2 Comments

Sinopsis

Usia dini merupakan usia yang paling tepat untuk membentuk karakter seseorang. Jika dapat terbentuk dengan baik maka pada generasi mendatang akan menjadi generasi yang berkarakter kuat. Untuk mewujudkan PAUD berkualitas maka dibutuhkan kerjasama yang kuat antara keluarga (orang tua), lingkungan sekolah dan masyarakat. Tantangan dunia pendidikan di era globalisasi saat ini demikian kompleks, telah memberikan banyak perubahan dan dampak terhadap masyarakat sekitar. Salah satu dampak negatifnya adalah krisis moral dan akhlak baik melalui perilaku, sikap, verbal serta fisik yang lebih dikenal dengan istilah perundungan (bullying). Bila tidak segera disikapi melalui pendidikan, maka dikhawatirkan adat dan budaya luhur sesuai dengan niai-nilai Pancasila akan semakin pudar. Penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak adalah kunci utama untuk menyiapkan generasi yang berbudi luhur sesuai tahap tumbuh kembangnya. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk melalui hasil belajar dan menjadi teladan pembiasaan dan perilaku orang tua, guru dan tenaga kependidikan serta lingkungan masyarakat.

Permasalahan yang biasanya muncul pada perkembangan sosial emosional anak dapat dilihat dengan adanya perilaku anak yang kurang tepat, baik di rumah maupun di sekolah, salah satunya adalah perilaku bullying. Bullying mulai muncul di TK. Anak yang di usia dininya terindikasi dan terlibat dalam perilaku bullying, berpotensi untuk menjadi pelaku kenakalan di usia remajanya, tindakan kekerasan, serta terjebak dalam tindakan kriminal. Perilaku bullying seringkali terjadi di sekolah yang kurang pengawasan dari guru, longgar dalam menerapkan aturan, serta pihak-pihak pemegang otoritas tidak memiliki sikap dan pandangan yang tegas terhadap bullying. Pengetahuan guru TK tentang bullying juga dirasakan masih terbatas. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru dapat dilakukan dengan program psikoedukasi yang diberikan kepada guru mengenai perilaku bullying.

Gambaran atau contoh konkrit yang dituangkan dalam sebuah tayangan diharapkan menjadi media yang mudah diterjemahkan oleh guru dan tenaga kependidikan dalam mencegah terjadinya bullying. Selamat menyaksikan!

PERTANYAAN PEMACU DISKUSI

  1. Bagaimana Pendapat Anda mengenai Video di atas?

  2. Jika Anda berada di lokasi kejadian, apa yang akan Anda lakukan?

  3. Apa penyebab Joko diperlakukan demikian? 

  4. Bagaimana Anda mengedukasi siswa agar tidak melakukan perundungan?

  5. Bagaimana Anda mengedukasi siswa yang menjadi korban perundungan?

2 Replies to “Stop Bullying Pada Anak

  1. Selamat Malam Tutor dan Teman-Teman Semua.
    Perkenalkan, nama saya Izma Khoerunnisa dari UPBJJ Purwokerto. Saat ini saya mengajar di kelompok B2 usia 5–6 tahun.
    1. Bagaimana pendapat Anda mengenai video di atas?
    Menurut saya, video tersebut sangat relevan dengan kondisi di lapangan. Perilaku perundungan ternyata sudah bisa muncul sejak usia TK, walaupun kadang anak belum sepenuhnya sadar bahwa itu adalah perilaku yang tidak baik. Dari video tersebut saya jadi lebih paham bahwa pentingnya peran guru dalam mengawasi, membimbing, dan memberikan contoh yang baik kepada anak sejak dini.
    2. Jika Anda berada di lokasi kejadian, apa yang akan Anda lakukan?
    Jika saya berada di lokasi tersebut, saya akan langsung mendekati anak-anak yang terlibat, menenangkan situasi terlebih dahulu, lalu menanyakan apa yang terjadi dengan cara yang tidak menyalahkan. Setelah itu saya akan memberikan penjelasan sederhana bahwa tindakan tersebut tidak baik dan bisa menyakiti teman. Saya juga akan mengajak anak untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan temannya.
    3. Apa penyebab Joko diperlakukan demikian?
    Menurut saya, kemungkinan penyebabnya bisa karena anak lain melihat Joko berbeda, baik dari segi perilaku, kemampuan, atau kebiasaan. Selain itu, bisa juga karena kurangnya pemahaman anak tentang empati dan cara memperlakukan teman dengan baik. Lingkungan dan contoh dari sekitar juga sangat berpengaruh.
    4. Bagaimana Anda mengedukasi siswa agar tidak melakukan perundungan?
    Saya biasanya mengedukasi anak melalui pembiasaan sehari-hari, seperti mengajarkan untuk saling menyapa, berbagi, dan bermain bersama. Selain itu, saya juga menggunakan cerita atau bermain peran supaya anak lebih mudah memahami mana perilaku yang baik dan tidak baik. Saya juga selalu mengingatkan anak dengan bahasa sederhana agar tidak mengejek atau menyakiti teman.
    5. Bagaimana Anda mengedukasi siswa yang menjadi korban perundungan?
    Untuk anak yang menjadi korban, saya akan memberikan dukungan agar anak merasa aman dan tidak takut. Saya juga mengajak anak untuk berani berbicara kepada guru jika mengalami hal yang tidak menyenangkan. Selain itu, saya berusaha membangun rasa percaya diri anak dan melibatkan mereka dalam kegiatan bersama agar tidak merasa sendiri.

  2. 1. banyak hal yang bisa didapat dan diterapkan bagi anak sendiri. Sebagai orang tua perlu menjadi role model bagi anak. Tegas dalam mendidik anak saat ini akan menjadi pengalaman baik bagi anak. Saya percaya anak yang sejak dini diajarkan dan dibimbing dengan arahan yang baik akan tumbuh menjadi anak yang baik pula.
    2. Jika saya berada di lokasi saya akan memberikan aturan bermain dengan jelas. Misalnya letak bersembunyi tidak terlallu jauh, aturan menunjuk yang jaga juga sesuai dengan aturan orang dewasa, ada reward dan punishment yang sesuai untuk anak-anak.
    3. Anak perempuan tersebut terlihat lemah dan tidak bisa membela diri, sehingga ikut saja dengan aturan yang dibuat oleh orang lain.
    4. Menggunakan teguran yang baik, misalnya mengganti kata “jangan” dan “tidak” dengan pertanyaan. Misalnya, bila biasanya kita sering mengucapkan “jangan cubit teman ya” sebaiknya diganti dengan pertanyaan ” apakah kita boleh mencubit teman?”
    Menjadi contoh nyata bagi anak, dengan bersikap jujur. Saya selalu berkata jujur kepada anak misalnya saat anak bertanya, bila saya tidak tahu saya katakan tidak tahu dan kita cari saja dari internet. Atau hal-hal yang lainnya. Selain itu bagi anak yang terlihat menyimpang, kita perlu konseling dengan pihak-pihak terkait. Saya rasa bukan anak yang salah, tapi seperti yang dikatakan video di atas bahwa salah pola asuh dari orang tua. Banyak orang tua yang berkata “tidak apa namanya anak-anak”. Bagi saya pribadi menegaskan dan mendisiplinkan anak harus sejak dalam kandungan. Ajak anak bicara yang positif.
    5. Pertama saya perlu membangkitkan kepercayaan diri anak. Anak tidak perlu hebat dalam adu fisik, saat kita terlihat berani dan percaya depan umum kita sudah punya nilai. Orang tidak akan mudah meremehkan dan merendahkan kita. Saat ada anak yang mengejek saya akan memberi semangat kembali. Memberi semangat agar anak tetap percaya akan kemampuan diri.

Tuliskan komentar anda disini