Sinopsis
Pada program video ini diperlihatkan upaya guru untuk memberikan toleransi kepada orangtua untuk berada di kelas selama masa orientasi. Guru bekerjasama dengan orangtua untuk memotivasi anak dari agar mandiri dan tidak menangis saat ditinggalkan orangtuanya. Guru mempersilahkan orangtua untuk melepas anak secara bertahap. Kemudian guru mendekati anak dengan penuh kelembutan lalu memberikan sentuhan, belaian dan pelukan sehingga anak merasa nyaman berada dekat dengan guru. Selain itu guru juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan berbagai kegiatan. Guru dapat juga mengenalkan anak dengan teman-temannya yang pandai bersosialisasi. Sebaiknya guru tetap berada dalam jangkauan anak sehingga manakala dibutuhkan guru siap memberikan pelayanan/perhatian kepada anak, guru memberikan ”reward” kepada anak yang sudah bisa belajar mandiri di kelas agar memotivasi anak lain untuk mendapatkan reward sehingga berusaha untuk tidak menangis lagi.
Dwi Astuti
-
-
Secara keseluruhan tayangan dalam video tersebut lebih banyak peragaan/ilustrasi yang dilakukan guru dan anak didik saja. Untuk dialog hanya sedikit yang dapat didengar selebihnya hanya peragaan/ilustrasi. Kegiatan yang diberikan guru dapat memperkenalkan anak didik baru kepada semua teman-temanya dengan cara kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama ketika didalam kelas seperti bermain bersama, membuat roti dan menutup dengan membuat kereta panjang. Semua itu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku.
-
102 Replies to “Anak Belum Mandiri”
Komentar Cancel reply
Anda harus login untuk memberikan komentar.
Nama: Siti Zulaika
NIM: 860193474
Menurut pengamatan saya, guru dalam video telah melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Hal ini tampak dari adanya masa orientasi, di mana anak diperbolehkan didampingi orang tua. Pendekatan tersebut sangat mendukung kebutuhan emosional anak usia dini yang masih membutuhkan rasa aman sebelum berani mandiri.
Guru menggunakan beberapa strategi yang tepat, di antaranya:
• Memberikan sentuhan hangat, pelukan, serta komunikasi yang lembut untuk menenangkan anak.
• Mengalihkan perhatian anak ke aktivitas yang menyenangkan agar lebih mudah beradaptasi.
• Mengenalkan teman sebaya sebagai sarana sosialisasi awal.
• Memberikan kesempatan secara bertahap bagi orang tua untuk melepas anak.
Langkah-langkah ini menunjukkan pemahaman guru terhadap karakteristik anak usia dini yang mudah teralihkan dan membutuhkan pendekatan penuh kasih. Guru berperan aktif sebagai pendamping yang memberi rasa aman, tidak memaksa anak, tetapi mendukung secara perlahan hingga anak siap. Kehadiran guru yang selalu dekat dengan anak mencerminkan sikap responsif terhadap kebutuhan mereka.
Kerja sama antara guru dan orang tua juga terlihat jelas. Guru tidak langsung memisahkan anak dari orang tua, melainkan memberi toleransi dan mengatur proses perpisahan secara bertahap. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya anak terhadap lingkungan sekolah.
Pemberian penghargaan bagi anak yang sudah berani mandiri bisa menjadi motivasi bagi teman-temannya. Namun, penghargaan sebaiknya tidak berlebihan dan tetap menekankan motivasi dari dalam diri anak, misalnya melalui pujian verbal atau penguatan positif.
Secara keseluruhan, praktik pembelajaran dalam video tersebut sudah baik karena berpusat pada anak, memperhatikan aspek emosional, serta melibatkan orang tua dalam proses adaptasi. Guru menunjukkan kemampuan pedagogik yang mendukung anak untuk beradaptasi dan belajar mandiri secara bertahap.
Video ini memberikan pemahaman bahwa kemandirian anak tidak bisa dibentuk secara instan. Anak membutuhkan waktu, latihan, dan kesempatan untuk belajar dari pengalaman. Sebagai pendidik, penting untuk menahan diri agar tidak selalu membantu, melainkan memberi ruang bagi anak untuk berkembang dan percaya pada kemampuannya sendiri.
Assalamualaikum dan salam sejahtera. Menanggapi video PAUD9 tentang Anak Belum Mandiri, saya melihat bahwa akar permasalahannya seringkali bermula dari pola asuh di rumah yang terlalu melayani anak (overprotective). Langkah guru di video sudah sangat baik dengan bersikap tenang dan sabar mensejajarkan diri dengan anak.
Namun, menurut saya, sekolah perlu lebih tegas dalam menerapkan batas area antar-jemput agar orang tua tidak lagi menyuapi atau memakaikan sepatu anak di teras sekolah. Di kelas, guru bisa menerapkan metode scaffolding, yakni mencontohkan cara memakai sepatu/merapikan tas, lalu membiarkan anak mencoba sendiri secara perlahan, serta jangan lupa memberikan pujian/penguatan positif saat anak berhasil. Terima kasih.
NAMA : SISKA FERNIKA HULU
NIM : 860104858
Setelah menyaksikan vidio ” Anak Belum Mandiri”
Menurut saya, guru memberikan toleransi kepada orang tua untuk hadir di kelas merupakan bentuk scaffolding emosional yang sangat baik. Kemandirian pada anak usia dini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses transisi yang nyaman. Pelepasan secara bertahap mengurangi risiko trauma perpisahan dan membangun rasa percaya anak terhadap lingkungan sekolah.
Anak masih memerlukan pendampingan orang tua di dalam kelas sebagai bentuk rasa aman. Hal ini menunjukkan bahwa anak berada dalam fase adaptasi awal di mana kemandirian belum terbentuk sepenuhnya karena masih adanya ketergantungan emosional yang tinggi terhadap figur orang tua.
Pentingnya Pelepasan Secara Bertahap: Kemandirian anak tidak bisa dipaksakan secara instan. Diperlukan kerjasama antara orang tua dan guru untuk melakukan strategi pelepasan secara bertahap agar anak tidak merasa “dibuang”, melainkan merasa didukung untuk mencoba beraktivitas sendiri. Untuk mendorong kemandirian, anak yang belum mandiri perlu terus diperkenalkan dengan teman-teman yang sudah lebih mahir bersosialisasi dan dilibatkan dalam kegiatan menarik yang dapat mengalihkan fokusnya dari ketidakhadiran orang tua.
Pemberian Penguatan Positif (Reward): Bagi anak yang belum mandiri, melihat temannya mendapatkan apresiasi (reward) atas kemandiriannya dapat menjadi motivasi eksternal yang efektif untuk membantu mereka mengatasi rasa takut dan mulai mencoba belajar mandiri tanpa menangis.
Sinopsis ini menggambarkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari aspek psikologis (kenyamanan dan kasih sayang) hingga aspek sosial (interaksi teman sebaya).
Penanganan anak yang belum mandiri memang membutuhkan kesabaran ekstra dan kolaborasi yang solid antara pihak sekolah dan orang tua.
Terimakasih 🙏
Nama: Rahma Aulia Nuril Izza
Nim: 877697973
Berdasarkan video tersebut, terlihat seorang anak yang belum dapat membuka diri di lingkungan sekolah dan masih sangat bergantung pada kehadiran ibunya. Anak tampak belum siap berpisah, sehingga cenderung pasif, kurang berinteraksi, dan belum mau mengikuti kegiatan pembelajaran secara maksimal.
Hal yang menarik adalah bagaimana guru menghadapi kondisi tersebut dengan pendekatan yang lembut dan tidak memaksa. Guru tetap memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi, sambil perlahan mengajak anak terlibat dalam aktivitas sederhana. Sikap guru yang tenang dan sabar menjadi kunci dalam membantu anak merasa lebih aman di lingkungan baru.
Dalam menghadapi situasi ini, guru perlu membangun rasa percaya anak terlebih dahulu, misalnya dengan pendekatan personal, komunikasi yang hangat, serta menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Selain itu, kerjasama dengan orang tua juga penting agar proses transisi anak dari rumah ke sekolah dapat berjalan lebih mulus.
Dari refleksi ini, saya memahami bahwa setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda dalam bersosialisasi. Oleh karena itu, guru perlu memberikan pendampingan secara bertahap tanpa tekanan, sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan ritme dan kebutuhannya.