Sinopsis
Pada program ini diperlihatkan upaya guru untuk mengatasi anak yang ribut di kelas, upaya tersebut diantaranya adalah dengan mencoba mengenali penyebab anak ribut di kelas. Setelah mengetahui penyebabnya maka solusi yang dilakukan oleh guru tersebut adalah menenangkan anak yang ribut dengan berbagai tepuk. Ketika anak teridentifikasi bosan dalam pembelajaran di kelas, guru dapat memindahkan pembelajaran di luar kelas (outdoor) agar kebosanan anak dapat teratasi dengan baik.
Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.
Pada program ini diperlihatkan upaya guru untuk mengatasi anak yang ribut di kelas, upaya tersebut diantaranya adalah dengan mencoba mengenali penyebab anak ribut di kelas. Setelah mengetahui penyebabnya maka solusi yang dilakukan oleh guru tersebut adalah menenangkan anak yang ribut dengan berbagai tepuk. Ketika anak teridentifikasi bosan dalam pembelajaran di kelas, guru dapat memindahkan pembelajaran di luar kelas (outdoor) agar kebosanan anak dapat teratasi dengan baik.
Dr. Siti Aisyah, M.Pd.
Dalam tayangan video sudah terlihat dengan jelas saat guru membuka pembelajaran dan mengisi pembelajaran sedangkan untuk penutup pembelajaran belum terlihat jelas. Penggunaan strategi, pendekatan, metode, dan media sudah terlihat. Sedang untuk evaluasi belum terlihat. Guru mengajak anak untuk dapat duduk tenang dan tidak membuat keributan yang dapat mengganggu konsentrasi teman (taat pada peraturan) merupakan salah satu yang ada di kompetensi dasar pada kurikulum.
Tri Ekowati
68 Replies to “Anak Ribut Di Kelas Saat PBM”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Suryani_858024114_PG PAUD
Menurut saya, video tersebut memberikan pembelajaran bahwa anak yang ribut di kelas tidak selalu berarti anak nakal, tetapi guru perlu mencari tahu terlebih dahulu penyebab perilaku tersebut. Jika anak merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran, guru dapat melakukan variasi kegiatan, misalnya mengajak anak belajar di luar kelas atau melakukan kegiatan yang lebih menarik dan melibatkan gerak. Menurut saya, guru juga perlu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan anak agar mereka lebih tertarik mengikuti kegiatan. Dengan memahami penyebab perilaku anak, guru dapat memberikan solusi yang lebih tepat dan membantu anak belajar mengendalikan perilakunya secara bertahap.
sebagai seorang guru TK, saya menyadari bahwa mengajarkan anak untuk tertib dan mau mengantre membutuhkan kesabaran, kasih sayang, serta strategi yang sesuai dengan perkembangan anak. Ketika anak sulit mengikuti barisan, guru sebaiknya mendekati anak dengan tenang, memberikan penjelasan sederhana dan mudah dipahami, serta menghindari memarahi atau memaksa anak. Jika anak masih belum bersedia, guru dapat membuat kesepakatan mengenai posisi atau jadwal antre pada hari berikutnya agar anak belajar memahami aturan secara bertahap. Saya juga belajar bahwa memberikan pujian, seperti tepuk tangan kepada anak yang sudah tertib dan mengikuti arahan, dapat menjadi penguatan positif bagi anak lainnya. Ke depannya, saya akan lebih konsisten menerapkan aturan dengan cara yang positif, memberikan contoh, membangun kesepakatan bersama, dan menghargai setiap usaha anak dalam belajar disiplin dan tertib.
setiap anak usia dini memiliki keunikan masing-masing. tidak semua anak bisa mengikuti arahan dari guru dengan baik. kadang ada anak yang berperilaku semaunya sendiri. dari vidio tersebut, saya sangat setuju bahwa melatih kedisiplinan anak anak dapat dilakukan dengan cara yang lembut tanpa kekerasan agar tidak merusak mental anak.
Nama : Resi Fitriani
Nim : 878384103
Video “Anak Ribut di Kelas Saat PBM” pada platform Guru Pintar Universitas Terbuka menggambarkan persoalan pengelolaan kelas yang dapat muncul dalam pembelajaran anak usia dini, Tayangan tersebut menunjukkan bahwa guru tidak langsung memberikan hukuman atau teguran keras, tetapi terlebih dahulu berusaha memahami penyebab perilaku tersebut sebelum menentukan tindakan yang sesuai..
Beberapa kemungkinan penyebab keributan yang ditampilkan meliputi kebutuhan anak untuk memperoleh perhatian, serta karakteristik anak usia dini yang masih membutuhkan kesempatan untuk bergerak, berbicara, dan berinteraksi. Untuk mengatasinya, guru menggunakan strategi yang bersifat positif dan preventif, antara lain mengajak anak melakukan berbagai tepuk untuk mengembalikan fokus, memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita, serta memindahkan kegiatan pembelajaran ke luar ruangan apabila anak menunjukkan tanda-tanda bosan.
Implikasi pedagogis dari tayangan ini menunjukkan bahwa strategi pengelolaan kelas perlu direncanakan secara terintegrasi dalam RPPH maupun RPPM. Perencanaan tersebut dapat mencakup penataan lingkungan belajar yang fleksibel, penggunaan kegiatan transisi seperti tepuk atau permainan singkat, penyusunan aturan kelas yang sederhana dan mudah dipahami anak, serta pemberian penguatan positif terhadap perilaku yang sesuai. Guru juga perlu mencatat dan merefleksikan pola perilaku anak untuk mengetahui situasi atau pemicu yang sering menimbulkan keributan.
Dengan demikian, pengelolaan kelas di PAUD tidak cukup dilakukan melalui teguran atau larangan, tetapi perlu dilaksanakan secara sabar, preventif, dan responsif. Guru perlu mengenali kebutuhan anak, menciptakan kegiatan yang menarik, memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi, serta mengarahkan perilaku mereka melalui aturan dan penguatan positif. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang aman, menyenangkan, dan tetap mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.