222 Comments

Sinopsis

Pada program video ini diperlihatkan upaya guru untuk memberikan toleransi kepada orangtua untuk berada di kelas selama masa orientasi. Guru bekerjasama dengan orangtua untuk memotivasi anak dari agar mandiri dan tidak menangis saat ditinggalkan orangtuanya. Guru mempersilahkan orangtua untuk melepas anak secara bertahap. Kemudian guru mendekati anak dengan penuh kelembutan lalu memberikan sentuhan, belaian dan pelukan sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan guru. Selain itu guru juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan. Guru dapat juga mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Sebaiknya guru tetap berada dalam jangkauan anak sehingga manakala dibutuhkan guru siap memberikan pelayanan/perhatian kepada anak, guru memberikan ”reward” kepada anak yang sudah bisa belajar mandiri di kelas agar memotivasi anak lain untuk mendapatkan reward sehingga berusaha untuk tidak menangis lagi.

Dwi Astuti

Secara keseluruhan tayangan dalam video tersebut lebih banyak peragaan/ilustrasi yang dilakukan guru dan anak didik saja. Untuk dialog hanya sedikit yang dapat didengar selebihnya hanya peragaan/ilustrasi. Kegiatan yang diberikan guru dapat memperkenalkan anak didik baru kepada semua teman-temanya dengan cara kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama ketika didalam kelas seperti bermain bersama, membuat roti dan menutup dengan membuat kereta panjang. Semua itu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku.

-

222 Replies to “Anak Belum Mandiri”

  1. Kalau menurut saya pribadi, video tentang masa orientasi itu memang benar-benar kejadian nyata di TK kita sehari-hari.

    Saya setuju banget sama cara guru di video itu. Guru tidak langsung mengusir orang tua, malah dikasih toleransi untuk menemani dulu di dalam kelas. Soalnya kita tahu sendiri, anak baru masuk TK pasti nangis karena baru pertama kali pisah sama ibunya. Kalau langsung dipaksa mandiri, anak malah trauma dan tidak mau sekolah lagi.

    Yang saya suka dari guru di video itu, dia melepas anaknya secara pelan-pelan. Hari ini ditunggu di dalam, besok di luar pintu, lusa sudah di halaman saja. Jadi anak tidak kaget. Terus gurunya juga sabar banget, didekati dengan lembut, dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan. Anak kan kalau sudah merasa nyaman sama gurunya, lama-lama lupa sama ibunya.

    Guru di video itu juga pintar mengalihkan perhatian. Waktu anak mulai mau nangis, langsung diajak main balok, diajak nyanyi, atau dikenalkan sama teman yang sudah berani. Jadi anak tidak fokus ke tangisannya lagi. Apalagi pas dikasih reward bintang atau dipuji “wah hebat sudah berani”, anak lain yang lihat jadi ikutan mau berani juga.

    Kalau saya sendiri yang jadi guru di kelas seperti itu, biasanya saya juga pakai cara tambahan. Saya biarkan anak bawa boneka kesayangannya dari rumah dulu, biar ada teman dari rumah. Di awal masuk saya buat kegiatan yang heboh dan seru, misalnya main air warna atau boneka tangan yang lucu, jadi anak langsung tertarik dan lupa nangis. Saya juga tidak pernah bilang “jangan nangis, malu sama teman”. Saya biasanya bilang saja “tidak apa-apa nangis, ibu guru peluk dulu ya, kalau sudah enakan kita main sama-sama”. Dan yang penting saya selalu chat orang tuanya setelah pulang, saya kirim foto anaknya sudah bisa main dan senyum di sekolah, jadi orang tuanya juga tenang.

    Intinya menurut saya, di masa orientasi ini kita jangan buru-buru menuntut anak mandiri. Yang paling penting buat dulu rasa aman anak. Kalau anak sudah merasa aman, nyaman, dan percaya sama kita sebagai gurunya, nanti kemandiriannya akan datang sendiri tanpa dipaksa.

Leave a Reply