72 Comments

Sinopsis

Pada program ini diperlihatkan upaya guru dalamm mengatasi permasalahan anak yang tidak mau ikut antri dalam barisan. Upaya yang dilakukan guru tersebut adalah dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada anak dengan sabar agar ia mau bergantian posisi dengan teman-temannya, mendekati anak yang tidak mau antri berbaris, memegang pundak anak yang bermasalah, kemudian mengelus kepalanya, Jika anak tetap tidak mau, guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris dengan anak, guru memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan untuk anak.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Menegakkan disiplin bagi anak sejak usia dini.

Kelemahan: Membuka, pembelajaran kurang begitu tampak.

Kekuatan: Penggunaan pendekatan, strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran sudah baik..

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, dengan kurikulum yang berlaku sudah sesuai.

Kesan Umum

Deskripsi: Anak X (gemuk) sudah mau antri saat berbaris, setelah diberi penguatan guru, dengan senyuman dan tangan ditepukkan pada tangan anak (tos). Sebelumnya dia berada pada barisan terakhir, kemudia pindah ke barisan paling depan tanpa sepengetahuan guru. Perilaku antecedent, semua guru pada saat yang bersamaan disibukkan menata anak-anak lain untuk berbaris. Perilaku target semua anak berbaris sesuai dengan urutannya. Perilaku yang diharapkan salah satu guru berada di depan menghadap barisan, sehingga semua anak terpantau.

Dra. Titik Setyowati, M.Pd.

Secara umum tayangan video ini sudah menunjukkan keadaan asli yang terjadi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cukup menarik dan merupakan permasalahan yang bisa ditemui oleh para guru. Namun solusi yang ditawarkan sepertinya terlalu sederhana dan sangat mudah dilakukan.

Seorang guru bisa dengan cepat membujuk murid yang tidak mau antri jika penyebabnya diketahui.

Meskipun penyebab permasalahan kurang disinggung, penonton masih bisa mendapatkan manfaat dari tayangan video ini.

Wing Hanyom Sari

72 Replies to “Anak tidak mau antri saat berbaris

  1. Nama : Wahyu Dewi Utami
    NIM : 857888884
    Prodi PGPAUD
    UT Surakarta

    Mohon ijin memberikan tanggapan tentang Video “Anak tidak mau antri saat berbaris”. Dalam video tersebut terlihat seorang anak yang ingin menjadi pemimpin didepan dan tidak mau berurutan seperti temannya. cara guru sangat bijak dengan menegur anak tersebut secara lembut dan halus serta memberikan pengertian kepada anak agar bergantian dengan teman ketika mendapatkan urutan paling depan. anak tersebut merespon dengan baik dan mematuhi perintah guru sehingga diberikan rewards tepuk tangan oleh teman-temannya.

    Hal ini sesuai dengan Teori Piaget-Egosentrisme menurutnya anak usia dini masih egosentris bukan egois/nakal,tapi anak belum bisa melihat sudut pandang orang lain. ketika seorang anak ingin didepan maka harus didepan dan tidak memikirkan teman yang lain juga mempunyai keinginan yang sama. Juga Teori Perkembangan Sosial-Emosional oleh Erikson usia 3-6 tahun berada pada tahap inisiatif. Anak ingin berinisiatif jadi paling depan, jika anak dihambat tanpa diberi penjelasan anak akan menjadi rendah diri. Maka guru bukan memarahi dan memberikan pengertian tentang aturan yang harus disepakati.

    Jadi perilaku tidak mau antri merupakan ciri perkembangan kognitif yang normal bukan kenakalan karena anak belum bisa berpikir logis bahwa antri adalah adil. Antri adalah pelajaran tentang sabar,empati dan pengendalian diri yang merupakan fondasi kecerdasan emosional. Agar anak mampu tertib berbaris Perlu adanya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam memberikan stimulasi yang konsisten melalui pembiasaan,keteladanan dan permainan yang menyenangkan.

    Referensi : BMP PGTK 2501 Pembelajaran Terpadu Universitas Terbuka

    Demikian tanggapan dari saya mohon bimbingan dan koreksinya.
    Terima Kasih

  2. Dalam video terlihat Guru yang sedang memberikan arahan, pendampingan, serta contoh secara langsung agar anak memahami pentingnya antre dan mengikuti aturan bersama.
    Menurut saya, pendekatan guru sudah tepat karena dilakukan dengan sabar, memberikan contoh, dan membiasakan anak secara bertahap, bukan dengan memaksa. Kegiatan antre juga dapat mengembangkan kemampuan sosial-emosional anak, seperti disiplin, kesabaran, menghargai teman, dan mampu menunggu giliran.

  3. Nama : Sapti Utami

    NIM: 877689478

    Prodi : PG PAUD

    UPBJJ :UT PURWOKERTO
    Izin menanggapi video ini.
    Tindakan guru mencerminkan manajemen kelas yang humanis dan konstruktif melalui pembentukan perilaku positif (behavior modification) tanpa hukuman (punishment). Penerapan ini sejalan dengan prinsip psikologi perkembangan dan teori belajar sosial usia dini.
    ​1. Kelebihan Pendekatan Guru
    ​Sentuhan Fisik & Co-Regulation: Mendekati, memegang pundak, dan mengelus kepala memberikan rasa aman (safe base) berdasarkan attachment theory, sehingga efektif menurunkan resistensi emosional anak sebelum diberi arahan.
    ​Pengarahan Sabar & Scaffolding: Membimbing anak melatih regulasi diri (self-regulation) dan pemahaman menunda kepuasan (delay of gratification), yang belum sepenuhnya berkembang pada anak usia dini.
    ​Kesepakatan Jadwal & Sense of Agency: Memberikan anak rasa kendali atas aturan untuk melatih fungsi eksekutif (perencanaan & pemecahan masalah) agar kepatuhan muncul dari kesadaran, bukan paksaan.
    ​Penguatan Positif (Positive Reinforcement): Pujian berupa tepuk tangan menerapkan operant conditioning (B.F. Skinner) untuk memperkuat kemungkinan perilaku tertib terulang di masa depan.
    ​2. Catatan Evaluasi & Saran Masukan
    ​Orientasi Motivasi (External Reward ke Intrinsic Motivation):
    Pujian langsung dan tepuk tangan sangat efektif sebagai penanda positif awal. Namun, penggunaan berlebihan berisiko membuat anak tergantung pada apresiasi eksternal.
    ​Saran: Secara bertahap alihkan fokus pujian pada proses dan persepsi emosi internal anak.
    ​Contoh instruksi: “Bagaimana rasanya bisa antre sampai selesai? Hebat ya, semuanya jadi berjalan lancar.”

  4. Nama : Alini Yoshi Amelinda
    NIM : 877691625
    UPBJJ-UT : Purwokerto

    Izin menanggapi video tersebut.
    Analisis :
    Dari video yang saya lihat, ada anak yang belum mau antre saat berbaris dan ingin berada di posisi paling depan. Guru menghadapi anak tersebut dengan sabar, kemudian memberikan pengertian supaya anak mau menunggu giliran. Guru juga membuat kesepakatan dengan anak agar kegiatan berbaris tetap berjalan dengan tertib. Menurut saya, cara guru sudah baik karena tidak langsung memarahi anak, tetapi memberikan arahan dengan cara yang lembut. Anak usia dini memang masih perlu dibiasakan untuk mengikuti aturan dan belajar menunggu giliran.

    Refleksi :
    Setelah melihat video ini, saya belajar bahwa mengajarkan anak untuk antre memang tidak selalu mudah dan membutuhkan kesabaran. Anak terkadang masih ingin mendapatkan apa yang diinginkannya terlebih dahulu, sehingga guru perlu memberikan arahan secara perlahan dan berulang.
    Dalam kegiatan di kelas, saya akan berusaha membiasakan anak untuk antre, misalnya saat berbaris, mencuci tangan, atau mengambil alat bermain. Saya juga akan memberikan penjelasan sederhana dan pujian ketika anak mau menunggu giliran. Menurut saya, pembiasaan seperti ini penting agar anak mulai memahami bahwa setiap teman memiliki giliran dan perlu saling menghargai.

Leave a Reply