70 Comments

Sinopsis

Teknologi bagi anak usia dini bukanlah hal yang baru. Anak-anak generasi Z hidup di dalam era teknologi yang sudah sangat berkembang. Bagi generasi-Z, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran bukanlah hal yang sulit. Tanpa dilatih, mereka sudah bisa menggunakan perangkat teknologi dengan baik. Bagi anak-anak usia dini, tanpa dibekali pengetahuan tentang penggunaan teknologi, mereka sudah dapat menjalankan suatu aplikasi tertentu di dalam gawai. Hal ini Tentunya membawa kebaikan untuk proses pembelajaran, karena dengan teknologi proses pembelajaran bisa jadi lebih mudah. Teknologi bisa menjadi alat bantu untuk menjelaskan materi pelajaran yang membutuhkan waktu, dan sulit untuk dijelaskan dengan ceramah. 

Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang berlebihan seperti gawai, akan membuat anak usia dini kecanduan dengan gawai tersebut. Banyak kejadian atau kasus yang terjadi pada anak yang tantrum ketika orang tua mengambil gawai yang sedang mereka mainkan. Selain itu, terdapat dampak pada kesehatan anak, seperti kesehatan mata sampai dengan kecenderungan untuk tidak bersosialisasi dengan baik.

Dalam video ini akan dijelaskan tentang bagaimana strategi penggunaan teknologi dalam pembelajaran untuk anak usia dini. Dimulai dari contoh kasus yaitu tantrum-nya anak ketika mereka diberhentikan saat memainkan gawai, lalu ditunjukkan bagaimana strategi pembelajaran di TK dengan menggunakan Project Based Learning. Anak-anak akan berdialog dengan guru tentang manfaat gawai dan juga dampak buruknya bagi mereka jika kecanduan gawai. Lalu mereka akan bermain peran dengan menggunakan alat telekomunikasi, dan pada akhirnya mereka akan membuat 1 Project sesuai dengan umur mereka, yaitu dengan menggunakan karton untuk membuat bentuk gawai. 

Selamat menyaksikan.

PERTANYAAN PEMACU DISKUSI

  1. Bagaimana Pendapat Anda mengenai Video di atas?

  2. Selain cara yang ada pada video, jelaskan cara lain yang harus dilakukan oleh guru agar anak tidak kecanduan gadget ? 

  3. Apakah Project yang diberikan oleh guru dalam video ini efektif untuk meredam keinginan anak bermain gadget? 

  4. Menurut anda, apakah guru dalam video ini sudah memaksimalkan peran pengasuhan dalam pembelajaran anak usia dini ?

  5. Tahapan apa dalam Project Based Learning yang diterapkan oleh guru dalam video yang menurut anda belum maksimal ?

70 Replies to “Cara tepat mengenalkan IT pada Anak (literasi digital)”

  1. 1. Bagaimana pendapat Anda mengenai video di atas?
    Menurut saya, video tersebut sangat bermanfaat karena menunjukkan bahwa teknologi memiliki manfaat sekaligus risiko bagi anak usia dini. Gawai dapat digunakan sebagai media pembelajaran jika sesuai dengan kebutuhan dan usia anak. Namun, jika digunakan terlalu lama tanpa pendampingan, anak dapat menjadi terlalu bergantung pada gawai dan mengurangi kesempatan untuk bermain serta bersosialisasi secara langsung. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu bekerja sama dalam mengatur penggunaan teknologi.

    2. Selain cara yang ada pada video, cara lain agar anak tidak kecanduan gadget
    Menurut saya, guru dapat memberikan kegiatan alternatif yang menarik, seperti bermain di luar ruangan, permainan tradisional, kegiatan seni, membaca buku cerita, bermain peran, serta kegiatan yang melibatkan kerja sama dengan teman. Guru juga dapat membuat aturan sederhana mengenai waktu penggunaan gawai dan menjelaskan alasannya kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, orang tua perlu menerapkan aturan yang sama di rumah agar pembiasaan antara sekolah dan keluarga berjalan konsisten.

    3. Apakah project yang diberikan guru efektif untuk meredam keinginan anak bermain gadget?
    Menurut saya, project membuat bentuk gawai dari karton cukup efektif sebagai salah satu alternatif kegiatan karena anak tetap dapat bermain peran dan berkreasi tanpa menggunakan gawai yang sebenarnya. Kegiatan tersebut juga dapat mengembangkan kreativitas, motorik halus, bahasa, dan kemampuan sosial anak. Namun, projek tersebut belum tentu sepenuhnya menghilangkan keinginan anak bermain gadget. Tetap diperlukan pembiasaan, pendampingan, dan kegiatan alternatif yang dilakukan secara berkelanjutan.

    4. Apakah guru sudah memaksimalkan peran pengasuhan dalam pembelajaran anak usia dini?
    Menurut saya, guru sudah berusaha menjalankan peran pengasuhan dengan mengajak anak berdiskusi mengenai manfaat dan dampak penggunaan gawai serta memberikan kegiatan yang sesuai dengan usia anak. Guru juga memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain peran dan membuat project. Namun, peran pengasuhan akan lebih maksimal apabila guru juga melakukan pengamatan terhadap kebiasaan setiap anak dan menjalin komunikasi dengan orang tua mengenai penggunaan gadget di rumah.

    5. Tahapan Project Based Learning yang menurut Anda belum maksimal
    Menurut saya, tahap yang masih dapat dimaksimalkan adalah tahap perencanaan dan evaluasi. Anak dapat lebih banyak dilibatkan dalam menentukan ide project, memilih bahan, serta menjelaskan apa yang ingin dibuat. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengajak anak menceritakan pengalaman selama membuat project dan menanyakan kembali apa yang sudah dipelajari tentang manfaat serta dampak penggunaan gawai.

    Menurut saya, penggunaan teknologi pada anak usia dini bukan berarti harus dilarang sepenuhnya, tetapi perlu diarahkan agar menjadi alat bantu belajar dan bukan menjadi satu-satunya sumber hiburan anak. Kerja sama antara guru dan orang tua sangat penting agar anak dapat menggunakan teknologi secara bijak dan tetap mendapatkan kesempatan untuk bermain, bergerak, berkreasi, dan bersosialisasi.

  2. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Nama : Rindi Saputri
    Nim : 859711394

    Setelah menyimak video “Cara Tepat Mengenalkan IT pada Anak (Literasi Digital)”, menurut saya video ini memberikan gambaran bahwa penggunaan teknologi pada anak perlu dilakukan secara bijak dan dengan pendampingan dari guru maupun orang tua.
    1. Bagaimana pendapat Anda mengenai video di atas?
    Menurut saya, video tersebut sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman bahwa teknologi memiliki manfaat dalam pembelajaran, tetapi penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan usia anak dan tidak berlebihan.
    2. Selain cara yang ada pada video, jelaskan cara lain yang harus dilakukan oleh guru agar anak tidak ketagihan gadget?
    Guru dapat menyediakan kegiatan bermain yang menarik, seperti bermain peran, kegiatan seni, permainan motorik, membaca buku cerita, bermain di luar ruangan, serta kegiatan kelompok. Dengan memberikan berbagai kegiatan yang menyenangkan, anak memiliki banyak pilihan aktivitas selain bermain gadget.
    3. Apakah Project yang diberikan oleh guru dalam video ini efektif untuk meredam keinginan anak bermain gadget?
    Menurut saya, kegiatan proyek cukup efektif karena anak dialihkan pada kegiatan yang menarik dan melibatkan kreativitas. Anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga belajar membuat sesuatu, bekerja sama, dan menggunakan imajinasinya.
    4. Menurut Anda apakah guru dalam video ini sudah memaksimalkan peran pengasuhan dalam pembelajaran anak usia dini?
    Menurut saya, guru sudah berusaha menjalankan perannya dengan memberikan pendampingan, mengarahkan anak, serta menyediakan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Guru juga berperan membantu anak mengenal penggunaan teknologi secara lebih sehat.
    5. Tahapan apa dalam Project Based Learning yang diterapkan oleh guru dalam video yang menurut Anda belum maksimal?
    Menurut saya, bagian yang masih dapat lebih dimaksimalkan adalah tahap evaluasi dan refleksi. Setelah proyek selesai, guru dapat mengajak anak menceritakan pengalaman, kesulitan, dan hasil karya mereka. Dengan demikian, guru dapat mengetahui proses belajar anak sekaligus memberikan penguatan terhadap pengalaman yang telah dilakukan.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.🙏

  3. Berikut tanggapan untuk pertanyaan pemacu diskusi berdasarkan sinopsis video tersebut:

    1. Pendapat mengenai video di atas
    Video tersebut sangat relevan dengan kondisi anak usia dini saat ini. Video menampilkan keseimbangan antara sisi positif dan negatif teknologi. Strateginya sudah sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini yang kontekstual dan bermakna, yaitu tidak melarang gawai secara total tetapi mengajak anak memahami manfaat dan risikonya melalui dialog. Hal ini sejalan dengan teori Vygotsky bahwa anak membangun pemahaman melalui interaksi sosial dengan guru.

    2. Cara lain yang harus dilakukan guru agar anak tidak kecanduan gawai
    Selain cara pada video, guru dapat melakukan:
    a. Menerapkan aturan screen time yang jelas di kelas, misalnya gawai hanya digunakan maksimal 15 menit untuk kegiatan belajar spesifik.
    b. Memperbanyak kegiatan bermain aktif dan eksploratif di luar kelas seperti bermain balok, seni, dan gerak lagu agar anak mendapatkan kepuasan bermain tanpa gawai.
    c. Melakukan kerja sama dengan orang tua melalui parenting class tentang pendampingan penggunaan gawai di rumah.
    d. Memberikan kegiatan alternatif yang menarik seperti bermain peran, bercerita, dan proyek loose parts sehingga anak tidak menjadikan gawai sebagai satu-satunya sumber hiburan.

    3. Apakah project membuat bentuk gawai dari karton efektif untuk meredam keinginan bermain gawai
    Project tersebut cukup efektif untuk usia 4-5 tahun. Secara teori, ini adalah bentuk pengalihan yang positif atau subtitusi. Anak tetap mendapatkan bentuk gawai yang ia sukai, tetapi dengan media yang aman dan mendorong kreativitas. Melalui membuat gawai dari kardus, anak melatih motorik halus, imajinasi, dan kemampuan rekayasa. Keinginan anak terhadap gawai asli menjadi berkurang karena ia sudah memiliki karya sendiri. Namun efektivitasnya akan lebih maksimal jika disertai dengan kesepakatan penggunaan gawai asli setelah project selesai.

    4. Apakah guru sudah memaksimalkan peran pengasuhan dalam pembelajaran
    Guru dalam video sudah menunjukkan peran pengasuhan atau nurturing yang baik. Guru tidak menghakimi anak yang tantrum, tetapi melakukan dialog empatik tentang perasaan anak dan dampak gawai. Guru juga memfasilitasi anak untuk berekspresi dan membuat karya. Ini sesuai dengan prinsip asah, asih, dan asuh. Peran asuh terlihat ketika guru membantu anak mengelola emosi saat tantrum dan membimbing secara sabar selama proses project.

    5. Tahapan Project Based Learning yang belum maksimal
    Tahapan Project Based Learning menurut George Lucas terdiri dari: penentuan pertanyaan mendasar, menyusun perencanaan, menyusun jadwal, memonitor, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman.

    Tahapan yang menurut saya belum maksimal adalah pada tahap evaluasi pengalaman dan refleksi. Dalam sinopsis, anak hanya sampai pada tahap membuat produk yaitu gawai dari kardus. Seharusnya ada sesi refleksi dimana anak menceritakan apa yang ia pelajari, bagaimana perasaannya setelah membuat gawai kardus dibandingkan bermain gawai asli, dan komitmen apa yang akan dibuat bersama untuk penggunaan gawai yang sehat. Tahap refleksi ini penting untuk membangun kesadaran diri dan internalisasi nilai, bukan hanya menghasilkan produk.

  4. izin menjawab
    Nama : Nafa Nurlianty
    NIM : 857516168

    1. Bagaimana pendapat anda mengenai video diatas?
    Menurut sata , video tersebut memberikan gambaran bahwa teknologi memiliki manfaat dalam pembelajaran anak usia dini, tetapi penggunaan nya tetap perlu dibatasi dan di dampingi. Anak perlu diberikaj pemahaman bahwa gadget dapat di gunakan untuk belajar dan berkomunikasi, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat memberikan dampak kurang baik. Strategi pembelajaran melalui projek based learning yang dilakukan guru cukup menarik karena anak tidak hanya mendengar penjelasan tetapi juga berdialog, bermain peran dan membuat karya
    2. Selain cara yang ada pada video jelaskan cara lain yang harus di lakukan oleh guru agar anak tidak kecanduan gadget?
    Dapat menggunakan aktivitas langsung seperti bermain peran di luar ruangan, menggambar, membaca buju cerita, bermain peran, permai motorik dan bermain bersama teman. Guru dan orangtua dapat berkerjasama dengan orangtua untuk membuat aturan penggunaan gadget firumah x seperti membatasi waktu penggunaan gadget dsn tidak memberikan gadget ketika anak sedang makan atau sebelum tidur.
    3. Apakah projek yang diberikan oleh guru dalam video ini efektif untuk meredam keinginan anak bermain gadget
    Menurut saya cukup efektif ksrena anak diberikan pengalaman belajar yang menarik dan melibatkan mereka secara langsung. Anak berdialog tentang manfaat, dampaknya dan bermain peran menggunakan telekomunikasi, kegiatan tersebut dapat mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gadget secara langsung sekaligus , memberikan pemahaman mengenai penggunaan gadget yang bijak
    4. Menurut anda apakah guru dalam video jnj sudah memaksimalkan peran pengasuhan dalam pembelajaran anak usia dini?
    Menurut sata sudah cukup memaksimalkan peran pengasugwn, karena tidak hanya memberikan materi tetapi juga membimbing dsn memberikan pemahaman kepada anak mengenai manfaat dan dampak gadget
    5. Tahapan apa dalam project based learing yang di terapkan oleh guru menurut anda belum maksimal
    Evaluasi, karena belum memberikan kesempatan kepada anak terhadap ekspresi perasaan mereka serta pengalaman barunya

  5. DELTA DEO PURBA

    Berikut adalah analisis dan alternatif solusi untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak melalui peran guru:
    1. Cara Lain yang Harus Dilakukan Guru agar Anak Tidak Kecanduan Gadget
    Selain proyek mandiri, guru dapat menerapkan strategi holistik berikut di sekolah dan rumah:
    *Membangun Loose Parts Play: Menyediakan media bermain dari bahan alam atau barang bekas (batu, ranting, tutup botol) untuk memicu kreativitas sensorik yang tidak bisa didapatkan dari layar digital.
    *Membuat Kesepakatan Kelas (Digital Detoks): Menerapkan aturan zona bebas gadget selama di sekolah dengan aktivitas fisik yang padat.
    *Edukasi dan Kemitraan dengan Orang Tua: Mengadakan parenting talk karena penanganan kecanduan gadget tidak akan efektif jika lingkungan rumah tidak menerapkan aturan screen time yang konsisten.
    *Jurnal Kegiatan Off-Screen: Memberikan tantangan harian di rumah yang menyenangkan (misal: membantu memasak, merawat tanaman) yang harus dicatat atau digambar oleh anak.

    2. Efektivitas Project Based Learning (PjBL) Meredam Keinginan Bermain Gadget.
    Secara umum, PjBL sangat efektif untuk meredam kecanduan gadget pada anak usia dini karena beberapa alasan:

    *Keterlibatan Aktif: Anak usia dini adalah pembelajar kinestetik. PjBL memfasilitasi anak untuk bergerak, menyentuh, dan mengeksplorasi secara nyata.
    *Dopamin Alami: Bermain gadget memberikan kepuasan instan (dopamin). PjBL yang menantang dan menghasilkan produk nyata memberikan kepuasan yang lebih sehat dan bertahan lama bagi psikologis anak.
    *Interaksi Sosial: Proyek memaksa anak berkomunikasi dengan teman sebaya, hal yang hilang saat anak asyik dengan layarnya sendiri.

    3. Memaksimalkan Peran Pengasuhan dalam Pembelajaran AUD Dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini, guru tidak hanya mengajar tetapi juga mengasuh (nurturing). Guru dianggap sudah memaksimalkan peran pengasuhan jika:

    *Mampu memberikan kehangatan emosional dan menghargai proses belajar anak, bukan hanya hasil akhir proyek.
    *Menjadi fasilitator yang peka terhadap kejenuhan atau frustrasi anak saat melepas gadget.
    *Melakukan komunikasi dua arah secara intensif dengan orang tua untuk menyelaraskan pola asuh di sekolah dan di rumah.

    4. Tahapan PjBL pada AUD yang Sering Belum MaksimalDalam sintaks Project Based Learning untuk anak usia dini, tahapan yang paling sering kurang maksimal dilakukan oleh guru adalah:

    Tahapan PjBL/Mengapa Sering Belum Maksimal?
    1. Pertanyaan Mendasar (Essential Question)
    Guru sering kali langsung menentukan tema/proyek secara sepihak, bukan memancing rasa ingin tahu alami dari pemikiran anak sendiri.
    2. Monitoring dan Evaluasi Proses
    Guru terkadang terlalu fokus pada hasil akhir (produk jadi) sehingga kurang mendampingi dinamika emosi dan kerja sama anak selama proses berjalan.
    3. Uji Hasil & Refleksi (Evaluation)
    Tahap refleksi sering terlewat. Anak jarang diajak berdiskusi tentang: Apa yang mereka rasakan? Apa kesulitan mereka? Apakah mereka merindukan gadget selama proyek?

Leave a Reply