65 Comments

Sinopsis

Usia dini merupakan usia yang paling tepat untuk membentuk karakter seseorang. Jika dapat terbentuk dengan baik maka pada generasi mendatang akan menjadi generasi yang berkarakter kuat. Untuk mewujudkan PAUD berkualitas maka dibutuhkan kerjasama yang kuat antara keluarga (orang tua), lingkungan sekolah dan masyarakat. Tantangan dunia pendidikan di era globalisasi saat ini demikian kompleks, telah memberikan banyak perubahan dan dampak terhadap masyarakat sekitar. Salah satu dampak negatifnya adalah krisis moral dan akhlak baik melalui perilaku, sikap, verbal serta fisik yang lebih dikenal dengan istilah perundungan (bullying). Bila tidak segera disikapi melalui pendidikan, maka dikhawatirkan adat dan budaya luhur sesuai dengan niai-nilai Pancasila akan semakin pudar. Penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak adalah kunci utama untuk menyiapkan generasi yang berbudi luhur sesuai tahap tumbuh kembangnya. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk melalui hasil belajar dan menjadi teladan pembiasaan dan perilaku orang tua, guru dan tenaga kependidikan serta lingkungan masyarakat.

Permasalahan yang biasanya muncul pada perkembangan sosial emosional anak dapat dilihat dengan adanya perilaku anak yang kurang tepat, baik di rumah maupun di sekolah, salah satunya adalah perilaku bullying. Bullying mulai muncul di TK. Anak yang di usia dininya terindikasi dan terlibat dalam perilaku bullying, berpotensi untuk menjadi pelaku kenakalan di usia remajanya, tindakan kekerasan, serta terjebak dalam tindakan kriminal. Perilaku bullying seringkali terjadi di sekolah yang kurang pengawasan dari guru, longgar dalam menerapkan aturan, serta pihak-pihak pemegang otoritas tidak memiliki sikap dan pandangan yang tegas terhadap bullying. Pengetahuan guru TK tentang bullying juga dirasakan masih terbatas. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru dapat dilakukan dengan program psikoedukasi yang diberikan kepada guru mengenai perilaku bullying.

Gambaran atau contoh konkrit yang dituangkan dalam sebuah tayangan diharapkan menjadi media yang mudah diterjemahkan oleh guru dan tenaga kependidikan dalam mencegah terjadinya bullying. Selamat menyaksikan!

PERTANYAAN PEMACU DISKUSI

  1. Bagaimana Pendapat Anda mengenai Video di atas?

  2. Jika Anda berada di lokasi kejadian, apa yang akan Anda lakukan?

  3. Apa penyebab Joko diperlakukan demikian? 

  4. Bagaimana Anda mengedukasi siswa agar tidak melakukan perundungan?

  5. Bagaimana Anda mengedukasi siswa yang menjadi korban perundungan?

65 Replies to “Stop Bullying Pada Anak

  1. Nama : Alini Yoshi Amelinda
    NIM : 877691625
    UPBJJ-UT : Purwokerto

    Izin menanggapi video tersebut.
    Analisis :
    Dari video yang saya lihat, saya memahami bahwa bullying atau perundungan bisa saja terjadi sejak anak masih usia dini. Bentuknya bukan hanya memukul atau menyakiti secara fisik, tetapi juga bisa berupa mengejek, mengolok-olok, atau menjauhi teman. Menurut saya, hal ini perlu diperhatikan karena anak masih belajar bagaimana cara berteman dan memperlakukan orang lain dengan baik.
    Sebagai guru, kita perlu mengajarkan anak untuk saling menghargai, menyayangi, dan tidak menyakiti teman. Jika ada anak yang mengejek atau mengganggu temannya, guru sebaiknya tidak langsung memarahi, tetapi memberikan pengertian dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Anak juga perlu diajarkan untuk memahami perasaan temannya dan mengetahui bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan baik.

    Refleksi :
    Setelah melihat video ini, saya belajar bahwa menjadi guru TK bukan hanya mengajarkan kegiatan belajar, tetapi juga membimbing sikap dan perilaku anak. Anak perlu dibiasakan untuk saling menghargai sejak dini, karena terkadang mereka belum memahami bahwa perkataan atau perbuatannya bisa membuat teman merasa sedih.
    Dalam kegiatan di kelas, saya ingin lebih memperhatikan bagaimana anak berinteraksi ketika bermain bersama. Jika ada anak yang mengejek atau mengganggu temannya, saya akan mencoba memberikan arahan dengan sabar dan menjelaskan bahwa hal tersebut tidak baik. Saya juga ingin membiasakan anak untuk saling membantu, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan berani bercerita kepada guru jika ada masalah dengan teman. Menurut saya, pembiasaan sederhana seperti ini penting agar anak bisa belajar berteman dengan baik dan saling menyayangi.

Leave a Reply