712 Comments

Sinopsis

Program video ini berisi strategi seorang guru Taman Kanak-Kanak dalam mengatasi anak yang takut menangkap bola pada saat kegiatan pengembangan fisik-motorik anak di TK. Strategi yang dilakukan guru tersebut adalah sebagai berikut. Pada tahap awal guru memberikan bola yang terbuat dari kain berbulu dan memberikan pengertian dengan sabar bahwa bola tersebut aman. Langkah selanjutnya anaka diajak meraba bola dengan kedua tangannya agar anak dapat merasakan tekstur bola tersebut. Langkah berikutnya adalah dengan memberikan bola tersebut kepada anak untuk memegang dan memainkannya sendiri secara bebas. Biarkan anak melakukan kegiatan ini beberapa kali. Dan akhirnya secara perlahan guru tersebut mengajari anak melempar bola dengan benar kearah guru atau sebaliknya.

Badru Zaman

Tayangan video tersebut sudah bagus. Beberapa hal yang perlu saya sampaikan berkaitan dengan solusi mengatasi anak yang masih takut ketika menangkap bola dalam video tersebut diantaranya:

  1. Tayangan video pembelajaran tersebut tidak secara lengkap/utuh merekam dari awal pembelajaran, sehingga tidak bisa saya ketahui bagaimana guru/pengasuh menyiapkan kegiatan awal (menyiapkan, presensi, berdoa, stretching, dst). Barangkali memang yang menjadi fokus video tersebut langsung pada solusinya.
  2. Strategi dan media sudah baik, hanya sebagai masukan dan alternatif untuk menumbuhkan keberanian dan kemampuan anak;
    • Formasi anak-anak dapat diatur berhadapan media bola kain/kertas yang lembut/bola plastik yang ringan dengan ukuran yang lebih kecil sehingga anak dapat menangkap dan melempar bola dengan baik.
    • Formasi anak dapat bervariasi misal anak membentuk lingkaran terdiri dari 5-6 anak dengan jarak1 meter, 1-2 bola untuk diberikan pada teman sebelahnya secara bersambung sehingga seolah bola tersebut berjalan berputar mengelilingi lingkaran anak-anak. Pengalaman sukses harus menjadi perhatian agar anak merasa percaya diri bahwa dia mampu melakukannya (menangkap maupun melempar), sekaligus sebagai sarana menumbuhkan keberanian . Jarak antar pasangan diatur dari tingkat yang pendek sampai dengan jarak yang kita inginkan sesuai tingkat kemampuan dan perkembangan anak.
    • Media bola dapat diganti yang lebih besar jika tahapan pertama (bola yang lebih kecil sudah tidak merasa takut ketika menangkapnya/melemparkannya. Pada akhirnya anak akan berani dan mampu melempar dan menangkap bola sesungguhnya dengan catatan media disesuaikan dengan kekuatan otot, tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Triyono, M.Pd.

Video ini memberi gambaran yang nyata tentang pengembangan motoric kasar khususnya saat kegiatan melempar dan menangkap bola. Urutan langkah kegiatannya cukup mudah dipahami dan mudah diterapkan. Selain itu strategi yang digunakan guru sesuai dengan tingakatan usia anak. Selain itu cara penyampaian guru dalam video juga cukup atraktif sehingga anak-anak tampak antusias dan tujuan pembelajarannya (menumbuhkan keberanian anak menangkap bola) juga dapat tercapai secara jelas. Video ini menginspirasi saya untuk belajar dan terus belajar agar kemampuan saya sebagai guru semakin meningkat.

Satriasih

712 Replies to “Mengatasi anak yang takut menangkap bola saat kegiatan”

  1. Berikut adalah analisis dan refleksi singkat dari video pembelajaran pengenalan konsep bilangan:

    ​Analisis Pembelajaran
    ​Pendekatan Konkrit (Hands-on): Guru menggunakan media bola berwarna-warni dan keranjang agar anak dapat mengalami langsung proses menghitung benda nyata.

    ​Strategi Penanganan Kesalahan (Scaffolding): Saat anak mengambil jumlah bola yang belum sesuai (misalnya meminta 7 tetapi anak mengambil 6), guru tidak menyalahkan, melainkan mengajak siswa menghitung bersama dan membimbingnya menemukan kekurangan bola tersebut.

    ​Penguatan Positif & Antusiasme: Guru memberikan apresiasi (pujian dan tepuk tangan) serta menyelipkan nyanyian interaktif untuk menjaga motivasi anak.

    ​Refleksi
    ​Keberhasilan: Suasana kelas terasa menyenangkan dan anak-anak terlibat aktif. Konsep angka dipahami secara alami melalui bermain dan berhitung bersama.

    ​Catatan/Saran Pengembangan:
    ​Guru dapat mengaitkan jumlah benda dengan lambang angka (misal: menunjukkan kartu angka 7 setelah bola dihitung) agar pemahaman simbolik anak semakin terasah.
    ​Instruksi bahasa campuran (Indonesia-Inggris) dapat terus disesuaikan agar tetap jelas dan mudah dipahami oleh seluruh anak

  2. Perkenalkan nama saya Nurul Nadia, NIM 859161823
    izin menanggapi video diatas, Strategi ini menunjukkan pemahaman guru terhadap prinsip pembelajaran berpusat pada anak. Desensitisasi sistematis yang diterapkan tidak memaksa anak menghadapi stimulus yang menakutkan sekaligus, melainkan menurunkan kecemasannya sedikit demi sedikit.

    Pemilihan bola kain berbulu sebagai media cukup tepat sebab teksturnya yang lembut kecil kemungkinan memicu reaksi berlebihan pada anak dengan sensitivitas sensori. Tahapan dari meraba hingga bermain bebas memberi ruang bagi anak untuk menyesuaikan diri sesuai kecepatannya sendiri dan dari sinilah regulasi emosi serta kesiapan sensori motoriknya terbangun, sebelum ia dihadapkan pada keterampilan fisik yang lebih kompleks. Pendidik PAUD yang menemui anak dengan hambatan emosional atau sensori serupa bisa mempertimbangkan pendekatan bertahap seperti ini.

  3. NAMA : FAIZAH
    NIM : 859424617

    IZIN untuk menanggapi yang ada d atas
    Menurut saya, video ini memberikan contoh yang baik dalam menghadapi anak yang masih takut menangkap bola. Guru terlihat sabar dan tidak memaksa anak, tetapi mengajaknya mencoba sedikit demi sedikit. Saya belajar bahwa dalam kegiatan PAUD, anak perlu diberi rasa aman dan kesempatan untuk mencoba sesuai kemampuannya.

    sekian dari saya

  4. nama ni wayan sumiati
    nim 858334129
    Menurut saya, strategi guru dalam video ini sangat tepat dan sesuai dengan prinsip pembelajaran PAUD yaitu aman, nyaman, dan bertahap.
    Kelebihan:
    – Guru sangat sabar dan tidak memaksa anak, sehingga tidak menimbulkan trauma baru pada anak.
    – Media yang digunakan sangat inovatif, yaitu bola kain berbulu yang lembut, tidak seperti bola plastik/karet yang keras dan sakit jika kena anak.
    – Anak diajak mengenal tekstur dulu, ini adalah pendekatan sensorik yang sangat baik untuk membangun rasa aman.
    Kekurangan:
    – Membutuhkan waktu yang lebih lama karena harus dilakukan berulang kali sampai anak benar-benar berani.
    Dari video ini saya belajar bahwa ketakutan anak adalah hal yang wajar dan harus dihadapi dengan empati, bukan paksaan.
    Jika dalam kegiatan saya nanti ada anak yang takut menangkap bola, saya tidak akan langsung menyuruhnya menangkap bola besar.

  5. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang ibu
    Nama Mirnawati Dewi
    NIM 860319644
    Izin menanggapi video tersebut
    Analisis :
    Dalam video tersebut ada beberapa anak yang sedang bermain lempar bola bersama ibu guru. Namun ada anak yang merasa takut sakit saat menangkap bola, sampai di ulangi oleh bu guru. Sehingga ibu guru memberikan solusi dan pemahaman kepada anak yang takut tadi dengan memberikan bola kain dan belajar melempar ke atas, menangkapnya serta menjelaskan jika bola ini empuk tidak keras serta tidak menyebabkan sakit. Lalu ibu guru memperagakan lagi lempar tangkap bola kepada anak itu berkali-kali sehingga lama kelamaan anak itu tidak takut lagi.

    Refleksi :
    Menurut saya, langkah dan stimulasi ibu guru sudah sangat baik. ibu guru memberikan tahapan mulai dari cara memegang dan menjelaskan tekstur bola, dan terus menyemangati anak itu bahwa lempar tangkap bola ini tidak akan menyakitinya. Ibu guru memberikan contoh lempar tangkap bola dengan jarak dekat dulu dan bertahap. Anak menjadi senang semangat dan tidak takut lagi. Prinsip pembelajaran anak usia dini yaitu menarik dan menyenangkan anak. Dengan sausana belajar sambil bermain yang menyenangkan.

    Demikian jawaban diskusi saya 🙏🏻
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Leave a Reply