 13:12 /

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan.

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

Ada empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesempatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud adalah:

a. Masalah Pemerataan Pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaiman sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguana sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung.[2]

b. Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenagan terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tesebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja. Lazimnya masih dilakukan pelatihan dan pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan, dan berkarya.

Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluaranya. Jika tujuan pendidikan nasioanl dijadikan kriteria, maka pertanyaanya adalah: apakah keluaran dari sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertakwa, mandiri, anggota masyarakat yang sosial yang bertanggung jawab. Dengan kata lain keluaran ini mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran seperti tersebut adalah nurturant effect. Meskipun disadari bahwa hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan itu sendiri. Yang menjadi persoalan ialah bahwa cara pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Dan pada umumnya hanya dengan mengasosiasikan dengan hasil belajar yang sering dikenal dengan ujian atau hasil sipenmaru.

c. Masalah Efisiensi Pendidikan
Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia. Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran depertemen pendidikan dan kebudayaan.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:
1)  Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
2) Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan
3)  Bagaimana pendidikan diselenggarakan
4) Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

d. Masalah Relevansi Pendidikan
Maslah relevensi adalah masalah yang timbul karena tidak sesuainya sistem pendidikan dengan pembangunan nasional setara kebutuhan perorangan, keluarga, dan masyarakat, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

Pendidikan merupakan faktor penunjang bagi pembangunan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, perlu keterpaduan di dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional tersebut. Sebagai contoh pendidikan di sekolah harus di rencanakan berdasarkan kebutuhan nyata dalam gerak pembangunan nasional, serta memperhatikan ciri-ciri ketenagaan yang di perlukan sesuai dengan keadaan lingkungan di wilayah-wilayah lingkungan tertentu.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan  tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain sebagai berikut :
1) Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
2) Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.
3) Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a. Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, antara lain :
1) Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.
2) Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).
3) SD kecil pada daerah terpencil
4) Sistem guru kunjung
5) SMP terbuka
6) Sistem kejar paket
7) Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan.
Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:
1) Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan Perguruan Tiggi
2) Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
3) Penyempurnaaan kurikulum
4) Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
5) Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran
6) Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
7) Kegiatan pengendalian mutu.[6]--
 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya permasalahan pendidikan :
a. Pengaruh IPTEK
1) IP (Ilmu Pengetahuan)
Berkembangnya IP (Science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

2) TEK (Teknologi)
Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru.
Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sistem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi.

3) S (Seni)
Aktivitas kesenian mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Secara khusus kesenian dapat mengembangkan domain / aspek afektif dari peserta didik.
Duni seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini, sudah barang tentu akan menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana serta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

b. Laju Pertumbuhan Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka ratio guru siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan munculnya masalah lain seperti masalah mutu.
Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang).

c. Aspirasi Masyarakat
Kecendrungan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan status sosial mereka.
Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasiswa baru, ratio guru-ssiwa, waktu belajar, permasalahan akan terus berkembang karena saling kait seperti yang telah dikemukakan pada Bab terdahulu.

d. Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Masyarakat kita yang umumnya berada didaerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan/ketinggalannya bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khususnya bagaimana sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.
 

Submitted by Mega N on Sun, 11/03/2019 - 13:25 /

PERTANYAAN

1.      Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

2.      Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

3.      Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

 

JAWAB :

1)      problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.  Di beberapa daerah sarans sekolah belum memadai atau tdk layak.

tenaga kerja guru di daerah plosok kurang.

sarana dan prasarana tdk memadai.

kurangnya kesadaran masyarakat trhdp pendidikan.

banyak anak yg tdk mampu, harus berhenti sekolah

 

2)      jenis permasalahan pokok pendidikan adalah :

 

A.    Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.

 

 

B.    Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.

Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.

 

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :

a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan

c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3)  Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut

A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.

a.    Cara Konvesional

1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar

2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)

Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

a.    Cara Inovatif

1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

2)   SD kecil pada daerah terpencil

3)   Sistem guru kunjung

4)   Kejar paket A dan B

5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

 

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan

Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:

a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.

b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.

c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium

e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.

f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:

1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan

2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas

3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.

4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :

a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang

Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.

4) .Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.    Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.   Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by Fitria125 on Sun, 11/03/2019 - 13:26 /

PERTANYAAN 
1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

JAWAB : 
1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2. jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.


B.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.
Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.


C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 
A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.
a.    Cara Konvesional
1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar
2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)
Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
a.    Cara Inovatif
1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
2)   SD kecil pada daerah terpencil
3)   Sistem guru kunjung
4)   Kejar paket A dan B
5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium
e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas
3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.
4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :
a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.
4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk
 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.       Pertambahan penduduk, dan
b.      Penyebaran penduduk.
      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat
            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
a.    Ilmu Pengetahuan / Science
      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.   Teknologi
      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

PERTANYAAN 
Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

JAWAB : 
problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

jenis permasalahan pokok pendidikan adalah : 

Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.


B.    Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.
Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.


C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan
b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3.   Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut 
A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.
a.    Cara Konvesional
1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar
2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)
Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
a.    Cara Inovatif
1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.
2)   SD kecil pada daerah terpencil
3)   Sistem guru kunjung
4)   Kejar paket A dan B
5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar
d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium
e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas
3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.
4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D.    Masalah Relevansi Pendidikan
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :
a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap  kembang
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.
4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk
 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.       Pertambahan penduduk, dan
b.      Penyebaran penduduk.
      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C.     Aspirasi Masyarakat
            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
a.    Ilmu Pengetahuan / Science
      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

b.   Teknologi
      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

 

Submitted by Mega N on Sun, 11/03/2019 - 13:33 /

1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.  Di beberapa daerah sarans sekolah belum memadai atau tdk layak. tenaga kerja guru di daerah plosok kurang. sarana dan prasarana tdk memadai. kurangnya kesadaran masyarakat trhdp pendidikan. banyak anak yg tdk mampu, harus berhenti sekolah

 

2. jenis permasalahan pokok pendidikan adalah :

  1. Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya  anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi:

Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.

 

 

B.    Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan.

Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.

 

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :

a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b.    Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan

c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d.   Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

3)  Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut

A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif.

a.    Cara Konvesional

1)   Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar

2)   Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore)

Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

a.    Cara Inovatif

1)   Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

2)   SD kecil pada daerah terpencil

3)   Sistem guru kunjung

4)   Kejar paket A dan B

5)   Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

 

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan

Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut:

a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.

b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.

c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium

e.    Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.

f.     Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:

1)   Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan

2)   Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas

3)   Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN.

4)   Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

 

C.    Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

 

D.    Masalah Relevansi Pendidikan

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.

Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut :

a.    Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

b.    Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang

Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.

4) .Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)

            Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

 

B.     Laju Pertumbuhan Penduduk

 Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :

a.       Pertambahan penduduk, dan

b.      Penyebaran penduduk.

      Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

      Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

 

C.     Aspirasi Masyarakat

            Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.

            Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

 

D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

            Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

 

E.     Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

a.    Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

b.   Teknologi

      Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by Dedeh on Sun, 11/03/2019 - 13:53 /

In reply to by VERONIKA ROOSIKASARI

Pendidikan…

1. Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.      

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah:

1. Kualitas pendidikan

Misalnya:    – Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.

– Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

– Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mengatasinya:     – Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.

– Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

Misalnya:    – Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.

– Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Untuk mengatasinya:     – Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

– Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Misalnya:    – Kepincangan pemberian subsidi.

– Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

Untuk mengatasinya:     – Subsidi silang.

– Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan

Misalnya:    – Masalah pengelolaan sekolah.

– Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

Untuk mengatasinya:     – Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan

Misalnya:    – Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

Untuk mengatasinya:     – Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.

– Menekankan pentingnya sekolah.

3.

KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pada awal Repelita I terdapat ketidakseimbangan yang antara lain meliputi:

– Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah fasilitasnya.

– Ketidakseimbangan antara bidang pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja.

– Ketidakseimbangan antara jumlah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Selain ketidakseimbangan itu masih ada masalah lain seperti:

– Banyaknya buta aksara dan angka

– Banyaknya siswa yang drop out.

– Rendahnya kualitas hasil pendidikan.

– Kurangnya tenaga pengajar.

– Dalam administrasi pendidikan masih terjadi kecurangan.

Dalam Repelita II, masalah yang timbul antara lain:

– Masalah yang berkaitan dengan pengembangan sistem pendidikan.

– Pemeliharaan dan peningkatan mutu pendidikan.

– Perluasan mutu pendidikan pada semua tingkat.

– Perluasan kesempatan belajar.

– Pengembangan sistem penyajian.

– Pendidikan non-formal (di luar sekolah).

– Pembinaan generasi muda.

– Pengembangan sistem informasi.

– Pengarahan penggunaan sumber pembiayaan.

Kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada Repelita I meliputi:

Repelita I:     – Program pendidikan secara horisontal lebih diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan yang diprioritaskan.

– Program pendidikan secara vertikal diarahkan kepada perbaikan keseimbangan dengan menitikberatkan kepada tingkat pendidikan menengah.

Program-progam tersebut meliputi:

– Program Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar

– Program Penambahan Pendidikan Kejuruan pada Sekolah Lanjutan Umum

– Program Peningkatan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

– Program Peningkatan Pendidikan Guru

– Program Pendidikan Masyarakat dan Orang Dewasa

– Program Pengembangan Pendidikan

– Program Pembinaan Kebudayaan dan Olahraga

– Program Pendidikan Latihan Institusional

– Program Peningkatan Penelitian

Repelita II:    –   Pemerataan dalam memperoleh kesempatan pendidikan.

Repelita III:  –   Menyediakan fasilitas belajar pada pendidikan dasar bagi anak berumur 7-12 tahun

–   Menampung lulusan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Repelita IV:  – Memprogramkan tiga kebijaksanaan umum dalam pembangunan bidang pendidikan nasional yang meliputi: pendidikan seumur hidup, pendidikan semesta menyeluruh dan terpadu serta kebijaksanaan untuk membina kemajuan adat, budaya dan persatuan

Repelita V:   –   Memperbaiki sistem dan multi pendidikan dalam keseluruhan unsur, jenis, jalur, dan jenjangnya.

–   Meningkatan mutu kurikulum, silabus, tenaga pengajar, pelatih, metode dan sarana pengajaran.

–   Meningkatkan pembudayaan nilai-nilai Pancasila dalam rangka mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.

–   Meningkatkan mutu pendidikan.

–   Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

–   Menata kembali sistem pendidikan guru dan tenaga pendidikan lainnya.

–   Melaksanakan penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan agar dapat menghasilkan gagasan-gagasan baru yang berorientasi pada penyempurnaan sistem pendidikan yang efisien.

–   Penyeragaman mutu pendidikan melalui pengembangan institusi dan sistem pengujian untuk semua jenis dan jenjang pendidikan, agar dapat diupayakan standarisasi mutu pendidikan baik secara regional maupun nasional.

4. A.    Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

    B.    Laju Pertumbuhan Penduduk

    C.    Aspirasi Masyarakat

    D.    Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

    E.    Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

Submitted by Riyanto_sugeng on Sun, 11/03/2019 - 14:23 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1.Problema pendidikan adalah masalah-masalah yang terjadi pada proses pembelajaran yang perlu adanya pemecahan masalah, untuk mengembangkan potensi secara maksimal.

2.masalah pokok pendidikan di Indonesia

 a. kualitas pendidikan 

 b. relevansi Pendidikan

 c. elitisme ( mahalnya biaya pendidikan )

 d. pemerataan pendidikan

3. solusi yang tepat untik mengatasi

   a. meningkatkan anggaran pendidikan untuk pelatihan gratis bagi guru honorer, pengadaan alat peraga

    b. menganti kurikulum sesuai dengan tuntutan zaman

    c. memberikan bea siswa pada yang tidak mampu

    d. sarana dan prasarana pendidikan ke seluruh pelosok

4.faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

     a. perkembangan Iptek dan seni

     b. Laju Pertumbuhan Penduduk

     c. Aspirasi Masyarakat

     d. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan

Submitted by hamdigokil on Sun, 11/03/2019 - 14:33 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia. Dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya.

 

2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

  Beberapa masalah pokok pendidikan di Indonesia, antara lain sebagai berikut

  1. Kualitas pendidikan misalnya:
    • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
    • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
    • Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
  2. Relevansi pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat.

  • Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
  • Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

    3. Elitisme

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi. Misalnya:  

  • Kepincangan pemberian subsidi.
  • Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.

    4. Manajemen pendidikan, misalnya:   

  • Masalah pengelolaan sekolah.
  • Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.

    5. Pemerataan pendidikan,  misalnya:   

  • Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

 

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

Berdasarkan masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia di soal no.2 diatas, solusinya adalah:

1. Kualitas pendidikan untuk mengatasinya:   

  • Meningkatkan anggaran untuk pendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi pendidikan.

2. Relevansi pendidik untuk mengatasinya:    

  • Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha
  • Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman

3. Elitisme untuk mengatasinya:    

  • Subsidi silang.
  • Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.

4. Manajemen pendidikan untuk mengatasinya:   

  • Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.

5. Pemerataan pendidikan untuk mengatasinya:    

  • Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun.
  • Menekankan pentingnya sekolah.

 

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Terdapat 4 (empat) faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan yaitu : 

  • Perkembangan iptek dan seni
  • Laju pertumbuhan penduduk
  • Aspirasi Masyarakat
  • Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
Submitted by nenewijaya on Sun, 11/03/2019 - 15:10 /

Problematika adalah masalah yang dihadapi.  Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI/jagokata.com). jadi, problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

Masalah pemerataan pendidikan berkaitan dengan persoalan bagaimana sistem pendidikan  dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh Warga Negara dalam memperoleh pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang menunjang pembangunan.

Masalah mutu pendidikan yang berkaitan dengan pemerataan mutu dan pemrosesan pendidikan yang ditunjang oleh komponen pendidikan (peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar)

Masalah efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumberdaya manusia. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.

Masalah relevansi pendidikan yang mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

Solusi untuk mengatasi problematika pendidikan, antara lain diperlukan adanya sistem pendidikan yang dapat memberikan pemerataan pendidikan dan  pelayanan pendidikan yang merata pada daerah-daerah terpencil di Indonesia maupun daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana pendidikan agar mendapatkan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional tanpa mengesampingkan efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia secara tepat untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Kesadaran komponen pendidikan untuk turut berperan serta dan bekerja sama dalam proses pendidikan (formal maupun informal) juga diperlukan demi berkembangnya mutu pendidikan. Kesadaran tersebut hendaknya kesadaran untuk membangun bangsa dan negara yang lebih baik lagi.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

Perkembangan iptek dan seni.

Laju pertumbuhan penduduk.

Aspirasi masyarakat.

Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.

Submitted by sri_palupi on Sun, 11/03/2019 - 15:38 /

In reply to by ihsanudin277@g…

1.problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan ,khususnnya negara indonesia.dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks .kiat masih menhadapi sejumlah masalah yang sifatnya berantai sejak jejak pendidikan dasar sampai kependidikan tinggi.rendahnya kualitas pada pendidikan sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi.

2.masalah pokok yang diahadpi oleh dunia pendidikan 

  1. masalah pemerataan pendidikan 
  2. masalah mutu pendidikan
  3. masalah efisiensi pendidikan
  4. masalah relevansi pendidikan

3.alternatif solusinya

  1. membangun gedung sekolah sperti SD inpres atau ruangan belajar
  2. penyempurnaan kurikulum
  3. perkembangan iptek dan seni

4.

Submitted by 2010husnul on Sun, 11/03/2019 - 16:05 /

1.      Apa yang dimaksud problematika pendidikan?

Masalah - masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya yang terjadi  di indonesia

2.      Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?

  •  Kualitas siswa masih rendah,
  •  pengajar kurang profesional,

3.      Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?

a)      Kualitas siswa masih rendah, :

  •  Mengadakan les privat bagi siswa
  •  Mengubah kurikulum

b)      pengajar kurang profesional,

  • Kesejahteraan guru honorer masih kurang, sedangkan rata rata guru di Indonesia di dominasi guru honorer
  •  Kekurangan tenaga pendidik yang menyebakan guru pendidik yang ada harus melakukan ngajar kelas rangkap, solusinya adalah pemerintah harus mengangkat tenaga pendidik baru setiap waktu

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

a.  Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni

Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

  b. Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.

c. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana

Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut

d.  Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan

       Ilmu Pengetahuan / Science

      Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.

 

Submitted by Fredy N on Sun, 11/03/2019 - 16:10 /

JAWAB :

1. problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

2. jenis permasalahan pokok pendidikan adalah :

A. Masalah Pemerataan Pendidikan Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional di harapkan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjukan pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apa bila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang no. 4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada Bab XI, pasal 17 berbunyi: Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syart-syarat yang di tetepkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu sepenuhi.

B. Masalah Mutu Pendidikan Mutu pendidikan di permasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang di harapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhagdap calon luaran, vdengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun kelapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih di lakukan pelatihan pemegangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja dilapangan. Jadi mutu pendiidkan pada akhirnya dilihat pada kualiutas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasiomnal dijadikaln kritetria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluarga dari suautu sistem pendidikan menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang social dan bertangguang jawab, warga Negara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan social. Dengan kata lalin apakah keluaran itu mewujutkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran sepertin itu disebut nurturant effect. Meskipun di sadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan di anggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah cara pegukuran produk tersebut tidak mudah. Berhubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang di kenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang bias di sebut instructional effect), karena ini yang mudah di ukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu di pandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.

C. Masalah Efisiensi Pendidikan Masalah Efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suautu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya begrarti rendah. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah : a. Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan b. Bagaimana parasarana dan sarana pendidikan di gunakan c. Bagaimana pendidikan diselenggarakan d. Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha. D. Masalah Relevansi Pendidikan Telah di jelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalh seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

3. Cara Mengatasi Permasalah Pokok tersebut

A. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan Banyak macam pemecaan masalah yang telah sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkat di tempui melaluai cara konvesional dan cara inovahtif. a. Cara Konvesional 1) Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruang belajar 2) Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sisteme pergantian pagi dan sore) Sehubungan dengan itu yang perluh dikalahkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya. a. Cara Inovatif 1) Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat,orang tua, dan guru) atau inpacts system ( Instrutional Management by Parent, Community and teacher). Sistem tersebut di rintis di sekolah dan didiseminasikan ke beberapa provinsi. 2) SD kecil pada daerah terpencil 3) Sistem guru kunjung 4) Kejar paket A dan B 5) Belajar jarak jauh, seperti Universitas terbuka.

B. Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan manajemen sebagai berikut: a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT. b. Pengembangan kemampuan ketenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain. c. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar d. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium e. Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran. f. Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan: 1) Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan 2) Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas 3) Sistem ujian nasional atau Negara seperti Ebtanas, Sipenmaru atau UMPTN. 4) Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

C. Masalah Efisiensi Pendidikan Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terahir ini jatuh pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap di angkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besat dari kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera di fungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.

D. Masalah Relevansi Pendidikan Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lain-lalin. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sitem pendidikan manghasilakan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan yang aktual (yang tersedia) maupu potensial dengan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja,maka relevansi pendidikan di anggap tinggi. Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tesebut cukup idial jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumya pada gambaran tentang kerajaan yang ada antara lain sebagai berikut : a. Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya. b. Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedian.

 

4.Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan

A. Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005) Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).

B. Laju Pertumbuhan Penduduk Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu : a. Pertambahan penduduk, dan b. Penyebaran penduduk. Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu. Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)

C. Aspirasi Masyarakat Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka. Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.

D. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

E. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan a. Ilmu Pengetahuan / Science Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan. b. Teknologi Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)    

Submitted by Lussia Putri S… on Sun, 11/03/2019 - 17:00 /

1. Problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia:

  1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.
  2. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.
  3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.
  4. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
  5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

 

3. Solusi yang tepat untuk mengatasinya:

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitui:

  1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu, relevansi, dan juga efisiensi pendidikan.

- Pemerataan pendidikan

Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar Bab VI pasal 10 ayat 1 menyatakan: ”semua anak yang berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun “ ayat 2 menyatakan: “belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama yang dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.

Landasan yuridis pemerataan pendidika tersebut penting sekali artinya, sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.

Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mutu pendidikan.

Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif, karena kepada seluruh warga Negara perlu di berikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan yang tinggi, kebijakan pemertaan didasarkan atas pertimbangan  kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan, tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan tekonologi. Agar tercapai   keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.

Perkembangan upaya pemerataan pendidikan berlangsung terus menerus dari pelita ke pelita.  Didalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 tengtang sistem pendidikan nasional III tentang hak warga Negara untuk memperoleh pendidikan, pasal 5 menyatakan: ”setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Bahkan dalam pasal 7 mengenai hak telah di tegaskan sebagai berikut: “penerimaan seorang peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan, melalui proses tatap muka sampai pada lingkungan alam yang dapat mendung.

 

- Mutu Pendidikan

hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika tidak terjadi belajar secara optimal akan menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Berarti pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletah pada masalah pemprosesan pendidikan. Selanjutnya kelancara pemprosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar.

  1. Sedangkan untuk contoh solusi yang bisa diberikan adalah seperti pada kasus Pemerataan Pola Pendidikan, olusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

f)       Dan sebagainya

https://www.kompasiana.com/nbrsimani/54f5e6f1a333113a778b45be/problematika-pendidikan

 

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

  • Perkembangan Iptek dan seni perkembangan iptek terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek ( ilmu pengetahuan dan teknologi ). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta,dan teknologi adalah penerapan yang di rencanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Perkembangan seni kesenian merupakan aktifitas berkreasi manusia.secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian.manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi atau mencipta yang bersifat orsinil( bukan tiruan ) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
  • Laju pertumbuhan penduduk, masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal,yaitu: pertambahan pertumbuhan, dan penyebaran penduduk.
  • Aspirasi masyaraakat,dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan di anggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk sekolah,agar nantinya anak-anaknyamemperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri. Beberapa hal yang tidak di kehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya,jumlah kelas setiap sekolah membengkak,di adakanya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar,kekurangan sarana belajar,kekurangan guru dan seterusnya.
  • Keterbelakangan budaya, adalah suatu istilah yang di berikan oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirinya sudah maju ke pada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya,kebudayaanya pasti di pandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaanya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan jaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu di anggap subjektif.maupun dari lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena: letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat yang terpencil, penolakan masyarakat terhadap datangnyaunsur budaya baru karena tidak di pahami atau karena di khawatirkan akan merusak sendi masyarakat, ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
  • Permasalahan pendidikan aktual, permasalahan pendidika aktual di indonesia selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang di harapkan dengan hasil yang dapat di capai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk di tanggulangi. Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan di kemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran,kurikulum.peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Masalah keutuhan pencapaian sasaran di dalam undang-undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Bab 11 pasal 4 telah di nyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia indonesia seutuhnya. Banyak hambatan yang harus di hadapi dalam pelaksanaan system pendidikan antara lain: kurikulum sudah terlalu sarat, pendidikan afektif, sulit di programkan secara eksplisit karena di anggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksananya sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru, pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu,sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik, menilai hasil pendidikan tidak mudah.
  • Masalah pendidikan 9 tahun, keberadan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI no 2 tahun 1989 pasal 6 mengatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP NO. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar,pasal 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujuh pendidikan dasar yaitu: memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat,warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pastibanyak hambatannya, hambatan tersebut ialah: realisasi pendidikan dasar yang di atur PP no.28 tahun 1989masih harus di carikan titik temunya dengan PP no 65 tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar, karena PP tersebut belum di cabut, krikulum yang belum siap.

https://rhioobetz.wordpress.com/2017/03/25/faktor-yang-mempengaruhi-permasalahan-pendidikan-dan-upaya-penanggulangannya/

Submitted by 836766016 on Sun, 11/03/2019 - 18:07 /

. Problematika pendidikan adalah masalah- masalah yang terjadi pada proses pembelajaran yang perlu adanya pemecahan masalah, untuk mengembangkan potensi secara maksimal.

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia :

a. Kualitas pendidikan 

b. Relevansi Pendidikan

c. Elitisme (mahalnya biaya pendidikan)

d. Pemerataan Pendidikan

3. Solusi yang tepat untuk mengatasi :

a. Meningkatkan anggaran pendidikan untuk pelatihan gratis bagi guru honorer serta alat peraga pendidikan

b. mengganti kurikulum sesuai dengan tuntutan zaman

c. memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu

d. menambah sarana dan prasarana pendidikan ke seluruh pelosok negeri

4. Faktor yang mempengaruhi  berkembangnya masalah pendidikan 

a. Perkembangan Iptek dan Seni

b. Laju Pertumbuhan Penduduk 

c, Aspirasi Masyarakat

d. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan

Submitted by @Yunita on Sun, 11/03/2019 - 18:39 /

1. Problematika Pendidikan adalah persoalan ,masalah atau ketidak tentuan yang dihadapi oleh dunia pendidikan dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik umum atau khusus.

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia adalah :

  • Bagaimana semua Warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
  • Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat

3. Solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah :

  • Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan, secara konvensional yaitu dengan membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar, dan Menggunakan gedung sekolah untuk double shift ( sistem bergantian pagi dan sore). Sedngkan pada solusi Inovatif adalh dengan  adanya SD kecil pada daerah terpencil, Sistem guru Kunjung, SMP terbuka, Kejar paket A dan B dan Belajar jarak jauh.
  • Solusi masalah Mutu, Efisiensis dan Relevansi Pendidikan, dengan upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan lunak, personalia, dan manajemen sebagai berikut : a) Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah khususnya yntyk Slta PT (b) Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut (c) Penyempurnaan kurikulum (d) Pengembangan prasarana yang menciptkan lingkungan yang tenteram untuk belajar (e) Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran. (f) Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran (g) Kegiatan pengendalian mutu.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan adalah :

  • Perkembangan IPTEK dan Seni
  • Laju pertumbuhan penduduk
  • Aspirasi Masyarakat
  • Keterbelakangan Budya dan Sarana Kehidupan
Submitted by Dewi_Nilawati on Sun, 11/03/2019 - 18:54 /

In reply to by ihsanudin277@g…

Problematika pendidikan adalah segala permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendidikan.

 

** Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

1. Kurangnya SDM pengajar

2. Kurangnya fasilitas pendidikan

3. Kurangnya kesejahteraan guru honor

4. Kurangnya semangat peserta didik untuk meningkatkan SDM-nya

 

** Solusi yang tepat untuk mengatasinya:

1. Mengadakan program beasiswa-beasiswa bagi guru untuk studi lanjut

2. Menambah anggaran untuk pengadaan fasilitas pendidikan

3. Menambah anggaran untuk kesejahteraan guru honorer

4. Memberikan stimulan-stimulan untuk para peserta didik

 

** Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan:

1. Kurangnya perhatian dari pihak yang terkait

2. Adanya sikap materialistik dalam pendirian lembaga pendidikan

3. Kurangnya anggaran untuk bidang pendidikan

4. Kurangnya perhatian orang tua pada anaknya (peserta didik)

Submitted by seno on Sun, 11/03/2019 - 19:03 /

Problematika adalah masalah yang dihadapi.  Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI/jagokata.com). jadi, problematika pendidikan adalah persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.

 

Masalah pokok pendidikan di Indonesia antara lain:

  1. Masalah pemerataan pendidikan berkaitan dengan persoalan bagaimana sistem pendidikan  dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh Warga Negara dalam memperoleh pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang menunjang pembangunan.
  2. Masalah mutu pendidikan yang berkaitan dengan pemerataan mutu dan pemrosesan pendidikan yang ditunjang oleh komponen pendidikan (peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, dan juga masyarakat sekitar)
  3. Masalah efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumberdaya manusia. Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang efisien. Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.
  4. Masalah relevansi pendidikan yang mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

 

Solusi untuk mengatasi problematika pendidikan, antara lain diperlukan adanya sistem pendidikan yang dapat memberikan pemerataan pendidikan dan  pelayanan pendidikan yang merata pada daerah-daerah terpencil di Indonesia maupun daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana pendidikan agar mendapatkan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional tanpa mengesampingkan efisiensi pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia secara tepat untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Kesadaran komponen pendidikan untuk turut berperan serta dan bekerja sama dalam proses pendidikan (formal maupun informal) juga diperlukan demi berkembangnya mutu pendidikan. Kesadaran tersebut hendaknya kesadaran untuk membangun bangsa dan negara yang lebih baik lagi.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

  1. Perkembangan iptek dan seni.
  2. Laju pertumbuhan penduduk.
  3. Aspirasi masyarakat.
  4. Keterbelakang budaya dan sarana kehidupan.
Submitted by 857421917 on Sun, 11/03/2019 - 19:08 /

Tugas 2

Nama : Yanti Rosmiati

NIM : 857421917

  1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan?
  2. Apa saja masalah pokok pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan?

Jawaban:

1. Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa Inggris “problem” artinya, soal, masalah atau teka-teki. Juga berarti problematik, yaitu ketidak tentuan.

Pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh  seorang individu.

Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan.

2. Masalah pokok pendidikan di Indonesia

a. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan.

b. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek.

c. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan.

d. Rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.

e. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

3. Solusi Pemecahan Problematika Pendidikan di Indonesia

a.  Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam  pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk  meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a)      Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b)      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a)      SD kecil pada daerah terpencil

b)      Sistem guru kunjung

c)      SMP terbuka

d)     Kejar paket A dan b

e)      Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka.

b. Solusi Masalah Mutu, Efisiensi dan Relevansi Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendiidkan bersasaran pada perbaikkan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, dan menghasilkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat sebagai fisik dan lunak, personalia, dan manajemen. Sebagai berikut:

a)      Seleksi yanglebih rasional terhadap masukan mentah, khususnay untuk Slta dan PT.

b)      Pengembanagn kemanpuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.

c)      Penyempurnaaan kurikulum

d)     Pengembanagan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar

e)      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran

f)       Peniungkatan adminisrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran

g)      Kegiatan pengendalian mutu.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:

a. Perkembangan Iptek Dan Seni 

Perkembangan Iptek

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta , dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh hubungan antara pendidikan dan iptek, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerj, dan mungkin juga penguraian jumlahtenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai pada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal bisa mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu juga membaw masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Di samping pengaruh tidak langsung juga banyak pengaruh yang langsung dalam sistem pendidikan dalam bentuk berbagai macam inovasi atau pembaruan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam pula. Ada yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan guru dan gedung sekolah seperti sistem Pamong dan SMP terbuka, pengadaan guru relatif cepat seperti dengan program diploma, perlindungan terhadap profesi guru seperti program akta mengajar. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua,  pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik pelaksanaannya).

Perkembangan Seni

Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yamg indah. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui program /bidang studi yang lain. Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.

b.  Laju Pertumbuhan Penduduk.

Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

1. Pertambahan Penduduk.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus di tambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah.

Pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergesaran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjutan keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal.

2. Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yangberlokasi di pegunungan dan di pulau-pulau. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V, di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

c.  Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya  aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial.  Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota , di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak , diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kurang sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya . bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.

d. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana Kehidupan.

Keterbelakangan budaya adalah istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Sekurang-kurangnya bagian unsur-unsurnya yang berubah jika tidak seluruhnya secara utuh. Perubahan kebudayaan terjadi karena ada penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik bersifat material seoerti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat non matreial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu, dan lain-lain. Keterbelakangan budaya terjadi karena:

a)      Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal terpencil)

b)      Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budata baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendik masyarakat.

c)      Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

a)      Masyarakat daerah terpencil.

b)      Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis.

c)      Masyarakat yang kurang terdidik.

Submitted by Junianto on Sun, 11/03/2019 - 19:16 /

1. Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah: 
a. Kualitas pendidikan, misalnya:
 Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
 Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.
 Tidak meratanya lulusan yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan.
b. Relevansi pendidikan
Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat, misalnya:
 Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.
 Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.
c. Elitisme
Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi, misalnya
 Kepincangan pemberian subsidi.
 Mahalnya pendidikan yang mengakibatkan hanya bisa dienyam oleh orang yang kaya.
d. Manajemen pendidikan, misalnya:
 Masalah pengelolaan sekolah.
 Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman.
e. Pemerataan pendidikan, misalnya:
 Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan.

3. Cara mengatasi masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah: 
a. Kualitas pendidikan, untuk mengatasinya: Meningkatkan anggaran untuk pendidikan. Meningkatkan efisiensi pendidikan.
b. Relevansi pendidikan, untuk mengatasinya: Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha, Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
c. Elitisme, untuk mengatasinya: Subsidi silang. Pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu.
d. Manajemen pendidikan, untuk mengatasinya: Sistem pendidikan nasional (Sisdikanas) perlu ditata kembali.
e. Pemerataan pendidikan, untuk mengatasinya: Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun, Menekankan pentingnya sekolah.

4. Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
a. Perkembamgan Nilai Budaya Dan Seni
Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuha hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat original (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. (Umar Tritahardja , 2005)
Aktivitas kesenian memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini sudah barang tentu menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan prasarana srerta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti sekolah).
b. Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kepundudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
1. Pertambahan penduduk, dan
2. Penyebaran penduduk.
Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan.dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin besar / banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena wajib belajar) maka rasio guru dan siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah lain seperti masalah mutu.
Penyebaran penduduk yang tidak merata di tanah air akan menimbulkan masalah baru pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang). (Pidarta, 20004)
c. Aspirasi Masyarakat
Kecenderugan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih menjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan meningkatkan starus sosial mereka.
Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbut dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan masalah seperti sistem seleksi siswa / mahasisiwa baru, rasio guru siswa, waktu belajar permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.
d. Keterbelakangan Budaya Dan Sarana
Masyarakat kita pada umumnya berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah dan kurang terdidik akan mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini, sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan / ketinggalannya, bagai mana menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khusunya bagi sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.
e. Kemajun ICT Terhadap Berkembangnya Maslah Pendidikan
1. Ilmu Pengetahuan / Science
Perkembangan ilmu pengetahuan (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi / bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah / disesuaikan.
2. Teknologi
Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan menimbulkan ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sisem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu ditanggulangi. (Achmad Munib, 2011)

Submitted by nuridajoko on Sun, 11/03/2019 - 19:26 /

1. Apa yang dimaksud problematika pendidikan ?

    Problematika pendidikan adalah masalah yang dihadapi dalam suasana dan proses pembelajaran dalam rangka pengembangan potensi seseorang baik secara umum maupun khusus.

2. Masalah pokok pendidikan yang dialami di Indonesia adalah :

    1. Kualitas Pendidikan

        Misalnya :

        * Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan

        * Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai

        * Tidak meratanya lulusannnn yang dihasilkan untuk semua jenjang pendidikan

     2. Relevansi pendidikan

         Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat

         Misalnya :

         * Lembaga pendidikan tidak dapat mencetnak lulusan yang siap pakai

         * Tidak adanya kesesuaian natara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi

      3. Manajemen pendidikan 

          Misalnya :

          * Masalah pengelolaan sekolah

          * Lembaga pendidikan dibentuk berdasarkan fungsi dan peranan pendidikan yang sudah ketinggalan jaman       

       4. Pemerataan pendidikan

            Misalnya :

           * Biaya pendidikan yang mahal membuat siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan

3. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya ?

     * Meningkatkan anggaran untuk pendidikan

     * Meningkatkan efisiensi pendidikan

     * Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha

     * Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman

     * Sistem pendidikan nasional (sisdikanas) perlu ditata kembali

     * Menggratiskan sekolah dalam wajib belajar sembilan tahun 

     * Menekanan pentingnya sekolah

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan masalah pendidikan ?

    1. Perkembangan iptek

                Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta dan teknologi adalah 

         penerapan yang direncakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

    2. Perkembangan seni

                Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah

    3. Laju pertumbuhan pendudukan, misalnya : pertambahan penduduk, penyebaran penduduk.

    4. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan misalnya, letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat (misal : terpencil).