Sinopsis
Program ini menggambarkan seorang guru Taman Kanak-kanak yang sedang menangani anak yang tidak percaya diri atas hasil belajarnya. Tampak bahwa guru itu berupaya mendekati anak. Guru memberikan penguatan dengan cara memotivasi anak, menanyakan kepada anak jika masih ragu atau tak mengerti atas tugasnya, memberikan motivasi pada kreativitas anak dengan cara meminta anak untuk melakukan pilihan aktivitas lain yang dapat dilakukan, memberikan saran untuk menggambar sesuatu yang disukai anak yang masih berhubungan dengan tema awal dan mengeksplorasi hal lain yang bisa dibuat terkait dengan tema menggambar yang sedang ditugaskan kepada anak.
Dwi Astuti
-
-
Dalam tayangan tersebut, kegiatan belajar mengajar dalam sebuah kelas sudah terlihat jelas. Strategi, pendekatan dan metode pembelajaran sudah bagus, guru aktif memberi motivasi dan stimulasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam melakukan sesuatu. Media yang dipergunakan sebaiknya lebih diperkaya. Dan di akhir pembelajaran, evaluasi perlu ditambahkan untuk lebih menumbuhkan rasa percaya diri anak anak, dengan memberikan kesempatan anak bercerita tentang hasil karya yang dibuatnya sendiri.
Harimurti
187 Replies to “Anak Tidak Percaya Diri”
Leave a Reply Cancel reply
You must be logged in to post a comment.
Assalamualaikum wr.wb
Nama : Oqita Mayang sari
Nim : 858333671
Prodi : PG PAUD
Menurut saya tentang anak yang tidak percaya diri, kondisi ini merupakan bagian dari perkembangan sosial emosional anak yang perlu distimulasi, bukan untuk dilabeli.
>Anak yang tidak percaya diri biasanya menunjukkan ciri-ciri seperti mudah menyerah, tidak berani mengemukakan pendapat, menghindari interaksi, dan sangat tergantung pada guru atau teman. Penyebabnya bukan karena anak manja, melainkan karena beberapa faktor: pola asuh yang terlalu protektif, pengalaman sering disalahkan ketika salah, minimnya kesempatan untuk memilih dan memutuskan sendiri, serta lingkungan yang sering membandingkan.
>Menurut saya, cara terbaik menanganinya bukan dengan memaksa anak untuk berani, karena paksaan justru akan membuatnya semakin menutup diri. Yang perlu dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Berikan tugas-tugas kecil yang pasti berhasil, libatkan anak dalam keputusan sederhana seperti “mau pakai warna apa hari ini?”, berikan pujian yang spesifik pada prosesnya “kamu hebat sudah berani mencoba sendiri” bukan hanya pada hasilnya, dan hindari membandingkan dengan anak lain.
>Kepercayaan diri tidak tumbuh dalam sehari, tapi tumbuh dari rasa “aku diterima dan aku mampu”.
Terimakasih
Wassalamualaikum wr.wb
Assalammu’alaikum waromatullahi wabarokatuh, nama saya AYU PUJI LESTARI, dengan NIM 860186185, dari UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ PALEMBANG. Izin menanggapi video diatas.
Setelah melihat situasi video tersebut, saya memahami bahwa rasa tidak percaya diri pada anak dapat muncul ketika anak merasa ragu terhadap kemampuan atau hasil karyanya sendiri. Menurut saya, sikap guru dalam menghadapi kondisi tersebut sudah tepat karena guru tidak memaksa anak, tetapi berusaha mendekati dan memberikan rasa nyaman terlebih dahulu.
Guru memberikan motivasi dan penguatan dengan menanyakan kesulitan yang dialami anak serta memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Saya melihat bahwa cara seperti ini dapat membantu anak merasa dihargai dan lebih percaya terhadap kemampuan dirinya. Ketika anak diberikan kesempatan untuk menggambar sesuatu yang disukai tetapi tetap berkaitan dengan tema, anak menjadi lebih bebas dalam berekspresi dan tidak merasa takut salah.
Sebagai guru PAUD, saya juga menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru sebaiknya tidak terlalu menekankan hasil akhir, tetapi lebih menghargai proses dan usaha yang dilakukan anak. Pujian atau apresiasi sederhana seperti “Wah, kamu sudah berusaha dengan baik” atau “Coba ceritakan gambar yang kamu buat” dapat membuat anak merasa bahwa hasil karyanya memiliki nilai.
Dari video tersebut saya belajar bahwa menghadapi anak yang tidak percaya diri membutuhkan kesabaran, pendekatan yang lembut, dan dukungan yang positif. Guru bukan hanya membantu anak menyelesaikan tugas, tetapi juga membangun keberanian anak untuk mencoba, berkreasi, dan percaya pada kemampuannya sendiri.
Kesimpulan:
Anak yang tidak percaya diri membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Guru dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak melalui motivasi, pemberian pilihan, apresiasi terhadap usaha, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan begitu, anak akan merasa aman, dihargai, dan perlahan berani menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.
Demikian tanggapan dari saya, terima kasih.
Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Assalammu’alaikum waromatullahi wabarokatuh, nama saya AYU PUJI LESTARI, dengan NIM 860186185, dari UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ PALEMBANG. Izin menanggapi video diatas. Setelah melihat situasi video tersebut, saya memahami bahwa rasa tidak percaya diri pada anak dapat muncul ketika anak merasa ragu terhadap kemampuan atau hasil karyanya sendiri. Menurut saya, sikap guru dalam menghadapi kondisi tersebut sudah tepat karena guru tidak memaksa anak, tetapi berusaha mendekati dan memberikan rasa nyaman terlebih dahulu. Guru memberikan motivasi dan penguatan dengan menanyakan kesulitan yang dialami anak serta memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Saya melihat bahwa cara seperti ini dapat membantu anak merasa dihargai dan lebih percaya terhadap kemampuan dirinya. Ketika anak diberikan kesempatan untuk menggambar sesuatu yang disukai tetapi tetap berkaitan dengan tema, anak menjadi lebih bebas dalam berekspresi dan tidak merasa takut salah. Sebagai guru PAUD, saya juga menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru sebaiknya tidak terlalu menekankan hasil akhir, tetapi lebih menghargai proses dan usaha yang dilakukan anak. Pujian atau apresiasi sederhana seperti “Wah, kamu sudah berusaha dengan baik” atau “Coba ceritakan gambar yang kamu buat” dapat membuat anak merasa bahwa hasil karyanya memiliki nilai. Dari video tersebut saya belajar bahwa menghadapi anak yang tidak percaya diri membutuhkan kesabaran, pendekatan yang lembut, dan dukungan yang positif. Guru bukan hanya membantu anak menyelesaikan tugas, tetapi juga membangun keberanian anak untuk mencoba, berkreasi, dan percaya pada kemampuannya sendiri. Kesimpulan: Anak yang tidak percaya diri membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Guru dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak melalui motivasi, pemberian pilihan, apresiasi terhadap usaha, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan begitu, anak akan merasa aman, dihargai, dan perlahan berani menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Demikian tanggapan dari saya, terima kasih. Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Sebagai guru TK, saya menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan, perkembangan, dan kepercayaan diri yang berbeda. Ketika anak ragu terhadap hasil belajarnya, saya perlu memberikan pendekatan yang positif dengan menanyakan kesulitannya, memberikan motivasi, serta menghargai setiap usaha dan kreativitas yang ditunjukkan. Anak juga perlu diberi kebebasan untuk menggambar sesuatu yang disukainya agar lebih percaya diri dalam mengekspresikan ide. Pada anak yang kemampuan motorik halusnya belum berkembang optimal, saya tidak boleh menilai hasil coretan sebagai kesalahan, tetapi mengajak anak menceritakan makna dari gambarnya dan membantu menuliskan judulnya. Saya juga dapat mengajak anak menggambar di luar kelas agar suasana lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Melalui pendampingan yang sabar, apresiasi, dan kesempatan untuk berekspresi, saya berharap anak semakin percaya diri, kreatif, dan berani menunjukkan kemampuannya.
Saya juga melakukan hal yang sama terhadap anak didik saya yang masih kurang percaya diri dengan hasil belajarnya. Saya juga berusaha untuk terus memberikan pujian dan motivasi agar dia merasa dihargai dan lebih percaya diri dengan kemampuan yang dia miliki. Saya juga lebih sering melakukan pendekatan kepada anak yang kurang percaya diri, baik saat mengerjakan lembar kerja maupun ketika bermain. Misalnya, ketika ada anak yang kurang berbaur dengan teman-temannya dan lebih suka menyendiri sambil membaca buku, saya mencoba mendekati dan mengajaknya berbicara atau bermain bersama secara perlahan. Menurut saya, pendekatan yang dilakukan dengan sabar dapat membantu anak merasa lebih nyaman sehingga perlahan berani berinteraksi dan menunjukkan kemampuannya.
Saya juga melakukan hal yang sama terhadap anak didik saya yang masih kurang percaya diri dengan hasil belajarnya. Saya juga berusaha untuk terus memberikan pujian dan motivasi agar dia merasa dihargai dan lebih percaya diri dengan kemampuan yang dia miliki. Saya juga lebih sering melakukan pendekatan kepada anak yang kurang percaya diri, baik saat mengerjakan lembar kerja maupun ketika bermain. Misalnya, ketika ada anak yang kurang berbaur dengan teman-temannya dan lebih suka menyendiri sambil membaca buku, saya mencoba mendekati dan mengajaknya berbicara atau bermain bersama secara perlahan. Menurut saya, pendekatan yang dilakukan dengan sabar dapat membantu anak merasa lebih nyaman sehingga perlahan berani berinteraksi dan menunjukkan kemampuannya.