154 Comments

Sinopsis

Pada program ini diperlihatkan upaya guru dalamm mengatasi permasalahan anak yang tidak mau ikut antri dalam barisan. Upaya yang dilakukan guru tersebut adalah dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada anak dengan sabar agar ia mau bergantian posisi dengan teman-temannya, mendekati anak yang tidak mau antri berbaris, memegang pundak anak yang bermasalah, kemudian mengelus kepalanya, Jika anak tetap tidak mau, guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris dengan anak, guru memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan untuk anak.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Menegakkan disiplin bagi anak sejak usia dini.

Kelemahan: Membuka, pembelajaran kurang begitu tampak.

Kekuatan: Penggunaan pendekatan, strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran sudah baik..

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, dengan kurikulum yang berlaku sudah sesuai.

Kesan Umum

Deskripsi: Anak X (gemuk) sudah mau antri saat berbaris, setelah diberi penguatan guru, dengan senyuman dan tangan ditepukkan pada tangan anak (tos). Sebelumnya dia berada pada barisan terakhir, kemudia pindah ke barisan paling depan tanpa sepengetahuan guru. Perilaku antecedent, semua guru pada saat yang bersamaan disibukkan menata anak-anak lain untuk berbaris. Perilaku target semua anak berbaris sesuai dengan urutannya. Perilaku yang diharapkan salah satu guru berada di depan menghadap barisan, sehingga semua anak terpantau.

Dra. Titik Setyowati, M.Pd.

Secara umum tayangan video ini sudah menunjukkan keadaan asli yang terjadi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cukup menarik dan merupakan permasalahan yang bisa ditemui oleh para guru. Namun solusi yang ditawarkan sepertinya terlalu sederhana dan sangat mudah dilakukan.

Seorang guru bisa dengan cepat membujuk murid yang tidak mau antri jika penyebabnya diketahui.

Meskipun penyebab permasalahan kurang disinggung, penonton masih bisa mendapatkan manfaat dari tayangan video ini.

Wing Hanyom Sari

154 Replies to “Anak tidak mau antri saat berbaris”

  1. JAWABAN DISKUSI – MENGATASI ANAK TIDAK MAU ANTRI DALAM BARISAN

    Menurut saya video ini juga sangat dekat dengan keseharian kita di TK. Masalah anak tidak mau antri, rebutan paling depan, dorong-dorongan waktu baris itu hampir setiap hari kita alami, apalagi di kelompok A.

    Saya setuju sekali dengan cara guru di video tersebut. Guru tidak langsung memarahi atau membentak anak yang tidak mau antri. Tapi guru mendekati dengan sabar, memberikan pengertian, memegang pundaknya, mengelus kepalanya. Cara sentuhan lembut seperti itu menurut saya sangat ampuh, karena anak yang tidak mau antri itu biasanya bukan nakal, tapi dia ingin diperhatikan atau ingin merasa diistimewakan.

    Yang paling bagus menurut saya adalah guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris. Jadi tidak ada anak yang selalu di depan terus. Misalnya hari Senin A yang di depan, hari Selasa B yang di depan. Dengan begitu anak belajar konsep adil dan bergiliran. Anak jadi mengerti kalau semua dapat giliran jadi yang paling depan, tidak ada yang selalu di belakang.

    Pemberian pujian dalam bentuk tepuk tangan juga menurut saya sangat efektif. Anak usia dini itu sangat butuh diakui. Ketika anak yang tadinya tidak mau antri akhirnya mau antri, lalu semua teman tepuk tangan untuk dia, dia merasa bangga dan besoknya pasti mau antri lagi.

    Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Ada anak laki-laki di kelas saya yang selalu mau di depan saat mau masuk kelas dan cuci tangan. Kalau tidak di depan dia langsung mogok dan tidak mau baris. Awalnya saya juga kesal, tapi saya coba cara seperti di video. Saya dekati, saya pegang pundaknya, saya bilang pelan “Kamu hebat loh, sudah mau baris. Hari ini kamu di nomor 3 ya, besok kamu yang jadi pemimpin di depan, kita gantian”. Dan saya buatkan papan jadwal pemimpin barisan bergambar foto anak. Ternyata berhasil. Anak itu sekarang sudah mau antri karena dia tahu besok giliran dia jadi pemimpin.

    Jadi kesimpulannya, mengatasi anak tidak mau antri tidak bisa dengan paksaan atau hukuman. Harus dengan kesabaran, sentuhan kasih sayang, diberi pengertian tentang konsep gantian, dan diberi penguatan positif. Kalau anak sudah merasa adil dan dihargai, sikap mau antri dan mau sabar akan tumbuh sendiri sebagai bagian dari karakter disiplin dan sosialnya.

Leave a Reply