Sinopsis
Pada program video ini diperlihatkan upaya guru untuk memberikan toleransi kepada orangtua untuk berada di kelas selama masa orientasi. Guru bekerjasama dengan orangtua untuk memotivasi anak dari agar mandiri dan tidak menangis saat ditinggalkan orangtuanya. Guru mempersilahkan orangtua untuk melepas anak secara bertahap. Kemudian guru mendekati anak dengan penuh kelembutan lalu memberikan sentuhan, belaian dan pelukan sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan guru. Selain itu guru juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan. Guru dapat juga mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Sebaiknya guru tetap berada dalam jangkauan anak sehingga manakala dibutuhkan guru siap memberikan pelayanan/perhatian kepada anak, guru memberikan ”reward” kepada anak yang sudah bisa belajar mandiri di kelas agar memotivasi anak lain untuk mendapatkan reward sehingga berusaha untuk tidak menangis lagi.
Dwi Astuti
-
-
Secara keseluruhan tayangan dalam video tersebut lebih banyak peragaan/ilustrasi yang dilakukan guru dan anak didik saja. Untuk dialog hanya sedikit yang dapat didengar selebihnya hanya peragaan/ilustrasi. Kegiatan yang diberikan guru dapat memperkenalkan anak didik baru kepada semua teman-temanya dengan cara kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama ketika didalam kelas seperti bermain bersama, membuat roti dan menutup dengan membuat kereta panjang. Semua itu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku.
-
105 Replies to “Anak Belum Mandiri”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Nama : Sinta Fitriani
NIM : 860136317
UPBJJ : Surabaya
Dari penjelasan video ini dalam pendekatan emosional berbasis teori kelekatan (attachment theory), relevan untuk PAUD Indonesia di mana transisi sekolah sering jadi isu rutin. Keunggulannya: praktis, bertahap, dan kolaboratif dengan orang tua, mendukung perkembangan sosial-emosional anak sesuai Kurikulum Merdeka. Kelemahan: kurang spesifik soal durasi reward atau indikator kemandirian (misalnya, checklist harian). Secara keseluruhan, efektif untuk guru pemula, tapi bisa diperkaya contoh aktivitas bermain sensorik untuk percepatan adaptasi.
Nama : Rika Januarita
NIM : 825987748
Menurut pendapat saya terhadap vidio diatas
pendekatan yang dilakukan guru sudah sangat tepat karena mengedepankan aspek emosional anak, kolaborasi dengan orang tua, serta strategi bertahap dalam membangun kemandirian. Hal ini efektif untuk membantu anak beradaptasi di lingkungan sekolah tanpa tekanan.
Nama :sofi safnita andila
Nim :855900639
Setelah melihat vidio di atas,guru menyadari bahwa anak belum mandiri masih bergantung pada bantuan guru dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seperti memakai sepatu, merapikan barang, atau menyelesaikan tugas sederhana. Hal ini bisa di sebabkan oleh kurangnya kesempatan yang di berikan kepada anak untuk mencoba sendiri dan guru harus sabar terhadap anak yang belum mandiri supaya anak nyaman berada di dekat guru dan guru harus memahami bahwa kemandirian anak tidak muncul secara cepat, tetapi perlu di latihan secara bertahap dan anak membutuhkan bimbingan guru dan orang tua dengan dorongan yang positif terhadap anak yang belum mandiri untuk melakukan sesuatu sendiri.
Sebagai guru dan orang tua, kita perlu lebih sabar dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri, memberikan pujian atas usaha anak juga penting agar anak merasa dihargai dan termotivasi.
Dari vidio diatas sebagai guru kita harus belajar bahwa membangun kemandirian anak merupakan proses yang membutuhkan kerja sama antara orang tua dan guru.
Nama : RINI PINGKY PUSPA NANDA
NIM : 858199297
UPJJ : UT Palangkaraya
Melihat upaya guru dalam video tersebut, saya merefleksikan beberapa hal penting terkait peran guru saat masa orientasi
1. Sikap Toleransi dan Kolaborasi dengan Orang Tua
Guru tidak memaksa anak langsung berpisah. Memberi ruang bagi orang tua di kelas pada awal masuk sekolah adalah bentuk toleransi yang tepat. Ini menunjukkan guru memahami teori separation anxiety pada anak usia dini. Pelepasan bertahap membuat transisi anak dari rumah ke sekolah jadi lebih aman secara emosional. Kolaborasi ini juga membangun kepercayaan orang tua kepada guru.
2. Pendekatan Afektif Sentuhan, Belaian, dan Pelukan
Saat guru mendekati anak dengan lembut, menyentuh, dan memeluk, guru sedang membangun kelekatan. Bagi anak, guru jadi figur pengganti sementara orang tua. Sentuhan yang tulus membuat anak merasa diterima dan aman. Ini sesuai prinsip DAP bahwa perkembangan sosio-emosional adalah fondasi belajar anak usia dini.
3. Strategi Pengalihan dan Sosialisasi
Guru tidak membiarkan anak larut dalam tangis. Mengalihkan perhatian lewat kegiatan menarik dan mengenalkan teman yang sudah nyaman adalah strategi cerdas. Anak belajar bahwa sekolah itu menyenangkan, bukan tempat menakutkan. Teman sebaya yang pandai bersosialisasi juga bisa jadi role model bagi anak lain.
4. Kehadiran Guru yang Konsisten
Guru tetap berada dalam jangkauan anak memberi pesan “Ibu/Bapak Guru ada di sini untukmu”. Ini mengurangi kecemasan anak karena tahu ada orang dewasa yang siap membantu kapan saja. Rasa aman ini adalah syarat utama agar anak berani mengeksplorasi.
5. Pemberian Reward untuk Penguatan Positif
Memberi penghargaan pada anak yang sudah mandiri adalah bentuk positive reinforcement. Ini tidak hanya memotivasi anak tersebut, tapi juga memicu anak lain untuk meniru. Penting dicatat, reward tidak harus selalu benda. Pujian, stiker, atau tepuk tangan juga efektif dan mendidik anak bahwa mandiri itu membanggakan.
Video ini mengingatkan bahwa kunci masa orientasi adalah sabar, bertahap, dan penuh kasih. Tugas kita bukan memisahkan anak dari orang tua secara paksa, tapi mendampingi anak sampai ia percaya bahwa sekolah itu rumah kedua yang aman. Saya akan menerapkan pelepasan bertahap, membangun kelekatan emosional, dan menggunakan penguatan positif di TKN Pembina Batu Ampar. Sebab anak yang merasa aman akan lebih siap untuk bermain sambil belajar”dan mengembangkan seluruh aspek kecerdasannya. Terimakasih
Wajar jika anak TK belum mandiri pada usia 4-5 tahun karena mandiri itu keterampilan yang haris dilatih, tidak bisa langsung bisa. seperti vidio di atas anak yang belum mau di tinggal orang tua, menangis saat guru tidak menemaninya, dan belum mau berbagi. Adalah masalah sosial yang biasa anak-anak alami. Area otak untuk mandiri memang baru berkembang pesat pada usia 4-6 tahun. Untuk anak yang baru mau mengikuti sekilah harus beradaptasi di lingkungan baru butuh waktu 2 minggu – 2 bulan. Dengan begitu guru harus sering memberi tugas kecil berulang suapaya anak terbiasa, seperti piket hapus papan tulis, memimpin baris-berbaris, membagikan buku dan hal-hal kecil lainnya.
Tidak hanya disekolah, orang tua dirumah pun harus melatih anak. seperti memberi anak dua pilihan saat akan memakai sepatu, “mau pake sepatu yang warna merah atau biru?” misalnya, dengan begitu anak merasa memegang kendali.
Untuk mengajari anak TK yang baru masuk sekolah kuncinya pelan-pelan, aman, dan menyenangkan. Anak baru = dunia baru. Jadi untuk pendekatan pada anak baru berbeda dengan anak yang sudah satu semester.
Prinsip pendekatan anak TK baru:
1. 3A: Asuh-Asih-Asah. utamakam rasa aman dulu, baru belajar.
2. Bertahap, jangan mengajari anak langsung full day. Hari 1-3 cukup 1-2 jam saja.
3. konsisten, rutinitas yang sama setiap hari agar anak mudah untuk mengingat, “setelah ini harus kemana” (terarah).
Jadi saat anak menangis itu wajar. Target satu minggu bukan calistung tapi anak masuk kelas tanpa drama.