Sinopsis
Program ini berisi gambaran tentang suasana kelas saat belajar matematika dimana guru menggunakan papan tulis untuk mengajarkan bilangan pecahan. Banyak siswa yang tidak mengerti bahkan tidak memperhatikan. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah menggunakan benda-benda konkret seperti buah-buahan untuk pembelajaran matematika khususnya bilangan pecahan sehingga pemahaman siswa menjadi lebih baik
Muchtar M Noor
Memanfaatkan lingkungan untuk mengajarkan konsep pecahan yang dilakukan oleh guru sudah baik, namun akan lebih baik jika guru memerintahkan kepada murid untuk membawa buah-buahan satu atau dua hari sebelum pelajaran materi pecahan dimulai. Menggambar persegi untuk mendeskripsikan pecahan sebaiknya dilakukan setelah murid praktek memotong buah-buahan. Murid hendaknya dibawa dari konkrit ke abstrak.
Guru juga tidak harus meminta murid membawa buah-buahan pisau dari rumah. Sebagai gantinya guru bisa meminta murid membeli roti atau kue yang mudah dipotong tanpa menggunakan pisau, disekitar sekolah.
Guru perlu berusaha agar murid tertarik untuk belajar bilangan pecahan; misalnya sebelum pelajaran dimulai didahului dengan cerita-cerita yang membuat murid tertib dan menyimak semua informasi dari guru.
Drs. Tarhadi, M.Si.
- Secara keseluruhan baik pembukaan maupun penutup sudah cukup baik.
- Media sudah tepat.
- Materi dan kurikulum sudah sesuai.
Taufik Ma’ruf
13 Replies to “Belajar Matematika dengan Lingkungan Sebagai Media”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Nama : Muhamad Imam Kurdi
NIM : 858962819
Program Studi : S1-PGSD
UPBJJ-UT : Jember
Berdasarkan video tersebut yang berjudul “Belajar Matematika dengan Lingkungan sebagai Media”, saya dapat menganalisa sebagai berikut :
Reaksi peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru
Reaksi anak/siswa pada video tersebut diawal pembelajaran kurang aktif, tidak memperhatikan materi yang disampaikan dan kurang semangat dalam pembelajaran. Namun ketika metode belajarnya diganti dengan media pembelajaran yang konkret, siswa cukup semangat dan aktif dalam kelompok mengerjakan tugas sesuai dengan materi yang diberikan oleh guru.
Kelemahan guru dalam melakukan pembelajaran
Guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi saat memulai kegiatan belajar mengajar. Pada pembelajaran sebelumnya guru menggunakan metode ceramah yang membuat siswa tidak tertarik dan kurang semangat pada materi yang dijelaskan. Bahan pembelajaran yang digunakan berisiko membahayakan peserta didik.
Kelebihan guru dalam melakukan pembelajaran
Guru cukup inovatif dan berusaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terlihat pada setelah mengevaluasi pembelajaran di kelas yang kurang kondusif dan tidak maksimal, maka guru mengubah metode pembelajaran dengan menggunakan media konkret sehingga membuat peserta didik lebih bersemangat dan aktif serta memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.
Kesimpulan
Penyampaian tujuan pembelajaran dan apersepsi saat memulai kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam memulai pembelajaran dan metode pembelajaran dengan menggunakan media konkret dapat membuat peserta didik lebih bersemangat dan aktif serta memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.
Pembelajaran matematika dalam video tersebut memiliki kelebihan karena guru mengaitkan materi pecahan dengan benda sehari-hari, yaitu buah-buahan seperti apel dan mentimun. Pendekatan ini membuat konsep pecahan yang awalnya abstrak menjadi lebih mudah dibayangkan oleh siswa. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga langsung mempraktikkan cara membagi benda menjadi beberapa bagian yang sama, sehingga pembelajaran terasa lebih hidup dan bermakna.
Penggunaan media konkret yang dekat dengan dunia siswa juga membuat matematika terasa lebih menyenangkan dan tidak terlalu menakutkan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba sendiri, sehingga mereka belajar melalui pengalaman langsung dan bukan hanya menerima informasi dari guru. Hal ini mendukung pembelajaran yang lebih aktif dan berpusat pada siswa.
Namun, masih terdapat beberapa kekurangan. Pada awal pembelajaran, guru masih terlalu dominan menjelaskan di depan kelas, sementara sebagian siswa tampak kurang memperhatikan dan asyik berbicara dengan temannya. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan siswa belum optimal sejak awal. Guru dapat memperbaiki hal ini dengan memberikan pertanyaan pemantik, permainan singkat, atau aktivitas kecil di awal agar fokus siswa lebih terarah.
Selain itu, penggunaan pisau saat siswa memotong buah menimbulkan risiko keamanan, terutama untuk siswa sekolah dasar. Meskipun guru sudah mengingatkan untuk berhati-hati, benda tajam tetap berpotensi membahayakan. Alternatif yang lebih aman adalah menggunakan alat yang tidak tajam atau menyiapkan buah yang sudah dipotong sebelumnya oleh guru, sehingga kegiatan praktik tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek keamanan.
Secara keseluruhan, pembelajaran dalam video ini sudah cukup baik karena memanfaatkan media konkret, mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, dan melibatkan siswa dalam kegiatan praktik. Namun, peningkatan pada keterlibatan siswa sejak awal dan aspek keamanan saat praktik akan membuat pembelajaran ini lebih efektif, aktif, dan aman.