93 Comments

Sinopsis

Program ini menceritakan tentang kejujuran pada anak usia dini. Dalam pembelajaran guru bercerita tentang anak yang jujur menggunakan buku cerita bergambar. Pada akhir cerita guru menanyakan pada siswa, siapa-siapa saja tokoh dalam cerita tersebut, isi akhir program guru menyimpulkan tentang anak yang jujur sehingga melalui cerita, tentang kejujuran, secara tidak langsung guru telah menanamkan kejujuran pada peserta didiknya

Drs. Sukiniarti, M.Pd.

  1. Cara guru membuka biasa pada umumnya, baik membacakan cerita, memberikan respon pada bacaan
  2. Strategi yang di gunakan cukup baik, bermain drama memerankantokoh2 di dalam buku cerita itu, dan akan lebih mengena ketika anakdilibatkan dalam cerita itu, sehingga pembelajaran tentang kejujuran lebih tepat sasaran.
  3. Ini bisa dilakukan untuk anak usia dini 4-6 tahun melalui
  4. Jika disesuaikan pada kurikulun K13 saat ini adanya tingkat pencapaian perkembangan anak usia 4-6 tahun. Atau yang sesuai dengankemampuan anak.

Evanigustiningtyas

93 Replies to “Menenamkan Kejujuran Anak Melalui Cerita Moral”

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Nama : Iis Permatasari
    NIM : 859939463

    Setelah menyimak video “Menanamkan Kejujuran Anak Melalui Cerita Moral”, menurut saya kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru cukup menarik dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Guru menggunakan metode bercerita dengan buku bergambar untuk mengenalkan nilai kejujuran kepada anak. Menurut saya, cara ini cukup tepat karena anak usia dini lebih mudah memahami suatu nilai melalui cerita, gambar dan contoh yang konkret.
    Hal yang menarik dari video tersebut adalah guru tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak anak berinteraksi melalui pertanyaan tentang tokoh dan isi cerita. Kegiatan tersebut dapat membantu anak mengingat kembali cerita sekaligus melatih kemampuan berbicara dan menyampaikan pendapat.
    Video ini memberikan contoh bahwa metode bercerita dapat menjadi salah satu cara yang menyenangkan untuk mengenalkan nilai kejujuran kepada anak usia dini.

    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  2. Nama : Yulia Fransiska
    NIM : 856352938

    Setelah menyimak video tersebut, saya sebagai mahasiswa PGPAUD sekaligus guru PAUD memahami bahwa nilai kejujuran dapat dikenalkan melalui kegiatan sederhana seperti bercerita. Menurut saya, cerita moral membuat anak lebih mudah memahami nilai kejujuran karena disampaikan melalui tokoh dan situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.

    Dalam praktiknya, saya dapat menggunakan gambar atau boneka serta mengajak anak berdiskusi setelah cerita. Nilai kejujuran juga perlu dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari dan didukung oleh keteladanan guru. Dari video ini, saya belajar bahwa pembentukan karakter anak membutuhkan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan menyenangkan.

    Sekian tanggapan saya, terimakasih 🙂

  3. Menurut saya, metode bercerita menggunakan buku bergambar merupakan cara yang menarik untuk menanamkan nilai kejujuran pada anak usia dini. Anak biasanya lebih mudah memahami suatu nilai melalui cerita dan tokoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Pertanyaan yang diberikan guru setelah cerita juga dapat membantu mengetahui pemahaman anak sekaligus melatih kemampuan anak dalam mengingat dan menyampaikan kembali isi cerita.
    Saya setuju dengan cara guru memberikan kesimpulan tentang pentingnya bersikap jujur. Dengan dilakukan secara berulang melalui kegiatan yang menyenangkan, anak dapat memahami bahwa berkata dan berperilaku jujur merupakan kebiasaan yang baik. Menurut saya, keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari juga penting agar nilai kejujuran yang disampaikan melalui cerita dapat diterapkan oleh anak.

  4. Nama : Alini Yoshi Amelinda
    NIM : 877691625
    UPBJJ-UT : Purwokerto

    Izin menanggapi video tersebut.
    Analisis :
    Dari video tersebut, saya melihat guru mengajarkan kejujuran kepada anak melalui cerita moral dengan bantuan buku bergambar. Menurut saya, cara ini cukup menarik karena anak bisa belajar tentang perilaku jujur melalui cerita yang sederhana dan mudah dipahami. Setelah cerita selesai, guru juga mengajak anak menjawab pertanyaan tentang isi cerita, sehingga anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga ikut berpikir dan menyampaikan pendapatnya.
    Kegiatan bercerita seperti ini bisa membantu anak mengenal contoh perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga dapat menghubungkan isi cerita dengan pengalaman anak, misalnya ketika menemukan barang milik teman atau saat mengakui kesalahan. Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui arti kejujuran, tetapi juga mulai belajar menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.

    Refleksi :
    Setelah melihat video ini, saya belajar bahwa cerita moral bisa menjadi salah satu cara yang menyenangkan untuk mengenalkan kejujuran kepada anak. Saya sendiri terkadang juga menggunakan cerita saat mengajar di kelas. Melalui cerita, anak lebih mudah diajak ngobrol dan memahami contoh perilaku baik.
    Ke depannya, saya ingin lebih sering menggunakan cerita yang berkaitan dengan kejujuran dan menghubungkannya dengan kegiatan sehari-hari anak. Setelah bercerita, saya bisa mengajak anak berdiskusi dengan pertanyaan sederhana agar mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memahami dan mencoba menerapkan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Nama: Siti Syafira Lestari
    NIM: 877822908
    UPBJJ: Bogor

    Menanggapi Video tersebut
    MENANAMKAN KEJUJURAN ANAK MELALUI CERITA MORAL

    Refleksi Pembelajaran

    Setelah menyimak video tentang menanamkan nilai kejujuran pada anak usia dini, saya memahami bahwa pendidikan karakter, khususnya kejujuran, perlu ditanamkan sejak anak masih usia dini. Kejujuran tidak cukup hanya dengan memberitahu anak bahwa berbohong itu tidak baik, tetapi anak juga perlu memahami alasan mengapa harus berkata jujur dan dibiasakan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Hal yang menarik bagi saya dalam video tersebut adalah penggunaan metode bercerita. Guru memberikan cerita tentang Salihah yang tidak sengaja memecahkan gelas kemudian berani mengakui kesalahannya. Setelah cerita selesai, guru tidak langsung memberikan kesimpulan, tetapi mengajak anak melakukan tanya jawab mengenai tokoh, kejadian, dan alasan Salihah berkata jujur. Menurut saya, cara seperti ini sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang lebih mudah memahami suatu nilai melalui cerita dan contoh yang konkret.

    Jika dikaitkan dengan teori pendidikan karakter, penanaman nilai kejujuran dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu knowing the goodness, loving the goodness, dan acting the goodness. Anak terlebih dahulu mengetahui dan memahami bahwa jujur merupakan perbuatan baik, kemudian tumbuh rasa suka dan menghargai kejujuran, dan selanjutnya anak diharapkan mampu menerapkan kejujuran dalam perilakunya.

    Saya juga menyadari bahwa peran guru sangat penting dalam memberikan keteladanan dan pembiasaan. Ketika guru sering memberikan cerita yang mengandung pesan moral, kemudian mengajak anak berdiskusi dan memberikan penguatan, anak akan lebih mudah memahami nilai yang ingin ditanamkan. Namun, menurut saya, pembiasaan tersebut juga perlu dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah, agar kejujuran tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran tetapi benar-benar menjadi kebiasaan anak.

    Dari video ini, saya mendapatkan pemahaman bahwa pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Guru perlu memberikan contoh, cerita, pertanyaan, pembiasaan, dan penguatan secara berulang. Sebagai pendidik anak usia dini, saya merasa bahwa kegiatan sederhana seperti bercerita ternyata dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk membantu anak mengenal, menyukai, dan membiasakan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply