3 Comments

Sinopsis

Kompetensi yang harus dikusai dalam menjalankan tugasnya sebagai guru di antaranya kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Dengan menguasai pemahaman terhadap peserta didik guru dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan karakter anak tersebut, anak kelas 1 SD tidak akan mudah memahami hal-hal yang abstrak, tetapi mereka akan lebih mudah memahami apa bila konsep atau teori diberikan dalam wujud nyata seperti yang ditayangkan dalam video ini. Guru kelas 1 SD dalam menyampaikan materi tentang “Berat Benda” menyampaikan pembelajaran dengan contoh nyata menggunakan alat peraga yang ada dan dikenal oleh peserta didik untuk mengamati, merasakan, dan mengevaluasi benda mana yang lebih ringan dan berat dengan contoh pensil dan buku, siswa yang tinggi badannya berbeda sehingga dapat menyimpulkan sendiri bahwa yang lebih besar memiliki bobot yang lebih berat dan yang kecil lebih ringan.

Sudah cukup baik, Metode yang digunakan bisa ditambah dengan games atau bernyanyi.

Materi yang disampaikan dan metode yang digunakan sudah sesuai dengan perkembangan peserta didik.

Materi dan metode juga sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Saran saya durasi pembelajaran dalam video mungkin dapat ditambah. Tidak hanya sekedar 5 menit yang mana hal ini tidak sesuai dengan implementasi waktu di lapangan.

Mohammad Zulkarnain Jamil, S.Pd.

3 Replies to “Mengajar Berat Benda

  1. Nama : Nina Triana
    NIM : 860718099

    Video ini menunjukkan bahwa pembelajaran konsep berat benda akan lebih mudah dipahami oleh siswa jika menggunakan benda nyata. Guru dalam video sudah menggunakan berbagai alat peraga sederhana seperti benda di sekitar kelas (misalnya buku, botol, dan balon) sehingga siswa dapat langsung membandingkan mana yang lebih berat dan ringan. Pendekatan ini sangat tepat untuk siswa kelas rendah karena mereka lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman konkret daripada penjelasan abstrak

    Selain itu, guru juga menggunakan metode tanya jawab sehingga siswa lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran. Hal ini membantu siswa berpikir dan menarik kesimpulan sendiri tentang konsep berat benda.

    Kelebihan
    -Menggunakan alat peraga konkret (benda nyata)
    -Pembelajaran interaktif melalui tanya jawab
    -Siswa lebih mudah memahami konsep berat dan ringan
    -Sesuai dengan karakteristik siswa kelas rendah

    Kekurangan
    -Tidak ada apersepsi dan kegiatan pembuka yang menarik
    -Keterlibatan siswa belum merata (masih ada yang pasif)
    -Waktu pembelajaran kurang terkelola dengan baik
    -Pertanyaan guru belum semuanya bersifat terbuka

    Saran
    -Memulai pembelajaran dengan ice breaking dan apersepsi
    -Melibatkan seluruh siswa secara aktif
    -Menggunakan pertanyaan yang lebih memancing berpikir kritis
    -Mengatur waktu agar semua kegiatan berjalan efektif

    Kesimpulan

    Secara keseluruhan, video ini sudah baik karena menggunakan media konkret yang membantu siswa memahami konsep berat benda dengan mudah. Namun, pembelajaran akan lebih optimal jika dilengkapi dengan kegiatan pembuka, keterlibatan siswa yang merata, serta pengelolaan waktu yang lebih baik.

  2. Nama : Arum Muslimatul Afifah
    NIM : 856853708
    Izin menanggapi mengenai pembelajaran yang ada di video tersebut. Menurut saya, dalam pembelajaran tersebut kelebihan ari pembelajarannya adalah guru menggunakan benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa seperti buku dan pensil serta melibatkan siswa secara langsung sebagai subjek perbandingan. Guru juga aktif memanggil siswa ke depan kelas untuk berpartisipasi langsung dalam praktik membandingkan berat benda ini membuat suasana kelas menjadi hidup. guru juga menjelaskan kepada siswa mebggubakan kata-kata yang sering didengar oleh siswa contohnya ringan diganti dengan enteng agar sisa lebih mudah memahami. Di akhir pelajaran, guru memberikan tugas yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu meminta siswa membandingkan benda-benda yang ada di rumah mereka.
    kekurangan dari video ini adalah Saat mempraktikkan konsep berat dan ringan menggunakan benda mati (buku dan pensil) maupun siswa, guru tampak hanya menggunakan tangan atau pengamatan visual/posisi duduk tanpa alat timbangan yang jelas bagi seluruh kelas sehingga konsep ukuran berat secara pasti kurang terlihat jelas. mungkin itu pendapat dari saya. sekian terimakasih.

  3. Nama : Hermawati Ningsih
    NIM : 856856212
    Izin menanggapi vidio pembelajaran tersebut, menurut saya pembelajaran yang disampaikan sudah sangat runtut, tajam, dan objektif. Struktur evaluasinya mencakup poin-poin krusial dalam praktik mengajar, mulai dari aspek pedagogis hingga manajemen kelas.
    Kelebihan Pembelajaran :
    – Pendekatan Konkret & Kontekstual: Guru memanfaatkan benda-benda nyata di sekitar lingkungan siswa (seperti buku, botol, balon, dan pensil) untuk mengenalkan konsep berat dan ringan. Pendekatan ini sangat sesuai dengan tahap perkembangan mental anak kelas rendah yang membutuhkan objek rabaan (hands-on) agar dapat mencerna materi secara intuitif.
    – Penggunaan Bahasa yang Komunikatif (Bridging Language):Guru secara adaptif mengganti istilah abstrak dengan kosakata sehari-hari yang akrab di telinga siswa—misalnya memakai kata “enteng” untuk menjelaskan konsep ringan. Hal ini meruntuhkan hambatan pemahaman bahasa teknis pada anak.
    – Partisipasi Aktif & Pembelajaran Interaktif: Siswa ditunjuk langsung untuk maju ke depan kelas sebagai subjek perbandingan. Metode tanya jawab yang dipadu dengan keterlibatan fisik ini menghidupkan suasana kelas, merangsang pemikiran kritis, serta membantu anak menarik kesimpulan mandiri.
    – Penugasan Berbasis Pengalaman Kontekstual: Di akhir sesi, guru memberikan tugas rumah yang relevan dengan meminta siswa mengukur benda-benda di sekitar tempat tinggal mereka, sehingga proses belajar berlanjut secara kontekstual di luar sekolah.
    Kekurangan Pembelajaran :
    – Ketiadaan Alat Ukur Validasi Visual: Pengukuran yang hanya mengandalkan persepsi rasa di tangan atau pengamatan posisi duduk menimbulkan risiko subjektivitas. Tanpa adanya instrumen pembanding yang jelas, pemahaman siswa terhadap kepastian ukuran berat menjadi kurang presisi.
    – Kegiatan Pembuka Kurang Optimal: Pembelajaran belum diawali dengan apersepsi yang memikat maupun aktivitas penyegar (ice breaking) untuk memfokuskan kesiapan belajar siswa sejak awal.
    – Pemerataan Keterlibatan & Manajemen Waktu: Pelibatan siswa belum sepenuhnya merata karena masih ada anak yang pasif. Selain itu, alokasi waktu antarsetiap tahapan kegiatan belum terkelola secara efektif.
    – Kualitas Pertanyaan Pemantik: Sebagian besar pertanyaan yang diajukan guru masih bersifat tertutup, sehingga belum maksimal dalam memicu daya pikir kritis siswa.

    Saran Perbaikan :
    – Penggunaan Timbangan Sederhana: Mengintegrasikan media peraga rakitan (misalnya gantungan baju yang dikaitkan dengan dua kantong plastik transparan) sebagai instrumen timbangan intuitif. Media ini memberikan bukti visual yang jelas (posisi naik-turun) untuk membuktikan objek mana yang lebih berat.
    – Penguatan Struktur Pembelajaran: Membuka kelas dengan apersepsi interaktif atau cerita pendek untuk menarik perhatian, serta mengacak penunjukan siswa agar seluruh anggota kelas terlibat aktif secara merata.
    – Penerapan Asesmen Formatif & Variasi Pertanyaan: Menggunakan pertanyaan terbuka (open-ended questions) yang memancing naluri analisis siswa, lalu menutup sesi dengan evaluasi singkat—seperti lembar kerja bergambar sederhana—guna memastikan tingkat pemahaman tiap individu secara terukur

Leave a Reply