74 Comments

Sinopsis

Pada program ini diperlihatkan upaya guru dalamm mengatasi permasalahan anak yang tidak mau ikut antri dalam barisan. Upaya yang dilakukan guru tersebut adalah dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada anak dengan sabar agar ia mau bergantian posisi dengan teman-temannya, mendekati anak yang tidak mau antri berbaris, memegang pundak anak yang bermasalah, kemudian mengelus kepalanya, Jika anak tetap tidak mau, guru membuat kesepakatan jadwal posisi baris dengan anak, guru memberikan pujian dalam bentuk tepuk tangan untuk anak.

Megawati Simanjuntak, SP., M.Si.

Menegakkan disiplin bagi anak sejak usia dini.

Kelemahan: Membuka, pembelajaran kurang begitu tampak.

Kekuatan: Penggunaan pendekatan, strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran sudah baik..

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, dengan kurikulum yang berlaku sudah sesuai.

Kesan Umum

Deskripsi: Anak X (gemuk) sudah mau antri saat berbaris, setelah diberi penguatan guru, dengan senyuman dan tangan ditepukkan pada tangan anak (tos). Sebelumnya dia berada pada barisan terakhir, kemudia pindah ke barisan paling depan tanpa sepengetahuan guru. Perilaku antecedent, semua guru pada saat yang bersamaan disibukkan menata anak-anak lain untuk berbaris. Perilaku target semua anak berbaris sesuai dengan urutannya. Perilaku yang diharapkan salah satu guru berada di depan menghadap barisan, sehingga semua anak terpantau.

Dra. Titik Setyowati, M.Pd.

Secara umum tayangan video ini sudah menunjukkan keadaan asli yang terjadi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cukup menarik dan merupakan permasalahan yang bisa ditemui oleh para guru. Namun solusi yang ditawarkan sepertinya terlalu sederhana dan sangat mudah dilakukan.

Seorang guru bisa dengan cepat membujuk murid yang tidak mau antri jika penyebabnya diketahui.

Meskipun penyebab permasalahan kurang disinggung, penonton masih bisa mendapatkan manfaat dari tayangan video ini.

Wing Hanyom Sari

74 Replies to “Anak tidak mau antri saat berbaris

  1. Nama : Elsa Nurmayanti
    NIM : 878167596
    Prodi : PGPAUD
    UT Jakarta
    ​Video pembelajaran ini memberikan gambaran yang sangat relevan dan komunikatif mengenai tantangan nyata yang kerap dihadapi para pendidik PAUD, yaitu ketika peserta didik mengalami kesulitan untuk tertib dan mau mengantri saat berbaris. ​Dalam contoh kasus yang ditunjukkan, terlihat salah satu anak merasa enggan untuk berbaris di belakang dan memaksakan diri ingin berada di barisan paling depan. Fenomena seperti ini merupakan hal yang alami pada anak usia dini, mengingat perkembangan ego serta pemahaman mereka tentang konsep antri dan keadilan yang masih dalam tahap pembentukan. Poin paling esensial dari materi yang disampaikan oleh pakar perkembangan anak pada video ini adalah penegakan disiplin tanpa melibatkan kekerasan fisik maupun verbal. Pendekatan positif yang dapat diterapkan oleh pendidik, yaitu menghampiri dan merangkul anak secara personal tanpa perlu memarahi atau memaksanya dengan kasar. Pendidik juga dapat memberikan pemahaman menggunakan bahasa yang mudah dicerna anak mengenai aturan berbaris. Membuat kesepakatan jadwal giliran posisi berbaris untuk hari berikutnya jika anak tetap bersikeras. Jangan lupa berikan pujian atau bentuk apresiasi seperti tepuk tangan bagi anak-anak yang telah tertib dan mematuhi aturan. ​Pendekatan edukatif dan persuasif seperti yang disimulasikan sangat efektif untuk membentuk karakter disiplin anak sejak usia dini secara berkelanjutan. Melalui cara-cara yang edukatif, anak tidak hanya sekadar patuh pada aturan secara terpaksa, melainkan belajar memahami nilai-nilai kesabaran, kesetaraan, dan penghargaan terhadap orang lain.

Leave a Reply