62 Comments

Sinopsis

Program ini menceritakan tentang kejujuran pada anak usia dini. Dalam pembelajaran guru bercerita tentang anak yang jujur menggunakan buku cerita bergambar. Pada akhir cerita guru menanyakan pada siswa, siapa-siapa saja tokoh dalam cerita tersebut, isi akhir program guru menyimpulkan tentang anak yang jujur sehingga melalui cerita, tentang kejujuran, secara tidak langsung guru telah menanamkan kejujuran pada peserta didiknya

Drs. Sukiniarti, M.Pd.

  1. Cara guru membuka biasa pada umumnya, baik membacakan cerita, memberikan respon pada bacaan
  2. Strategi yang di gunakan cukup baik, bermain drama memerankantokoh2 di dalam buku cerita itu, dan akan lebih mengena ketika anakdilibatkan dalam cerita itu, sehingga pembelajaran tentang kejujuran lebih tepat sasaran.
  3. Ini bisa dilakukan untuk anak usia dini 4-6 tahun melalui
  4. Jika disesuaikan pada kurikulun K13 saat ini adanya tingkat pencapaian perkembangan anak usia 4-6 tahun. Atau yang sesuai dengankemampuan anak.

Evanigustiningtyas

62 Replies to “Menenamkan Kejujuran Anak Melalui Cerita Moral”

  1. Assalamualaikum

    Nama : Dede mulyanah
    Nim : 860250882

    Menurut saya, vidio ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa nilai kejujuran dapat dikenalkan kepada anak melalui cerita moral yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka. Anak lebih mudah memahami arti jujur melalui tokoh dan kejadian dalam cerita dari pada hanya memberikan nasihat.
    guru juga dapat mengajak anak berdiskusi setelah bercerita, misalnya dengan menanyakan apa yang dilakukan tokoh, mana perbuatan yang benar, dan bagaimana perasaan kita ketika berkata jujur. Degan cara menyenangkan dan dilakukan secara berulang, anak diharapkan dapat memahami serta menerapkan sikap jujur dalam kehidupan sehari – hari.

  2. Nama: Linda Seruni
    NIM: 877687972
    Refleksi video:
    Pada video tersebut guru mengenalkan tentang nilai kejujuran melalui metode bercerita menggunakan buku bergambar. Isi cerita menyajikan tokoh anak yang dihadapkan pada dilema moral yaitu mengakui kesalahannya setelah menjatuhkan gelas ibunya.
    Selama bercerita, guru mengatur intonasi suara dan mimik wajah, Guru mengajak anak mendiskusikan pesan moral cerita, mengulas kembali (recalling) akibat dari kebohongan, memberikan penguatan positif (applause dan pujian), serta diakhiri dengan doa penutup dan salam.
    Pada video tersebut, menunjukkan:
    – Metode bercerita (storytelling) sangat efektif untuk menyampaikan pesan moral abstrak (seperti kejujuran) menjadi hal yang konkret dan imajinatif bagi anak.
    – Penggunaan buku cerita besar (big book) bergambar membantu meningkatkan konsentrasi, imajinasi, serta keterampilan bahasa anak.
    – Pengembangan Ranah Sosial-Emosional: Melalui kisah moral, anak dilatih untuk membangun empati memahami bagaimana perasaan orang lain ketika dibohongi atau ketika diketaati kejujurannya.
    Menurut saya, video tersebut akan lebih bagus jika guru memberikan kesempatan diskusi terkait pengalaman pribadi anak yang mencerminkan sikap kejujuran, sehingga anak semakin memahami tentang nilai-nilai kejujuran yang dekat kehidupan sehari-sehari mereka.
    Pada video tersebut, membuktikan bahwa penanaman karakter dan nilai kejujuran pada anak usia dini membutuhkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Metode bercerita yang dikombinasikan dengan media visual yang tepat serta ruang diskusi terbuka mampu menginternalisasi nilai-nilai moral secara efektif tanpa membuat anak merasa digurui.

  3. Nama : Kiki Solihati
    NIM : 877819838

    Menurut saya, video mengenai menanamkan kejujuran anak melalui cerita moral ini memberikan contoh dan sangat bermanfaat untuk pembelajaran anak usia dini, Melalui ceita dan gambar, anak lebih dapat dan mudah memahami arti kejujuran dan membedakan perilaku yang jujur dan tidak jujur,

    menurut saya, nilai kejujuran juga perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar anak tidak hanya memahami saja, akan tetapi bisa menerapkan terbiasa berperilaku jujur, agar mendapatkan kepercayaan dari oranglain, orang-orang akan lebih percaya pada anak yang berkata dan bertindak jujur. membentuk karakter yang baik dan membuat hati lebih tenang. Pembelajaran tentang sikap jujur juga tidak hanya belajar dari sekolah saja tetapi perlu dukungan dan kerjasama dengan oragtua.

    Terimakasih wassalamualaikum

  4. Setelah menyimak video pembelajaran tentang menanamkan kejujuran pada anak usia dini melalui cerita moral, saya merasa video ini memberikan gambaran yang sangat aplikatif dan menyentuh. Sebagai calon pendidik atau orang tua, saya diajak untuk melihat bahwa nilai kejujuran tidak perlu diajarkan dengan cara yang menggurui, tetapi justru bisa ditanamkan secara alami melalui media yang dekat dengan dunia anak, yaitu cerita.

    Dari video ini, saya memahami bahwa pendekatan yang digunakan guru sangat tepat. Guru tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga menggunakan buku cerita bergambar yang mampu menarik perhatian anak secara visual. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran anak usia dini yang menekankan pada pengalaman konkret dan menyenangkan. Saya melihat bahwa interaksi dua arah yang dibangun guru, seperti mengajukan pertanyaan tentang tokoh dalam cerita, sangat penting untuk melatih daya ingat dan pemahaman anak. Ini bukan sekadar kegiatan mendengarkan pasif, tetapi sudah menjadi proses berpikir aktif.

    Yang paling saya garis bawahi dari video ini adalah bagaimana pesan moral tentang kejujuran disampaikan tanpa terkesan memaksa. Anak-anak diajak untuk memahami, merasakan, dan kemudian diharapkan mampu melakukan kebaikan dalam kehidupan nyata. Saya menyadari bahwa kejujuran adalah fondasi karakter yang sangat krusial, terutama di tengah kondisi saat ini di mana ketidakjujuran sering dianggap hal yang lumrah. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua menjadi sangat sentral untuk memulai penanaman nilai ini sejak dini.

    Sebagai refleksi pribadi, saya merasa bahwa metode bercerita seperti yang ditampilkan dalam video ini bisa saya adaptasi dalam kegiatan pembelajaran atau pendampingan anak sehari-hari. Saya juga terinspirasi untuk tidak berhenti pada kegiatan bercerita saja. Menurut saya, akan lebih optimal jika setelah cerita, kita bisa menambahkan kegiatan lanjutan seperti bermain peran atau memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, agar pemahaman anak tentang kejujuran semakin kuat dan mengendap menjadi kebiasaan.

    Secara keseluruhan, video ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi menjadi cermin bagi saya bahwa pendidikan karakter, khususnya kejujuran, bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang penuh makna. Saya berkomitmen untuk terus belajar dan menerapkan pendekatan yang kreatif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, agar nilai-nilai kebaikan dapat tertanam dengan kokoh sejak dini.

Leave a Reply