99 Comments

Sinopsis

Pada program video ini Anda dapat menyaksikan apa yang dilakukan seorang guru Taman Kanak-kanak ketika ia menghadapi kejadian dimana sorang anak memukul/menangis karena tidak setuju dengan perlakuan temannya. Dalam video tampak guru tersebut menghampiri anak yang memukul/menangis kemudian ia meminta anak berhenti memukul/menangis (tenang). Jika anak masih belum tenang (masih marah/menangis), guru memeluk anak tersebut, kemudian ia bertanya dengan suara lembut dan bersahabat mengapa anak memukul/menangis. Selanjutnya, guru tersebut berusaha mendamaikan anak dengan temannya yang membuatnya memukul/menangis. Guru juga memberitahu anak yang memukul/menangis tersebut agar menyatakan apa yang ingin dia ungkapkan dengan kata-kata, dan bukan dengan cara memukul/menangis supaya temannya mengerti. Selanjutnya guru juga meminta anak untuk melapor atau menceritakan kepada guru jika ada teman yang mengganggu atau membuatnya kesal.

Dwi Astuti

Video ini berisi pembahasan dari narasumber tentang bagaimana teknik dan kiat yang dilakukan pendidik PAUD ketika menghadapi anak yang mogok tidak mau belajar di sekolah. Hal-hal yang dibahas mencakup tentang kemungkinan berbagai penyebab seorang anak mogok belajar. Narasumber juga menjelaskan beberapa teknik dan kiat yang dapat dilakukan pendidik untuk mengetahui penyebab anak mogok belajar. Teknik dan kiat yang disajikan oleh narasumber dapat memberikan solusi bagi pendidik yang menghadapi masalah yang sama. Program ini akan lebih efektif sebagai bahan ajar non-cetak bila dialog antara pendidik dengan anak dengan orangtua dimunculkan, sebagai contoh untuk pendidik dalam berkomunikasi dengan anak atau orangtua anak. Teknik yang diberikan oleh narasumber tetap relevan dengan kondisi PAUD saat ini Karena masalah yang dihadapi pada dasarnya adalah masalah yang selalu muncul.

Dra. Marisa, M.Pd.

  1. Cara guru mengatasi anak mogok, kurang ada percakapannya bagaimana guru memberikan ketenangan atau kesepakatan yang dibuat,
  2. Penggunaan strategi yang dilakukan guru dengan mencari titik permasalahan yang di hadapi anak, mengunjungi orang tua anak, dan memberikan kesampatan anak untuk merasa nyaman di kelas,
  3. Video ini sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik usia 4-5 tahun yang belum pernah sekolah,
  4. Kesesuain dengan K13 lingkup perkembangan sosial emosional dari.
  5. Kesadaran diri TPPA 2, mengendalikan perasaan, tanggung jawab untuk diri sendiri TPPA 1 menjaga diri sendiri dalam memilih kegiatan.

Evanigustinningtyas

99 Replies to “Anak Mogok Tidak Mau Belajar”

  1. Mohon izin menanggapi video diatas. Saya setuju dan menurut saya cara yang dilakukan oleh guru sudah sangat tepat. Seringkali terjadi kesalahpahaman antar anak yang membuat anak menangis hingga memukul temannya. Sebagai seorang guru, kita tidak boleh langsung menghakimi salah satu anak yang terlihat bersalah, tetapi kita harus tanyakan akar dari permasalahannya. Cara yang dilakukan guru dalam video sudah tepat. Yaitu dengan menghampiri dan melerai anak yang berselisih, menanyakan perasaan dan permasalahan anak, mendamaikan anak dengan memberi pengertian bahwa menyelesaikan masalah dengan memukul itu kurang baik, lalu guru juga meminta anak untuk melapor jika ada yang membuatnya terganggu kepada guru. Strategi ini harus terus dilakukan guru kepada anak, agar anak terbiasa dan di kemudian hari dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa menangis dan memukul

    1. Assalamualaikum
      Ijinkan saya menyampaikan refleksi saya

      Nama:Normati
      Nim :858492538
      Upbjj :UT Samarinda

      Sebagai calon pendidik, setelah menonton video ini saya menyadari bahwa perilaku anak yang mogok atau menolak belajar bukan sekadar pembangkangan, melainkan respon yang muncul karena adanya kebutuhan atau masalah yang belum terpenuhi dan belum dipahami dengan baik. Seringkali kita langsung menilai sikap tersebut sebagai sikap buruk atau kenakalan, padahal di balik penolakan itu terdapat alasan yang beragam — bisa karena kegiatan yang disajikan kurang menarik, anak merasa takut salah, merasa dipaksa, belum mengerti apa yang harus dilakukan, atau bahkan kondisi emosionalnya yang sedang kurang baik. Hal ini membuka wawasan saya untuk tidak langsung menghakimi atau memarahi anak saat menghadapi situasi serupa.

      Saya memahami bahwa pendekatan yang dilakukan pendidik sangatlah menentukan. Langkah pertama yang paling tepat bukanlah memaksa anak untuk ikut belajar, melainkan berusaha memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya dirasakan dan menjadi penyebabnya. Sikap pendidik yang sabar, penuh pengertian, tenang, serta mau mendengarkan anak akan membuatnya merasa aman dan dihargai. Sebaliknya, pemaksaan justru akan membuat anak semakin menutup diri, merasa tertekan, dan semakin enggan untuk berpartisipasi.

      Saya juga menyadari bahwa proses pembelajaran bagi anak usia dini haruslah disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan cara berpikir anak, bukan sebaliknya menuntut anak menyesuaikan diri sepenuhnya dengan keinginan pendidik. Lingkungan yang hangat, suasana yang menyenangkan, serta cara penyampaian yang menarik mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan keinginan belajar anak secara alami. Pemberian apresiasi dan semangat atas usahanya — sekecil apa pun — juga sangat berarti untuk membangun rasa percaya dirinya.

      Melalui video ini saya mendapatkan banyak pelajaran berharga: keberhasilan mendidik tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang tersampaikan, melainkan dari bagaimana kita mampu memahami anak, menciptakan suasana belajar yang positif, serta menumbuhkan semangat dan kegembiraan belajar pada dirinya. Hal ini menjadi bekal yang sangat penting bagi saya untuk senantiasa bersikap peka, sabar, dan bijaksana kelak saat menjadi pendidik yang sesungguhnya.

  2. Menurut saya, video ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana guru menghadapi anak yang sedang mengalami masalah dalam belajar. Dari video tersebut saya memahami bahwa anak yang tidak mau belajar tidak selalu berarti anak tersebut malas. Ada kemungkinan anak sedang merasa marah, kecewa, tidak nyaman, atau memiliki masalah dengan teman sehingga emosinya memengaruhi keinginannya untuk belajar.
    Video ini mengajarkan bahwa dalam menghadapi anak yang mogok belajar, guru perlu memiliki kesabaran, empati dan kemampuan memahami kondisi anak. Anak tidak seharusnya langsung dianggap malas atau nakal, tetapi perlu dicari tahu penyebab dari perilakunya. Dengan kerja sama antara guru dan orang tua serta pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak, diharapkan anak dapat kembali merasa nyaman dan bersemangat untuk belajar.

  3. Nama : Alini Yoshi Amelinda
    NIM : 877691625
    UPBJJ-UT : Purwokerto

    Izin menanggapi video tersebut**

    Analisis :
    Setelah saya melihat video tentang anak yang mogok dan tidak mau belajar, saya melihat bahwa perilaku anak bisa muncul karena adanya masalah atau ketidaknyamanan yang sedang dirasakan. Dalam video, anak menangis dan memukul temannya karena merasa tidak setuju dengan perlakuan temannya. Guru tidak langsung memarahi anak, tetapi terlebih dahulu menenangkan dan mencari tahu penyebabnya.
    Menurut saya, cara guru tersebut sudah cukup baik karena anak diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Guru juga mengajarkan anak untuk menyampaikan masalah dengan kata-kata dan meminta bantuan guru jika ada teman yang membuatnya kesal. Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali dan mengendalikan emosinya.

    Refleksi :
    Setelah melihat video tersebut, saya merasa kejadian seperti ini juga bisa terjadi di kelas saya. Ada kalanya anak menangis atau tidak mau mengikuti kegiatan ketika merasa kesal, kecewa, atau terjadi masalah dengan temannya. Biasanya anak belum bisa menjelaskan dengan jelas apa yang membuatnya marah atau sedih.
    Dari video ini saya belajar bahwa guru perlu menghadapi anak dengan sabar dan tidak langsung memarahi ketika anak menunjukkan emosi. Saya perlu mendengarkan cerita anak terlebih dahulu dan membantu anak mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Dengan begitu, anak dapat belajar menyelesaikan masalah secara lebih baik dan perlahan mampu mengendalikan emosinya sendiri.

  4. Assalamualaikum
    mohon izin membuat refleksi video diatas
    Menurut saya, video ini memberikan pelajaran bahwa guru harus lebih sabar dalam menghadapi anak yang tidak mau belajar. Setiap anak mempunyai karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga guru tidak boleh langsung memarahi atau memaksanya. Sebaiknya guru mencari tahu penyebab anak tidak mau belajar dan mencoba mendekatinya dengan cara yang baik.
    Kegiatan pembelajaran yang dilakukan perlu disesuaikan dengan minat dan kondisi anak. Guru bisa menggunakan kegiatan bermain yang menyenangkan agar anak merasa nyaman dan tertarik untuk belajar. Lingkungan belajar juga harus dibuat aman, nyaman, dan tidak membuat anak merasa tertekan.
    Sebagai guru, saya mendapatkan manfaat dari video ini karena saya belajar untuk lebih memahami perasaan anak dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi anak yang sulit mengikuti pembelajaran. Saya akan berusaha memberikan pendekatan yang lembut, membangun komunikasi dengan anak, serta menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan.
    Menurut saya, kesabaran, perhatian, dan pendekatan yang sesuai sangat penting agar anak merasa nyaman dan perlahan mau mengikuti kegiatan belajar.

  5. Menurut saya, cara guru dalam video tersebut sudah tepat dalam menghadapi anak yang marah, menangis, atau memukul temannya. Guru tidak langsung memarahi anak, tetapi membantu anak menenangkan diri terlebih dahulu dengan pendekatan yang lembut. Setelah anak tenang, guru mencari tahu penyebabnya dan membantu menyelesaikan masalah dengan temannya. Menurut saya, mengajarkan anak untuk menyampaikan perasaan dan keinginannya melalui kata-kata merupakan hal yang penting agar anak belajar mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa jika ada teman yang mengganggu, sebaiknya menceritakannya kepada guru. Dengan pendampingan yang sabar dan konsisten, anak dapat belajar mengembangkan kemampuan sosial dan emosionalnya.

Leave a Reply