53 Comments

Sinopsis

Pada program ini diperlihatkan upaya guru dalamm mengatasi permasalahan anak yang tidak mau ikut antri dalam barisan. Upaya yang dilakukan guru tersebut adalah dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada anak dengan sabar agar ia mau bergantian posisi dengan teman-temannya, mendekati anak yang tidak mau antri berbaris, memegang pundak anak yang bermasalah, kemudian mengelus kepalanya, Jika anak tetap tidak mau, guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris dengan anak, guru memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan untuk anak.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Menegakkan disiplin bagi anak sejak usia dini.

Kelemahan: Membuka, pembelajaran kurang begitu tampak.

Kekuatan: Penggunaan pendekatan, strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran sudah baik..

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, dengan kurikulum yang berlaku sudah sesuai.

Kesan Umum

Deskripsi: Anak X (gemuk) sudah mau antri saat berbaris, setelah diberi penguatan guru, dengan senyuman dan tangan ditepukkan pada tangan anak (tos). Sebelumnya dia berada pada barisan terakhir, kemudia pindah ke barisan paling depan tanpa sepengetahuan guru. Perilaku antecedent, semua guru pada saat yang bersamaan disibukkan menata anak-anak lain untuk berbaris. Perilaku target semua anak berbaris sesuai dengan urutannya. Perilaku yang diharapkan salah satu guru berada di depan menghadap barisan, sehingga semua anak terpantau.

Dra. Titik Setyowati, M.Pd.

Secara umum tayangan video ini sudah menunjukkan keadaan asli yang terjadi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cukup menarik dan merupakan permasalahan yang bisa ditemui oleh para guru. Namun solusi yang ditawarkan sepertinya terlalu sederhana dan sangat mudah dilakukan.

Seorang guru bisa dengan cepat membujuk murid yang tidak mau antri jika penyebabnya diketahui.

Meskipun penyebab permasalahan kurang disinggung, penonton masih bisa mendapatkan manfaat dari tayangan video ini.

Wing Hanyom Sari

53 Replies to “Anak tidak mau antri saat berbaris

  1. Assalamu’alaykum wr wb
    Nama : Anita Sari
    NIM : 877880551

    Menurut saya setelah melihat video anak yang tidak mau antri saat berbaris, itu adalah hal yang wajar karena anak usia dini masih dalam tahap belajar tentang aturan dan pengendalian diri.

    Saya menyikapinya dengan cara yang positif dan tidak langsung memarahi anak. Saya akan mendekati anak, lalu memberikan contoh cara antri yang benar dengan bahasa sederhana. Misalnya, saya ajak anak untuk melihat teman-temannya yang sudah tertib, kemudian saya beri motivasi seperti “ayo kita berdiri rapi supaya bisa masuk kelas bersama-sama.”

    Selain itu, saya juga bisa membuat kegiatan antri menjadi lebih menyenangkan, misalnya dengan bernyanyi atau bermain sambil menunggu giliran. Dengan begitu, anak lebih tertarik untuk mengikuti aturan tanpa merasa dipaksa.

    Dari kejadian tersebut, saya belajar bahwa anak perlu dibimbing dengan sabar, diberi contoh secara langsung, dan dibiasakan secara bertahap agar mereka bisa memahami pentingnya disiplin dan kerjasama.

    Terima kasih
    Wassalamu’alaykum wr wb

  2. Nama : Aulia Riby Al KAyisy
    NIM : 858997448

    Izin menanggapi video diatas
    Dengan menonton video penjelasan ini sangat membantu saya dalam hal menertibkan kedisiplinan pada anak usia dini, memang benar disiplin harus ditegakkan dari usia dini supaya bila anak itu besar tidak semaunya sendiri.
    Menurut saya, memang pada umumnya anak usia dini masih memiliki sifat “semua milikku” dan “aku harus selalu didepan” sebagai pendidik yang baik dan sabar kita harus memberikan pengertian seperti yang ada pada video di atas dan memberikan apresiasi terhadap pemahamannya. Seperti pada video pendidik memberikan apresiasi berupa tos supaya anak tidak merasa disalahkan atau diintimidasi. Meskipun karakteristik dan kesiapan anak berbeda-beda tapi dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih cara seperti ini bisa kita lakukan untuk memberi pemahaman pada anak.

    Sekian Tanggapan dari saya mengenai video tersebut Terimakasih.

  3. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu
    Nama: A. Fitriani
    NIM : 858482379
    UPBJJ : Samarinda

    Alhamdulliah saya mendapatkan pembelajaran dengan menonton vidio diatas yaitu kesabaran dan solusi menghadapi anak yang tdk mau antri berbaris.
    seperti yang dilakukan Guru tersebut menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi anak yang belum mau antri berbaris. Alih-alih memarahi, beliau memilih pendekatan yang lembut dan penuh pengertian, sehingga anak merasa aman dan tidak tertekan. Sikap seperti ini sangat penting karena membantu anak belajar disiplin secara bertahap tanpa merasa takut. Kesabaran guru tidak hanya mencerminkan profesionalisme, tetapi juga kepedulian yang tulus terhadap perkembangan karakter anak.
    terinakasih
    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

  4. Setelah menyimak tayangan video “Anak Tidak Mau Antri Saat Berbaris”, saya memahami bahwa perilaku anak yang tidak mau antre adalah hal yang sering terjadi pada anak usia dini karena anak masih berada pada tahap ingin didahulukan, belum sabar menunggu giliran, dan masih belajar mematuhi aturan sosial. Dalam video tersebut guru menunjukkan sikap yang sangat baik, yaitu tidak memarahi anak, tidak menggunakan kekerasan, tetapi memilih mendekati anak dengan sabar, memberi pengertian, serta memberikan sentuhan kasih sayang agar anak merasa aman. Pendekatan seperti ini sangat sesuai dengan pembelajaran sosial emosional anak usia dini karena anak lebih mudah menerima arahan ketika dibimbing dengan kelembutan.
    Dari tayangan tersebut saya juga belajar bahwa menanamkan disiplin tidak dapat dilakukan secara instan. Anak membutuhkan pembiasaan yang berulang, aturan yang konsisten, dan apresiasi ketika berhasil menaati aturan. Kebiasaan antre sebenarnya bukan hanya tentang berdiri rapi, tetapi juga melatih kesabaran.

  5. Sebagai sesama pendidik yang sehari-hari juga menghadapi dinamika mengelola kelompok belajar dengan 11 anak didik, menghadapi anak yang menolak rutinitas seperti mengantre memang membutuhkan kesabaran ekstra dan taktik pedagogik yang responsif.

    Berikut adalah analisis saya terkait pendekatan guru tersebut dari kacamata Pendidikan Anak Usia Dini:

    1. Apresiasi terhadap Pendekatan yang Responsif dan Humanis
    Langkah guru tersebut sangat sejalan dengan prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP). Guru tidak menggunakan otoritasnya untuk memaksa atau menghukum, melainkan menggunakan pendekatan yang humanis, yaitu:
    a. Sentuhan Fisik yang Menenangkan: Tindakan mendekati anak, memegang pundak, dan mengelus kepala adalah bentuk komunikasi non-verbal yang sangat kuat. Pada anak usia dini, sentuhan afirmatif ini membantu menurunkan tingkat stres (meregulasi emosi) dan memberikan rasa aman (secure attachment) sehingga anak lebih siap untuk mendengarkan arahan.
    b. Kesabaran dan Pengarahan: Memberikan pengertian tentang mengapa kita harus bergantian adalah langkah penting dalam membangun penalaran moral anak, bukan sekadar menuntut kepatuhan buta.

    2. Membangun Kemandirian melalui Kesepakatan (Problem Solving)
    a. Langkah guru membuat “kesepakatan jadwal posisi baris” ketika anak tetap menolak adalah strategi negosiasi yang luar biasa cerdas.
    b. Menghargai Suara Anak: Ini menunjukkan bahwa guru menghargai ego dan eksistensi anak. Anak usia 5-6 tahun sedang dalam fase ingin diakui otonominya.
    c. Solusi Win-Win: Dengan membuat kesepakatan (misalnya, “Hari ini kamu baris di belakang, besok kamu boleh di depan ya”), anak belajar tentang konsep keadilan, kompromi, dan pemecahan masalah (problem solving).

    3. Kekuatan Positive Reinforcement
    Memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan saat anak akhirnya mau mengantre adalah penerapan modifikasi perilaku yang sangat tepat. Positive reinforcement ini akan menguatkan perilaku baik tersebut, sehingga anak menyadari bahwa ia mendapatkan perhatian yang menyenangkan dari gurunya justru ketika ia bersedia bekerja sama, bukan saat ia memberontak.

Komentar