2 Comments

Sinopsis

Program ini menggambarkan kesulitan guru kelas V SD dalam mengajarkan peristiwa Perang Diponegoro secara bermakna kepada siswa. Ketika siswa diminta untuk mencatat hal-hal yang dijelaskan guru, siswa kebingungan untuk mencatatnya. Anak-anak diminta untuk mengingat sesuatu atau menghafal sesuatu yang terjadi pada masa lalu, tanpa mengaitkannya dengan masa sekarang. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengajarkan masa lalu, dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mengaitkan masa lalu dengan masa sekarang,

  2. Analog kesamaan atau perbedaannya,

  3. Humor dapat membantu siswa untuk mengingat.

Eded Tarmedi

  1. Cara membuka pembelajaran guru belum memperhatikan sekitar kelas, tiba-tiba langsung masukan dan memberikan materi yang akan dipelajari. Isi materinya tidak terlalu lengkap dalam penjelasannya. Pembelajaran yang digunakan monoton seharusnya guru dapat memberikan pembelajaran yang menarik. Ketika penutupan guru tidak membuat kesimpulan dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Strategi dalam mempembelajaran ini bisa menggunaan bermain peran agar siswa dapat mengalami kejadian-kejadian di masa lalu dan sekarang. Seharusnya media yang digunkan harus lebih jelas lagi agar siswa dpat memahami kejadian atau peristiwa yang terjadi saat itu.
  3. Kesesuain tingkat materi sudah cukup baik.
  4. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Hendri Supriyadi S, S.Pd.

2 Replies to “Perlawanan pangeran Diponegoro VS Makam Mbah Priok”

  1. Nama : Nina Triana
    NIM : 860718099
    Video ini menunjukkan pembelajaran IPS yang mengangkat peristiwa sejarah, yaitu perlawanan Pangeran Diponegoro, serta mengaitkannya dengan fenomena sosial di sekitar seperti Makam Mbah Priok. Pendekatan ini cukup menarik karena menghubungkan materi sejarah dengan konteks nyata, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami dan merasa dekat dengan materi yang dipelajari.

    Namun, dalam penyampaiannya, guru masih terlihat menggunakan metode ceramah yang dominan, sehingga siswa cenderung pasif dan kurang terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Padahal, materi sejarah akan lebih bermakna jika disampaikan melalui diskusi, tanya jawab, atau analisis peristiwa.

    Kelebihan
    Mengaitkan materi sejarah dengan konteks kehidupan nyata
    Membahas tokoh dan peristiwa penting (Pangeran Diponegoro)
    Materi relevan untuk menumbuhkan nilai nasionalisme
    Membantu siswa memahami hubungan antara masa lalu dan masa kini

    Kekurangan
    Pembelajaran masih berpusat pada guru (ceramah)
    Siswa kurang aktif dan partisipatif
    Tidak ada apersepsi dan tujuan pembelajaran yang jelas
    Kurangnya penggunaan media pembelajaran (gambar/video/peta)
    Tidak ada penutup atau refleksi pembelajaran

    Saran
    Menggunakan metode diskusi atau tanya jawab agar siswa lebih aktif
    Menambahkan media visual seperti gambar tokoh atau peta sejarah
    Mengaitkan materi dengan nilai-nilai karakter (nasionalisme, perjuangan)
    Memberikan kesimpulan dan refleksi di akhir pembelajaran
    Melibatkan siswa dalam analisis peristiwa sejarah

    Kesimpulan

    Secara keseluruhan, video ini sudah baik karena mengangkat materi sejarah yang penting dan relevan. Namun, pembelajaran akan lebih efektif jika guru menggunakan metode yang lebih interaktif dan melibatkan siswa secara aktif, serta memanfaatkan media pembelajaran yang lebih variatif.

  2. Nama : Annisa Zahra Khairani
    Nim : 857142416
    UPBJJ : UT JAKARTA

    Dalam Video tersebut, Analisis Kritis Pembelajaran IPS: Integrasi Sejarah Perjuangan dan Fenomena Sosial

    Pembelajaran IPS dalam video ini menunjukkan upaya kontekstualisasi yang sangat baik. Guru berhasil menjembatani peristiwa sejarah yaitu Perlawanan Pangeran Diponegoro dengan realitas sosial di lingkungan sekitar siswa, seperti keberadaan Makam Mbah Priok. Penjelasannya memberikan relevansi nyata, sehingga sejarah tidak sekadar menjadi deretan angka tahun yang abstrak, melainkan narasi yang hidup dan dekat dengan siswa.

    Meskipun demikian, mode penyampaian masih menyisakan ruang untuk perbaikan. Proses pembelajaran tergolong satu arah (teacher-centered) karena didominasi oleh metode ceramah. Kondisi ini membuat tingkat keterlibatan siswa cenderung rendah. Padahal, pemahaman sejarah yang mendalam memerlukan pengolahan berpikir kritis yang dapat distimulasi melalui dialog aktif dan analisis bersama.

    1.Poin Keunggulan (Strong Points)
    – Kontekstualisasi Konkrit: Sukses menghubungkan fakta sejarah masa lalu dengan fenomena sosial lokal masa kini.
    – Penguatan Karakter: Pemilihan topik Pangeran Diponegoro secara intuitif menanamkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme.
    – Kejelasan Topik: Bahasan terfokus pada peristiwa sejarah yang esensial.

    2. Area Pengembangan (Areas for Improvement)
    – Pola Interaksi: Pembelajaran kurang variatif karena minimnya ruang diskusi dan eksplorasi mandiri oleh siswa.
    – Struktur Kegiatan: Kegiatan pendahuluan (apersepsi & penyampaian tujuan) serta penutup (refleksi & kesimpulan) belum terlihat secara sistematis.
    – Integrasi Media: Pembelajaran belum memanfaatkan media bantu (seperti peta pertempuran, lini masa, atau visual tokoh) untuk memperkuat pemahaman spasial-temporal.

    3.Rekomendasi Tindakan (Action Plan)
    – Transformasi Metode: Mengubah pola penyampaian menjadi Problem-Based Learning (PBL) atau diskusi kelompok terbimbing agar siswa aktif berpendapat.
    – Pemanfaatan Media Visual: Menggunakan peta sejarah untuk menunjukkan sebaran Perang Diponegoro atau dokumentasi gambar terkait objek sosial setempat.
    – Penyempurnaan Struktur: Memastikan adanya tahapan awal (menyampaikan tujuan) dan tahapan akhir (merangkum serta merefleksikan nilai-nilai perjuangan bersama siswa).

Leave a Reply