50 Comments

Sinopsis

Pada program ini diperlihatkan upaya guru dalamm mengatasi permasalahan anak yang tidak mau ikut antri dalam barisan. Upaya yang dilakukan guru tersebut adalah dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada anak dengan sabar agar ia mau bergantian posisi dengan teman-temannya, mendekati anak yang tidak mau antri berbaris, memegang pundak anak yang bermasalah, kemudian mengelus kepalanya, Jika anak tetap tidak mau, guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris dengan anak, guru memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan untuk anak.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Menegakkan disiplin bagi anak sejak usia dini.

Kelemahan: Membuka, pembelajaran kurang begitu tampak.

Kekuatan: Penggunaan pendekatan, strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran sudah baik..

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, dengan kurikulum yang berlaku sudah sesuai.

Kesan Umum

Deskripsi: Anak X (gemuk) sudah mau antri saat berbaris, setelah diberi penguatan guru, dengan senyuman dan tangan ditepukkan pada tangan anak (tos). Sebelumnya dia berada pada barisan terakhir, kemudia pindah ke barisan paling depan tanpa sepengetahuan guru. Perilaku antecedent, semua guru pada saat yang bersamaan disibukkan menata anak-anak lain untuk berbaris. Perilaku target semua anak berbaris sesuai dengan urutannya. Perilaku yang diharapkan salah satu guru berada di depan menghadap barisan, sehingga semua anak terpantau.

Dra. Titik Setyowati, M.Pd.

Secara umum tayangan video ini sudah menunjukkan keadaan asli yang terjadi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cukup menarik dan merupakan permasalahan yang bisa ditemui oleh para guru. Namun solusi yang ditawarkan sepertinya terlalu sederhana dan sangat mudah dilakukan.

Seorang guru bisa dengan cepat membujuk murid yang tidak mau antri jika penyebabnya diketahui.

Meskipun penyebab permasalahan kurang disinggung, penonton masih bisa mendapatkan manfaat dari tayangan video ini.

Wing Hanyom Sari

50 Replies to “Anak tidak mau antri saat berbaris

  1. Nama : Amlaia

    Nim : 857268098

    Permasalahan anak yang tidak mau antre saat berbaris merupakan indikasi bahwa perkembangan sosial-emosional, khususnya dalam hal pengendalian diri (self-regulation) dan pemahaman aturan sosial, masih memerlukan bimbingan khusus.
    perilaku anak yang menyerobot antrean biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu egosentrisme yang kuat, ketidakpahaman akan konsep waktu, dan kurangnya instruksi yang jelas.
    Saya setuju dengan Video tersebut dengan menyarankan beberapa tindakan konkret yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki situasi ini dengan pemberian Contoh (Modeling) yaitu Guru tidak hanya memberi perintah, tetapi ikut mengantre dan menunjukkan sikap sabar. Anak adalah peniru yang ulung. Selain itu penggunaan Alat Bantu Visual dengan membuat tanda di lantai (seperti stiker jejak kaki atau lakban berwarna) sebagai batas berdiri. Ini membantu anak memahami ruang pribadinya dalam barisan secara konkret. Dan metode Bermain dan Bernyanyi juga dapat mengajak anak berbaris sambil bernyanyi (seperti lagu “Kereta Api”) atau melakukan permainan kecil agar aktivitas menunggu menjadi menyenangkan dan tidak terasa lama.

  2. Nama : Nurbaeah Sri Pujiasih
    NIM : 860033591
    SALUT Majalengka

    setelah melihat video ini, menurut saya upaya guru dalam menghadapi anak yang tidak mau antri saat berbasi, Guru tersebut memilih untuk menggunakan komunikasi yang lembut dan persuasif. Alih-alih membentak atau memaksa anak secara fisik, ia memberikan pengertian. Ini sangat penting untuk membangun self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) pada anak, sehingga mereka antre karena paham maknanya, bukan karena takut pada guru.guru juga melakukan kesepakatan untuk membuat jadwal agar anak dapat bergantian menjadi posisi di depan, saya juga melakukan hal yang sama karena menurut saya melakukan kesepakatan lebih efektif untuk memberikan pengertian pada anak bahwa semua anak mempunyai hak yang sama.

  3. Nama : Sri Wulandari
    Nim : 858987991
    Dalam video tersebut adalah kegiatan antri saat berbaris dan ada seorang anak laki laki yang tidak mau antri dan maunya didepan dan sikap guru tersebut sudah tepat untuk menghadapi atau cara agar anak tersebut mau baris dan antri lagi yaitu dengan berbicara lembut dan dengan bahasa yang sederhana untuk memberikan pengertian agar anak paham,dan anak tersebut mau antri lagi dan juga membuat kesepakatan untuk bergantian

    1. berbaris merupakan hal yang dasar dan perlu diperhatikan AUD karena dari belajar berbaris anak bisa belajar menunggu giliran, belajar sabar dan belajar bertanggung jawab. Saya setuju dengan sikap guru yang menghadapi anak yang belum mau berbaris dengan cara yang lembut dan memberikan pemahaman supaya anak bisa mengerti.

  4. Nama : Eno Eti Nurani
    NIM : 878163503
    Prodi : PGPAUD

    Video ini menunjukkan langkah yang dilakukan guru sudah tepat, yaitu dengan memberikan arahan secara lembut, mengingatkan aturan secara berulang, serta mencontohkan cara mengantri yang benar. Guru juga tampak berusaha menanamkan disiplin melalui pembiasaan, bukan dengan paksaan. Hal ini penting karena anak PAUD masih berada pada tahap egesentris, sehingga membutuhkan bimbingan yang sabar dan konsisten.

    Selain itu, pendekatan guru yang tidak keras membantu anak merasa aman dan tetap nyaman dalam belajar. Dengan cara ini, anak perlahan dapat memahami aturan sosial seperti mengantri, berbagi, dan menunggu giliran.

  5. Assalamu’alaikum Wr Wb
    Saya Nida Iswatin Hasanah
    Mahasiswa PGPAUD Semester 4
    dari UPBJJ UT Semarang
    NIM : 877702878

    Video diatas memberikan contoh bagi kita semua sebagai para pendidik serta calon pendidik PAUD tentang bagaimana cara menangani serta menghadapi anak yang tidak mau antri saat berbaris.
    Anak tidak mau antri saat melakukan kegiatan merupakan hal yang wajar, namun sebagai orangtua dan juga pendidik sangat penting mengajarkan anak untuk sabar mengantri sejak dini sebagai bekal pembiasaan dikehidupan mendatang.
    Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak usia dini tidak mau antri saat berbaris, diantaranya :
    1. Belum memahami konsep sabar
    2. Perasaan bosan, merasa menunggu terlalu lama sangat tidak nyaman
    3. Kurangnya konsistensi aturan, baik dirumah maupun sekolah
    4. Faktor emosional, anak merasa emosi, cemas, sehingga harus mendahului teman karena persaingan
    5. Kurangnya keteladanan dari orang sekitar, orangtua, keluarga maupun guru tidak memberi contoh bahkan tidak pernah menjelaskan tentang bersabar menunggu giliran
    Dan lain sebagainya.
    Di tempat saya mengajar, saat antri berbaris anak-anak juga saling berebut untuk selalu berada pada barisan paling depan, ada juga yang berebut antara posisi baris anak laki-laki dan perempuan.
    Maka saya buatkan jadwal agar kegiatan berbaris berjalan dengan baik.
    Misalkan : Hari Senin yang jalan duluan anak laki-laki, Hari Selasa gantian anak perempuan
    Saya buatkan list urutan juga nama anak yg memimpin barisan, agar tidak ada lagi momen rebutan ingin memimpin barisan semuanya.
    Tidak lupa saya beri penjelasan pada anak-anak tentang pentingnya mengantri dan belajar sabar dalam kehidupan sehari-hari.
    Terimakasih

Komentar