Sinopsis
Pada program video ini diperlihatkan upaya guru untuk memberikan toleransi kepada orangtua untuk berada di kelas selama masa orientasi. Guru bekerjasama dengan orangtua untuk memotivasi anak dari agar mandiri dan tidak menangis saat ditinggalkan orangtuanya. Guru mempersilahkan orangtua untuk melepas anak secara bertahap. Kemudian guru mendekati anak dengan penuh kelembutan lalu memberikan sentuhan, belaian dan pelukan sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan guru. Selain itu guru juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan. Guru dapat juga mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Sebaiknya guru tetap berada dalam jangkauan anak sehingga manakala dibutuhkan guru siap memberikan pelayanan/perhatian kepada anak, guru memberikan ”reward” kepada anak yang sudah bisa belajar mandiri di kelas agar memotivasi anak lain untuk mendapatkan reward sehingga berusaha untuk tidak menangis lagi.
Dwi Astuti
-
-
Secara keseluruhan tayangan dalam video tersebut lebih banyak peragaan/ilustrasi yang dilakukan guru dan anak didik saja. Untuk dialog hanya sedikit yang dapat didengar selebihnya hanya peragaan/ilustrasi. Kegiatan yang diberikan guru dapat memperkenalkan anak didik baru kepada semua teman-temanya dengan cara kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama ketika didalam kelas seperti bermain bersama, membuat roti dan menutup dengan membuat kereta panjang. Semua itu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku.
-
105 Replies to “Anak Belum Mandiri”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Berdasarkan hasil pengamatan pada video, terlihat beberapa anak masih menunjukkan perilaku kurang mandiri dalam kegiatan sehari-hari di kelas. Misalnya, anak masih meminta bantuan guru untuk melakukan kegiatan sederhana seperti memakai sepatu, merapikan alat bermain, atau menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, beberapa anak juga terlihat menunggu instruksi guru tanpa berinisiatif untuk memulai kegiatan sendiri.
Pentingnya komunikasi antara guru dan orang tua murid menentukan keberhasilan membuat anak mandiri.Guru harus menyambut anak dengan senang gembira dan perlahan -lahan bisa membuat anak nyaman ,sehingga membuat anak merasa aman . Dengan melepas anak secara bertahap,akan membuat anak merasa senang dan nyaman,tidak merasa terbuang atau terabaikan.Jika anak merasa aman dan nyaman maka dapat menjadi mandiri serta bisa mengikuti kegiatan di sekolah.
Nama : Ana Puji Lestari
NIM : 857875286
UPJJ : UT Surakarta
Refleksi terhadap video diatas :
Menurut pendapat saya Guru sudah menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Hal ini terlihat dari pemberian masa adaptasi (orientasi) dengan memperbolehkan orang tua mendampingi anak. Pendekatan ini sesuai dengan kebutuhan emosional anak usia dini yang masih memerlukan rasa aman sebelum mampu mandiri.
Dalam vidoo tersebut guru sudah menggunakan beberapa strategi yang tepat, antara lain:
– Pendekatan emosional melalui sentuhan, pelukan, dan komunikasi lembut
– Pengalihan perhatian anak ke kegiatan yang menyenangkan
– Pengenalan teman sebaya untuk membantu proses sosialisasi
– Pemberian kesempatan bertahap kepada orang tua untuk melepas anak
Strategi ini menunjukkan bahwa guru memahami karakteristik anak usia dini yang mudah terdistraksi dan membutuhkan pendekatan yang hangat.
Guru juga sudah berperan aktif sebagai pendamping dan pemberi rasa aman. Guru tidak memaksa anak, tetapi mendampingi secara perlahan hingga anak siap. Keberadaan guru yang selalu dalam jangkauan anak juga mencerminkan sikap responsif terhadap kebutuhan anak.
Kolaborasi antara guru dan orang tua terlihat jelas. Guru tidak langsung memisahkan anak dari orang tua, melainkan memberikan toleransi dan mengatur proses perpisahan secara bertahap. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan anak terhadap lingkungan sekolah.
Pemberian reward kepada anak yang sudah mandiri dapat menjadi motivasi bagi anak lain. Namun, perlu diperhatikan agar reward tidak berlebihan dan tetap menekankan motivasi intrinsik, seperti pujian verbal atau penguatan positif.
Secara umum, praktik pembelajaran dalam video tersebut sudah baik karena berpusat pada anak, memperhatikan kebutuhan emosional, serta melibatkan orang tua secara aktif. Guru menunjukkan kompetensi pedagogik yang baik dalam membantu anak beradaptasi dan membangun kemandirian secara bertahap. Jazakumullah untuk prmbuat video semoga ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah untuk semua yang berperan memberikan pemahaman bagi kami yang masih belajar.
Nama : Darminih
NIM : 860093003
Video diatas menunjukkan strategi yang baik untuk membantu anak beradaptasi saat awal masuk sekolah. Guru memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mendampingi anak secara bertahap, sehingga anak merasa lebih aman saat harus berpisah dengan orang tua. Pendekatan yang lembut dari guru, seperti memberikan sentuhan dan pelukan, menciptakan rasa nyaman dan kelekatan emosional yang kuat pada anak. Upaya guru untuk mengalihkan perhatian anak dan mengenalkan teman baru juga membantu anak merasa lebih tenang dan tidak cemas. Pemberian reward kepada anak yang mandiri juga memotivasi anak lain agar mereka berani dan mau mencoba hal baru. Strategi ini sangat sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini, yang menekankan pentingnya kenyamanan dan keamanan dalam proses belajar.
Nama : Dea Siti Rohmah
NIM : 860034128
Pengarahkan beberapa cara untuk menghadapi anak yang belum mandiri terutama anak yang belum mau jauh dari orangtuanya ketika belajar sudah sangat sesuai dengan perkembangan anak.
Dalam video tersebut sudah menggunakan beberapa strategi yang tepat dalam menghadapi perilaku anak yang belum mandiri, seperti guru harus bekerjasama dengan orangtua dalam memotivasi anaknya dalam belajar, orangtua juga belajar meninggalkan anaknya ketika belajar secara bertahap, dan guru harus mampu memberikan rasa nyaman dan aman kepada anak, guru juga harus melakukan pendekatan yang empatik dengan memberikan motivasi, menanyakan pemahaman anak terhadap tugas, memberikan rasa nyaman agar anak merasa berani melakukan hal sendiri, dan menawarkan alternatif aktivitas yang sesuai dengan minat anak.
Strategi ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri dan memunculkan sikap mandiri dan berani anak melalui dukungan positif dan pilihan yang relevan.