60 Comments

Sinopsis

Program video ini berisi gambaran umum mengenai permasalahan perkembangan moral-disiplin yang sering ditemukan pada anak usia dini pada saat proses belajar mengajar berlangsung yakni anak yang “ngobrol”. Upaya yang dapat dilakukan guru diantaranya adalah: mengadakan variasi permainan, misalnya permainan tepuk; memisahkan anak yang suka mengobrol ke dekat guru; memberikan reward pada akhir pembelajaran sehingga anak akan berusaha lebih baik lagi.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Tujuan penayangan video ini agar dapat bagaimana seorang Guru PAUD mengadapi kegiatan PBM, sebagai Moral disiplin yang sering ditemukan pada anak Usia Dini pada saat proses belajar mengajar berlangsung dengan baik, dan yang terlihat pada tayangan ini seorang anak yakini anak sedang “mengobrol “ (bercanda)

Saat mengajar atau menjelaskan guru berupaya untuk menjelaskan tentang binatang dan mengalikan dengan menggunakan Media gambar penggunaan media gambar sebaiknya dengan gambar media yang besar dan menggunakan Infocus PowerPoint. Jadi untuk mengalihkan anak ngobrol akan melihat gambar binatang sambil guru menjelaskan tentang binatang

Kesesuaian tingkat kependidikan  Sangat Baik

Untuk perkembangan anak didik sesuai dengan yang disampaikan guru untuk bercerita tentang Binatang karena,untuk anak usia dini sangat menarik dengan Kurikulum sesuai dengan AUD.

Kesan umum. Untuk video penayangan sangat baik hanya pada back Graud music jangan terlalu keras jadi tidak menganggu saat mel;ihat tayangan flim tsb.

Untung Laksana Budi

Dalam video tersebut ditampilkan cara bu guru membuka, mengisi pembelajaran serta menutup pembelajaran sesuai dengan pembelajaran anak.

  1. Strategi, pendekatan, metode dan media ditampilkan dalam video tersebut. Namun dalam evaluasi pembelajaran tidak ditampilkan.
  2. Untuk kesesuaian sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
  3. Kesesuaian dengan kerikulum yang berlaku yaitu kurikulum 2013.

Rahmawati

60 Replies to “Anak Ngobrol di Kelas Saat PBM

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Bismillah.
    Mohon ijin untuk menanggapi video pembelajaran di atas .
    perkenalkan saya :
    Nama : Sri Rahayu
    NIM : 877800862
    UPBJJ : Jakarta

    anak yang mengobrol saat kegiatan belajar mengajar (KBM) perilaku tersebut merupakan hal yang cukup wajar terjadi, terutama pada anak usia dini. Pada tahap perkembangan ini, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan kontrol diri yang masih berkembang, sehingga mereka cenderung mudah teralihkan dan ingin berinteraksi dengan teman sebayanya.

    Namun demikian, perilaku mengobrol saat guru sedang menjelaskan tetap perlu diarahkan agar tidak mengganggu proses pembelajaran. Guru memiliki peran penting dalam mengelola kelas dengan menciptakan suasana belajar yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik anak. Jika pembelajaran terlalu monoton, anak akan lebih mudah bosan dan mencari stimulasi lain, seperti berbicara dengan temannya.

    saya sependapat dengan upaya yang dilakukan ibu guru di atas yaitu :
    1. Menghentikan kegiatan cerita / pembelajaran sejenak untuk menenangkan suasana.
    2. Pisahkan anak yang mengobrol dengan anak yang sedang belajar.
    3. Posisikan anak yang mengobrol di dekat guru.
    4. libatkan anak dalam kegiatan bercerita / proses belajar mengajar di samping guru .
    5. Tekankan agar anak tidak mengulangi kejadian yang sama.
    6. Berikan Reward jika anak dapat memperbaiki perilakunya.

    Selain itu, pendekatan yang digunakan guru sebaiknya bersifat positif dan tidak langsung memarahi anak. Guru dapat memberikan penguatan berupa aturan kelas yang disepakati bersama, menggunakan metode pembelajaran aktif seperti bermain sambil belajar, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara pada waktu yang tepat. Dengan demikian, kebutuhan anak untuk berkomunikasi tetap terpenuhi tanpa mengganggu jalannya KBM.

    Kesimpulannya, anak yang mengobrol saat KBM bukan semata-mata menunjukkan perilaku negatif, tetapi merupakan bagian dari proses perkembangan sosialnya. Tugas guru adalah mengarahkan perilaku tersebut secara bijak agar menjadi bagian dari pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

    Terima Kasih

  2. Izin menanggapi video diatas

    Nama: Khalimatus Sa’diyah
    NIM: 860011786

    Saya sependapat dengan Kak Dwi Lestari bahwa kondisi anak mengobrol saat guru menjelaskan merupakan fenomena umum di lembaga PAUD. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti media pembelajaran yang kurang menarik, penyampaian guru yang kurang dekat dengan dunia anak, serta durasi penjelasan yang terlalu panjang tanpa variasi. Rentang fokus anak usia dini rata-rata hanya 15 menit, sehingga saat jenuh, mereka mengalihkan perhatian dengan mengobrol atau aktivitas lain yang dianggap menyenangkan.
    Guru perlu memahami karakteristik unik setiap anak dan menerapkan strategi yang tepat. Media pembelajaran sebaiknya dibuat bervariatif dan menarik, bahkan menggunakan hal-hal unik yang asing bagi anak. Misalnya, dalam kegiatan bercerita guru tidak hanya bergantung pada buku, tetapi juga dapat menggunakan boneka tangan, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan intonasi suara yang bervariasi agar cerita terasa lebih hidup dan menarik. Dengan cara ini, anak akan lebih penasaran, lebih fokus, dan lebih mudah memahami isi cerita yang disampaikan.
    Untuk mengatasi dan mencegah perilaku ini, saya setuju dengan strategi dalam video, yaitu:
    1. Menghentikan sementara kegiatan mengajar untuk mengembalikan perhatian
    2. Memisahkan anak yang mengobrol dari teman lainnya
    3. Menempatkan anak tersebut di dekat guru untuk pengawasan lebih intensif
    4. Melibatkan semua anak secara aktif dalam proses belajar
    5. Memberikan reward sederhana seperti stempel bintang sebagai penguatan positif
    Kesimpulan: Setiap lembaga PAUD pada dasarnya menggunakan strategi serupa, namun keberhasilannya tergantung pada penyesuaian guru terhadap karakteristik anak didiknya masing-masing. Terima kasih atas video pembelajaran GPO yang sangat bermanfaat dan kaya ilmu.

  3. Izin menanggapi video diatas

    Nama: Khalimatus Sa’diyah
    NIM: 860011786

    Saya sependapat dengan Kak Dwi Lestari bahwa kondisi anak mengobrol saat guru menjelaskan merupakan fenomena umum di lembaga PAUD. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti media pembelajaran yang kurang menarik, penyampaian guru yang kurang dekat dengan dunia anak, serta durasi penjelasan yang terlalu panjang tanpa variasi. Rentang fokus anak usia dini rata-rata hanya 15 menit, sehingga saat jenuh, mereka mengalihkan perhatian dengan mengobrol atau aktivitas lain yang dianggap menyenangkan.

    Guru perlu memahami karakteristik unik setiap anak dan menerapkan strategi yang tepat. Media pembelajaran sebaiknya dibuat bervariatif dan menarik, bahkan menggunakan hal-hal unik yang asing bagi anak. Misalnya, dalam kegiatan bercerita guru tidak hanya bergantung pada buku, tetapi juga dapat menggunakan boneka tangan, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan intonasi suara yang bervariasi agar cerita terasa lebih hidup dan menarik. Dengan cara ini, anak akan lebih penasaran, lebih fokus, dan lebih mudah memahami isi cerita yang disampaikan.

    Untuk mengatasi dan mencegah perilaku ini, saya setuju dengan strategi dalam video, yaitu:
    1. Menghentikan sementara kegiatan mengajar untuk mengembalikan perhatian
    2. Memisahkan anak yang mengobrol dari teman lainnya
    3. Menempatkan anak tersebut di dekat guru untuk pengawasan lebih intensif
    4. Melibatkan semua anak secara aktif dalam proses belajar
    5. Memberikan reward sederhana seperti stempel bintang sebagai penguatan positif

    Kesimpulan: Setiap lembaga PAUD pada dasarnya menggunakan strategi serupa, namun keberhasilannya tergantung pada penyesuaian guru terhadap karakteristik anak didiknya masing-masing. Terima kasih atas video pembelajaran GPO yang sangat bermanfaat dan kaya ilmu.

  4. **Berikut tanggapan saya terhadap video pembelajaran**

    Nama: Nur Iman Pambudi Saputro
    NIM: 877960738

    Berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap tayangan video pembelajaran tersebut, terlihat bahwa perilaku anak yang berbicara atau mengobrol saat guru menyampaikan materi merupakan fenomena yang cukup umum terjadi dalam konteks pendidikan anak usia dini. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik perkembangan anak yang masih berada pada tahap eksplorasi, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta kecenderungan untuk berinteraksi secara sosial dengan teman sebaya. Selain itu, keterbatasan rentang perhatian anak usia dini juga menjadi faktor penting yang memengaruhi tingkat fokus mereka selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

    Dalam hal ini, peran guru menjadi sangat krusial sebagai fasilitator sekaligus pengelola kelas. Guru dituntut untuk mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Penggunaan metode yang variatif, seperti bercerita, bermain peran, bernyanyi, serta pemanfaatan media visual yang menarik, dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar.

    Lebih lanjut, guru juga perlu memperhatikan pendekatan komunikasi yang digunakan, seperti intonasi suara yang dinamis, ekspresi wajah yang ekspresif, serta bahasa tubuh yang mendukung penyampaian materi. Hal-hal tersebut terbukti mampu menarik perhatian anak dan membantu mereka memahami materi dengan lebih baik.

    Adapun beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi perilaku anak yang cenderung mengobrol selama pembelajaran antara lain:

    1. Menggunakan kegiatan selingan (ice breaking) yang singkat namun menarik untuk mengembalikan fokus anak.
    2. Mengatur posisi duduk anak agar lebih kondusif dan memudahkan pengawasan.
    3. Melibatkan anak secara aktif melalui pertanyaan, diskusi sederhana, atau kegiatan partisipatif.
    4. Menyampaikan materi dalam durasi yang lebih singkat dan disertai variasi aktivitas.
    5. Memberikan penguatan positif berupa pujian atau penghargaan sederhana guna meningkatkan motivasi belajar anak.

    Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa perilaku anak yang mengobrol tidak sepenuhnya mencerminkan sikap negatif, melainkan bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional mereka.

    Menurut pandangan pribadi saya, situasi tersebut justru dapat menjadi bahan refleksi bagi guru untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran yang digunakan, apakah sudah cukup menarik dan sesuai dengan karakteristik anak.

    Selain itu, saya juga berpendapat bahwa keberhasilan pembelajaran di PAUD tidak hanya diukur dari kondisi kelas yang tenang, tetapi dari seberapa besar anak terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajar itu sendiri. Oleh karena itu, guru perlu menyikapi kondisi tersebut secara bijak dan profesional dengan menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan berpusat pada anak.

    Terima kasih.

  5. Berikut tanggapan saya terhadap video pembelajaran

    Nama: Nur Iman Pambudi Saputro
    NIM: 877960738

    Berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap tayangan video pembelajaran tersebut, terlihat bahwa perilaku anak yang berbicara atau mengobrol saat guru menyampaikan materi merupakan fenomena yang cukup umum terjadi dalam konteks pendidikan anak usia dini. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik perkembangan anak yang masih berada pada tahap eksplorasi, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta kecenderungan untuk berinteraksi secara sosial dengan teman sebaya. Selain itu, keterbatasan rentang perhatian anak usia dini juga menjadi faktor penting yang memengaruhi tingkat fokus mereka selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

    Dalam hal ini, peran guru menjadi sangat krusial sebagai fasilitator sekaligus pengelola kelas. Guru dituntut untuk mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Penggunaan metode yang variatif, seperti bercerita, bermain peran, bernyanyi, serta pemanfaatan media visual yang menarik, dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar.

    Lebih lanjut, guru juga perlu memperhatikan pendekatan komunikasi yang digunakan, seperti intonasi suara yang dinamis, ekspresi wajah yang ekspresif, serta bahasa tubuh yang mendukung penyampaian materi. Hal-hal tersebut terbukti mampu menarik perhatian anak dan membantu mereka memahami materi dengan lebih baik.

    Adapun beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi perilaku anak yang cenderung mengobrol selama pembelajaran antara lain:

    1. Menggunakan kegiatan selingan (ice breaking) yang singkat namun menarik untuk mengembalikan fokus anak.
    2. Mengatur posisi duduk anak agar lebih kondusif dan memudahkan pengawasan.
    3. Melibatkan anak secara aktif melalui pertanyaan, diskusi sederhana, atau kegiatan partisipatif.
    4. Menyampaikan materi dalam durasi yang lebih singkat dan disertai variasi aktivitas.
    5. Memberikan penguatan positif berupa pujian atau penghargaan sederhana guna meningkatkan motivasi belajar anak.

    Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa perilaku anak yang mengobrol tidak sepenuhnya mencerminkan sikap negatif, melainkan bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional mereka.

    Menurut pandangan pribadi saya, situasi tersebut justru dapat menjadi bahan refleksi bagi guru untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran yang digunakan, apakah sudah cukup menarik dan sesuai dengan karakteristik anak.

    Selain itu, saya juga berpendapat bahwa keberhasilan pembelajaran di PAUD tidak hanya diukur dari kondisi kelas yang tenang, tetapi dari seberapa besar anak terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajar itu sendiri. Oleh karena itu, guru perlu menyikapi kondisi tersebut secara bijak dan profesional dengan menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan berpusat pada anak.

    Terima kasih.

Komentar