Sinopsis
Pada program video ini diperlihatkan upaya guru untuk memberikan toleransi kepada orangtua untuk berada di kelas selama masa orientasi. Guru bekerjasama dengan orangtua untuk memotivasi anak dari agar mandiri dan tidak menangis saat ditinggalkan orangtuanya. Guru mempersilahkan orangtua untuk melepas anak secara bertahap. Kemudian guru mendekati anak dengan penuh kelembutan lalu memberikan sentuhan, belaian dan pelukan sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan guru. Selain itu guru juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan. Guru dapat juga mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Sebaiknya guru tetap berada dalam jangkauan anak sehingga manakala dibutuhkan guru siap memberikan pelayanan/perhatian kepada anak, guru memberikan ”reward” kepada anak yang sudah bisa belajar mandiri di kelas agar memotivasi anak lain untuk mendapatkan reward sehingga berusaha untuk tidak menangis lagi.
Dwi Astuti
-
-
Secara keseluruhan tayangan dalam video tersebut lebih banyak peragaan/ilustrasi yang dilakukan guru dan anak didik saja. Untuk dialog hanya sedikit yang dapat didengar selebihnya hanya peragaan/ilustrasi. Kegiatan yang diberikan guru dapat memperkenalkan anak didik baru kepada semua teman-temanya dengan cara kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama ketika didalam kelas seperti bermain bersama, membuat roti dan menutup dengan membuat kereta panjang. Semua itu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku.
-
133 Replies to “Anak Belum Mandiri”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Assalamualaikum, izin menanggapi dan merefleksikan video “Anak Belum Mandiri” ini.
Menurut saya, video ini menggambarkan situasi yang sangat wajar dan sering terjadi di PAUD. Anak yang belum mandiri di awal masuk sekolah itu hal yang normal, karena mereka masih dalam proses beradaptasi dengan lingkungan baru dan berpisah dari orang tua. Rasa cemas dan takut itu alami.
Yang saya tangkap dari video ini, kuncinya ada di kerja sama antara guru dan orang tua. Guru dalam video sudah menunjukkan pendekatan yang tepat, yaitu memberikan toleransi kepada orang tua untuk mendampingi anak secara bertahap selama masa orientasi. Guru juga mendekati anak dengan lembut, memberikan sentuhan, belaian, dan pelukan, supaya anak merasa aman. Selain itu, guru mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan bermain yang menyenangkan dan mengenalkan mereka dengan teman-teman yang sudah lebih mandiri.
Pemberian reward untuk anak yang sudah bisa mandiri juga penting sebagai motivasi bagi anak lain. Tapi yang paling saya pahami bahwa proses ini tidak bisa instan. Butuh kesabaran, konsistensi, dan kasih sayang dari guru maupun orang tua. Peran orang tua juga krusial untuk secara bertahap mengurangi pendampingan agar anak belajar beradaptasi sendiri.
Video ini sangat bermanfaat buat saya untuk memahami bahwa kemandirian anak usia dini adalah hasil dari bimbingan yang bertahap dan lingkungan belajar yang aman serta menyenangkan. Terima kasih.
Setelah menonton video “Anak Belum Mandiri”, saya menyadari bahwa ketidak mandirian anak di awal sekolah itu hal yang wajar. Video ini memperlihatkan bagaimana guru memberikan toleransi kepada orang tua untuk mendampingi anak selama masa orientasi, lalu melepas anak secara bertahap.
Yang menarik bagi saya adalah pendekatan guru yang penuh kelembutan—memberikan sentuhan, belaian, dan pelukan agar anak merasa nyaman. Guru juga mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan, serta mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Dari sini saya belajar bahwa kemandirian anak tidak bisa dipaksakan, melainkan dibangun melalui rasa aman terlebih dahulu.
Saya juga melihat pentingnya pemberian reward atau pujian kepada anak yang sudah mulai mandiri, sebagai motivasi bagi anak lain. Namun, saya sepakat bahwa pujian tidak boleh menjadi satu-satunya motivasi—dorongan dari dalam diri anak tetap yang utama.
Refleksi saya, kerja sama antara guru dan orang tua adalah kunci utama dalam menumbuhkan kemandirian anak. Guru perlu sabar dan kreatif, sementara orang tua juga harus konsisten melatih anak di rumah. Lingkungan yang aman dan menyenangkan akan membuat anak lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru secara mandiri.
SATRIANA_859445183_PGPAUD
Masalah anak yang belum mandiri sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua maupun pendidik di sekolah, karena kemandirian merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kesiapan belajar anak usia dini. Fenomena ini umumnya tidak hanya bersumber dari diri anak yang terbiasa dilayani, tetapi juga akibat pola asuh overprotective di mana orang tua atau pengasuh kerap terburu-buru mengambil alih tugas anak karena alasan praktis atau rasa tidak tega. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk mencoba, mengalami kesalahan kecil, dan membangun rasa percaya diri dalam mengurus diri sendiri. Oleh karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah melalui pembiasaan yang konsisten baik di rumah maupun di sekolah, seperti melatih keterampilan dasar merawat diri secara bertahap scaffolding, memberikan jadwal visual harian agar anak lebih berinisiatif, serta senantiasa memberikan apresiasi terhadap proses usaha anak alih-alih menuntut hasil yang sempurna. Melalui kolaborasi yang erat antara orang tua dan guru serta kesabaran dalam mendampingi setiap tahap tumbuh kembangnya, anak secara perlahan akan belajar mengatasi rasa ketergantungan dan tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, percaya diri, serta siap menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas.